
Makan malam yang sangat menyebalkan bagi Lia, namun 'tidak' untuk kedua buah hati wanita dewasa berusia 43 tahun tersebut yang tengah bersenda gurau dengan Miranda. Ketiga orang itu justru tampak semakin kebingungan ketika mendengar cerita-cerita wanita cantik itu mengenai semua trend kecanggihan teknologi, game online terbaru, serta beberapa jenis judi yang terdaftar di Singapura dan dapat dimainkan di Indonesia.
Lia menautkan kedua alisnya, ketika mendengar Handri bertanya kepada Miranda tentang dunia game yang sangat ia gemari saat ini.
"Beneran keren deh, Ante Mira. Keren banget, bisa ketemu langsung sama pemilik game online yang booming saat ini!" Seru Handri dengan penuh semangat.
Akan tetapi, Miranda hanya tertawa kecil kemudian menjawab sambil memakan salad yang dibuatkan oleh Lia dengan penuh perasaan kesal. "Ante hanya mengenal saja, karena mereka memang kenal sama Papa. Palingan dulu kita nongkrong bareng saja, karena hmm ... eee ... sudahlah, pokoknya jangan main game ataupun judi online. Karena tidak akan menang, itu saja intinya!"
Kevin yang sudah berusia 17 tahun mengangguk membenarkan ucapan Miranda, kemudian berseru dengan tatapan mata berbinar-binar, "Ante nginap dimana, dirumah kami, kan?"
Cepat Miranda menggeleng, karena tidak ingin memberikan harapan kepada dua bocah remaja yang hanya berjarak satu tahun tersebut. "Tidak bisa, karena besok pagi Ante sudah masuk kantor. Jadi hari ini, Ante hanya mau memberikan ini kepada kalian berdua." Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan dua amplop merah yang berisikan uang pecahan seratus ribuan beberapa lembar. "Ini untuk jajan sekolah, inget ya ... jangan boros-boros! Karena cari uang itu susah!" Seringainya melirik kearah Dean yang tampak mengerenyitkan keningnya.
Melihat amplop merah bergambarkan kucing keberuntungan bagi Tionghoa, keduanya saling bersorak kegirangan, membuat Kevin langsung berkata dengan sangat sopan, "Wih ... makasih banget lho! Ante Tyas saja tidak pernah memberikan kami hadiah seperti ini. Ante selain cerdas, ternyata sangat baik. Sekali lagi terimakasih Ante Miranda. Rajin-rajin kesini, ya?"
Begitu juga dengan Handri yang langsung memeluk Miranda karena merasa nyaman untuk bercerita selain dengan sang mama. "Kami naik dulu keatas ya, Nte ... semoga Ante rajin-rajin datang kesini. Pokoknya kalau mau kesini, kasih tahu saja mau makan apa. Biar nanti Mama yang masakin buat Ante Miranda!" Titahnya menoleh kearah Lia yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak bujangnya.
__ADS_1
Melihat gelagat kedua anak bujang mereka, Adam hanya tersenyum tipis dan berdecak kagum melihat wawasan Miranda terhadap dunia judi juga bisa memberikan motivasi kepada anak laki-lakinya. "Hmm ... sepertinya Dean memang tidak salah pilih untuk menikahi wanita ini. Ternyata dia memang super duper tajir, sehingga mengenal pemilik judi online terbesar ..."
Menyadari bahwa sang suami mencuri pandang kearah Miranda, membuat Lia mencubit kecil paha sang suami yang berbalut kain sarung setelah melakukan ritual mereka sebagai umat muslim. Lia membulatkan kedua bola matanya, ketika sang suami menoleh kearahnya dengan tatapan penuh perasaan cemburu, "Tolong jaga sikap, ya! Jangan sampai Papa tertarik sama istri adikku. Ingat, dia itu lagi hamil, istri kedua lagi!" Geramnya mengalihkan pandangannya kearah Dean.
Mendengar celotehan istrinya, Adam justru tertawa kecil, sembari memperbaiki posisi duduknya yang sedikit gelisah karena menyaksikan sajian yang sangat menyejukkan pandangannya sebagai seorang pria. "Gila ... bening bener kakinya! Ngalahin kaki Lia ..." Ia bergumam sendiri, menelan ludahnya berkali-kali.
***
Malam semakin larut, cahaya bintang menyinari kota serumpun itu dengan kesejukan malam yang sedikit lebih sejuk dari biasanya. Mobil sedan milik Monata melaju dengan kecepatan sedang, membawa dua insan suami-istri itu kekediaman sang paman yang cukup jauh dari kediaman Keluarga Dean.
"Keponakan kamu seru-seru ya, Sayang? Kayak anak-anak Om Monata, pinter dan ramah. Tapi sayang mereka pada kuliah, jadi kita tidak bisa bertemu dengan mereka," tuturnya sambil mengikat rambutnya tinggi.
Kedua alis Miranda menaut seraya bertanya dengan nada sangat manja, "Kok kamu tidak percaya? Apa kamu tidak melihat perubahan pada perut aku, hmm? Atau jangan-jangan kamu belum siap dengan kehamilan aku?"
"Ogh ... bukan begitu Sayang. Aku sangat senang dengan semua kejutan yang kamu berikan hari ini, tapi ..." Tiba-tiba saja Dean mengehentikan kendaraannya diatas jembatan leton empat yang menjadi kebanggaan bagi kota melayu tersebut.
__ADS_1
Keduanya saling memperbaiki posisi duduk mereka, Miranda menatap Dean, begitu pula sebaliknya. Dua tangan itu saling bertautan, memijat ruas jari dan saling memuji.
"Aku senang kamu hamil, Sayang. Jujur saja, a-a-a-aku belum siap untuk berhadapan dengan Tyas! Sejak tadi dia menghubungi aku, tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku takut, Tyas akan menyakiti kamu, Mir." Dean menghela nafas berat dan mengecup lembut punggung tangan Miranda yang hanya bersandar di jok kemudi, sambil tersenyum menatapnya.
Sejujurnya Miranda juga masih meragukan benih siapa yang ada didalam rahimnya kini. Akan tetapi, ia memiliki keyakinan bahwa Dean lah ayah dari baby yang dikandungnya. "Hmm ... seberani apa Tyas sama aku, Dean? Apakah kamu tidak tahu siapa keluarga aku, hmm? Aku tidak meminta banyak, aku hanya butuh kamu selalu dekat dengan aku. Walau sesungguhnya ini tidak mungkin, karena aku merupakan istri kedua mu!"
Ucapan Miranda yang penuh penekanan, membuat Dean semakin merasa bersalah kepada istri keduanya, karena telah berani menikahi wanita yang ada dihadapannya itu secara siri. "Bagaimana hubunganmu dengan Adrian?"
Deg ...
Jantung Miranda seakan-akan memompa lebih cepat, ia tidak menyangka bahwa Dean akan membahas tentang Adrian, karena sejujurnya tidak mengingat gitaris itu sejak bertemu dengan wanita bernama Renita yang mengaku sebagai istri sah saat ini.
Cepat Miranda menepis semua pertanyaan Dean, ia mengusap wajahnya lembut, sambil meletakkan tangan sang suami diperutnya. "Aku sudah putus dengan Adrian. Kamu tahu sendiri, Om Monata tidak ingin melihat aku masih berhubungan dengan pria itu. Bagaimanapun, aku sangat mencintaimu, Dean."
Satu keberuntungan bagi Dean, dicintai oleh Miranda yang berasal dari keluarga terpandang. Keluarga kaya raya yang menjanjikan kemewahan serta harta berlimpah ruah dan takkan habis tujuh turunan.
__ADS_1
Akan tetapi, tiba-tiba saja Miranda menepuk keningnya seraya menggeram sendiri, "Aduh ... mati gue!" Ia menoleh kearah Dean, kemudian berkata lagi, "Aku melupakan makan malam sama Om Anas. Tadi aku meng'iya'kan ajakannya, aduh!"
Penjelasan Miranda membuat dada Dean sedikit berdegup kencang, ia dapat merasakan bagaimana wajah Anas besok pagi yang akan mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan. Ditambah kedatangan Tyas yang akan membuat dirinya semakin terlihat lebih gelisah dari sang istri kedua. "Siap-siap saja, aku di caci maki oleh Pak Anas karena tidak mengacuhkan pertanyaannya tadi siang. Mampus ...!"