
Hanya helaan nafas panjang yang Adrian hembuskan jauh ke udara, ketika menyesap satu batang rokok putih yang cukup menjadi teman di kesendiriannya. "Agh ... Mir, kenapa kita harus berpisah lagi? Apakah aku harus pergi dari kota ini, karena tidak mungkin untuk berjuang lagi kali ini. Ditambah Renita sudah mengatakan bahwa kami masih bersama ..." Ia menundukkan wajahnya, kemudian merogoh kantong celananya untuk melihat siapa yang menghubungi.
Kening Adrian menaut seraya bergumam sendiri, "Tyas ...?"
Gegas Adrian meletakkan gawai miliknya ditelinga kanannya, sambil meletakkan batang rokok putih itu diasbak yang ada dihadapannya.
[Ya halo ...]
[Kamu dimana, Dri? Lusa aku berangkat ke Pekanbaru naik bis makmur. Bisa kita ketemu, untuk membahas tentang Miranda ...]
Kening Adrian mengerenyit, sesaat ia teringat akan kekasihnya yang hingga saat ini masih menjalin komunikasi baik, walau ada hati yang telah berubah untuk saat ini.
[Aku masih di Dumai. Mungkin lusa akan kembali ke Pekanbaru dan aku tidak bisa janji sama kamu. Ada apa ... bicara saja disini ...]
Lagi-lagi Adrian mendengar hembusan nafas penuh kesal dari Tyas diseberang sana.
[Hmm ... bagaimana hubunganmu dengan Miranda? Kenapa harus Dean yang menikah dengan janda gatal itu! Bukannya kamu memiliki hubungan spesial dengan putri kesayangan Anderson? Kenapa harus Dean, Adrian ...]
[Maaf Tyas, aku juga tidak tahu harus berkata apa sama kamu. Karena saat ini aku berada diambang perpisahan dengan Miranda. Mungkin juga, Dean akan tetap menjadi suami Miranda ...]
Entah mengapa, Tyas semakin tak karuan ketika mendengar penuturan Adrian yang sangat menyebalkan.
[Apa, apakah kamu tidak memiliki nyali lagi untuk mendekati Miranda lagi? Bukannya kamu tahu semua kelemahan Miranda, hmm ... Tolong Dri, jangan sampai janda gatal itu menghancurkan rumah tanggaku. Buat Miranda terikat dengan mu ...]
[Terikat bagaimana? Bisa kasih tahu aku bagaimana caranya agar Miranda terikat dengan aku ...]
__ADS_1
[Oke, buat anak itu hamil! Dan sebar semua berita itu, hingga terdengar ditelinga Dean. Aku mohon, Dri ... aku tidak ingin kehilangan Dean hanya karena wanita murahan itu ...]
Kembali Tyas mendengus dingin, kemudian melanjutkan ucapannya.
[Aku sangat mencintai Dean, Adrian. Jadi jika Miranda hamil, maka kamu harus mengakui bahwa anak itu merupakan hasil hubungan kalian ...]
[Ta-ta-tapi bagaimana jika Miranda hamil anak Dean, Tyas ...]
Terdengar suara tawa Tyas diseberang sana, membuat Adrian berpikir sejenak kemudian bertanya lagi.
[Tyas ... kamu tidak sedang menciptakan satu buah sinetron, kan ...]
[Diam mulut mu! Dean itu tidak akan bisa menghamili Miranda, karena hmm ... eee ... pokoknya tidak bisa! Titik ...]
Wajah gitaris tampan itu tampak semakin bingung, namun ia dapat menangkap bahwa sahabat semasa sekolahnya itu memiliki banyak rahasia.
Tyas semakin sulit untuk menjelaskan pada Adrian. Ia bersusah payah untuk mengalihkan pembicaraan mereka untuk menutupi semua rahasianya.
[Agh ... aku ini aparatur sipil negara Dri. Jadi tidak bisa semena-mena terhadap peraturan dan menggugat pasangan kita begitu saja! Pokoknya kamu harus menjauhkan Miranda dari Dean, apapun caranya ...]
Darah Adrian mendesir sesaat. Perasaannya jadi tak tenang, ia merasakan bahwa semua ini sudah banyak yang terlibat. Walau sesungguhnya kedua orang tua Miranda mengizinkan putri kesayangan mereka menjadi istri siri seorang Dean, namun alasan Tyas untuk menjauhkan sang kekasih dari Dean sungguh memiliki teka-teki yang membingungkan seraya bergumam dalam hati, "Apakah Dean tidak bisa memiliki anak, terus anak mereka yang baru lahir itu, anak siapa ...?"
Keduanya sama-sama mengakhiri panggilan teleponnya. Adrian memijat pelan pelipisnya kemudian menghela nafas berat. "Ogh Miranda, apakah mungkin aku merebut hatimu kembali? Sementara kamu sudah mengetahui siapa aku dari Renita. Lagian ngapain wanita itu masih berharap sama aku, padahal sudah berbulan-bulan aku tinggalin kamu dan anak kita. Dasar perempuan, selalu banyak tuntutan ..."
***
__ADS_1
"Ogh ... jadi kamu memiliki kekasih lain selain suami kamu, Mir?" Haris bertanya pada keponakan Monata untuk meyakinkan apa yang diceritakan wanita dihadapannya.
Miranda hanya menganggukkan kepalanya, ia mengusap wajahnya lembut, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. "Iya Om, tapi tolong jangan bicara sama Om Monata, karena beliau tidak tahu apa-apa. Aku takut Om Monata justru akan menghukum kami dan mengirim aku ke Singapura. Aku masih belum mau pulang Om!"
Sejak tadi Haris berusaha tenang mendengar penuturan Miranda tersebut. Sesungguhnya, ia tidak menyangka bahwa wanita muda itu berstatus janda saat ini dan justru menjadi istri simpanan salah seorang karyawan leasing.
Ruangan enam kali lima itu terasa sangat hening sejenak. Tidak ada suara setelah mendengar cerita Miranda yang ternyata menghadapi kehidupan tak mudah karena menghadapi cinta rumit nan unik untuk seorang wanita.
Kembali Haris meletakkan softdrink dihadapan Miranda, kemudian merubah posisi duduknya agar lebih santai. "Ya ... seharusnya kamu inget sama siapa terakhir kalinya berhubungan, suami atau pacar kamu, Mir. Tapi saran Om, hentikan main-main kamu. Karena akan berdampak pada kesehatan kamu, serta aib keluarga yang akan meninggalkan jejak seperti saat ini. Mungkin sekarang tidak terasa, Mir. Next time, jika kamu sering bergonta-ganti pasangan akan berdampak fatal pada kesehatan kamu."
Wajah cantik itu hanya tersenyum tipis, tak mampu berkata-kata lagi karena sulit untuk menarik nafas. Miranda masih terdiam seraya berkata jujur, "Aku janji Om, kalau anak ini merupakan benih dari Dean, aku akan menghentikan main-main aku. Aku juga sudah bosan hidup dalam kebebasan. Mau fokus kerja saja, apalagi karir aku masih panjang."
Seringai Haris kembali menguar, mengisyaratkan satu kelegaan karena berhasil menyampaikan pesan dengan caranya. "Kalau boleh tahu kamu sama siapa terakhir kalinya berhubungan?"
"Hmm ... musisi itu Om! Tapi waktu itu dia seperti memperkosa aku, jadi aku kurang yakin, ditambah pengaruh obat-obatan terlarangnya," jelas Miranda. "Seperti yang Om bilang tadi, aku inget waktu itu aku benar-benar melakukannya sama suami aku. Jika benar anak ini darah daging dia, aku akan memperjuangkan pernikahan ku dan dia akan bercerai dengan istri pertamanya!" Tegasnya tersenyum sumringah mengistirahatkan tatapan kemenangan.
Haris tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Miranda. Ia hanya bisa mengagumi keyakinan keponakan sahabatnya itu yang bangga menjadi istri kedua. "Berarti kamu layak untuk mendapatkan gelar pelakor kelas kakap, dong?"
"Ighs ... Om aneh deh," sungutnya, "Aku ini bukan pelakor, tapi meraih cinta sejati, Om. Walaupun suamiku itu tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna, tapi dia mampu membalas cinta aku!" Jawaban Miranda dengan bibir mengerucut maju.
"Tapi kamu harus memikirkan anak mereka, Miranda. Dimana-mana mana ada pelakor jadi juara! Pasti dengan berjalannya waktu, suami itu akan kembali ke istri pertamanya, bukan pelakor!" Haris menyela ucapan Miranda sebagai isyarat tidak setuju dengan ide gila itu.
Miranda hanya berpangku tangan, menghela nafas berat, kemudian menjawab singkat ucapan Haris, "Justru perempuan itu yang menjebak suamiku, Om! Jadi wajar aku menyelamatkan beliau, karena aku memang cinta mati. Jika tidak bisa menjadi yang pertama, kenapa tidak untuk menjadi yang kedua, daripada tidak dinikahi sama sekali! Benar tidak, Om?"
Hanya anggukan kecil yang dapat lakukan, sambil tersenyum tipis dan berkata pelan, "Oke ... semoga saja setelah kandungan kamu berjalan dua belas minggu, kita mendapatkan jawabannya. Yang penting lusa kamu Om tunggu di rumah sakit umum, ya? Karena alat-alat disini kurang lengkap!"
__ADS_1
"Oke Om, thank you so much!" Miranda memeluk Haris dan berlalu meninggalkan ruang pemeriksaan tersebut.