Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Meninggalkan semua fasilitas keluarga


__ADS_3

Suasana pagi dihari minggu merupakan hari yang dinanti-nanti oleh Miranda, sebagai seorang karyawan Multy Strada walau putri kesayangan dari pemilik perusahaan, namun ia tidak pernah meminta lebih dari kedua orangtuanya.


Miranda sengaja melepas lelah dikamar hotel orangtuanya, dibandingkan kembali ke apartemen bersama Adrian karena enggan untuk melihat Dean dan Tyas yang tinggal bersebelahan dengan tempat tinggalnya.


Dengan sangat hati-hati, Tina menghampiri sang putri yang masih enggan membuka kedua bola mata indahnya, "Mir, bangun sayang."


Perlahan Miranda mengerjabkan matanya, mengusap lembut wajah cantiknya kemudian melirik kearah sang mama. "Hmm ... apaan sih, Ma. Biarin aku istirahat dulu, deh."


Tina hanya tersenyum tipis, melihat putri kesayangannya yang masih belum bisa menentukan sikap, "Ada Om Monata di ruang tamu. Heru juga nungguin kamu di restoran hotel dari pukul delapan tadi. Ayo ... siapa yang mau kamu temui dulu, atau mau suruh Heru naik keatas saja, hmm?"


Tampak Miranda menggeliatkan tubuhnya kemudian menghirup udara segar dan mengalihkan pandangannya kearah gorden kamar yang sudah terbuka lebar, "Aku mau nikah sama Dean, Ma. Nikah siri enggak masalah, deh. Yang pasti, aku menjadi istri dari pria yang sangat aku cintai, Ma."


Kening Tina mengerenyit masam, wajah cantik yang tampak awet muda itu seketika berubah. Bersusah payah dirinya menahan amarah, namun mampu ia redam karena menghargai adik suami yang tengah berbincang serius Anderson.


"Are you sure? A-a-a-apa kamu baik-baik saja, sayang? Kamu tahu, Dean Alexander itu sudah memiliki istri, Mir. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang diluar sana tentang pernikahan siri kamu!" Tina menggeleng, tidak menyangka akan mendapatkan pernyataan seperti ini dari putri satu-satunya.


"Ma!"


"Shut up, Mir! Kalau kamu memang mau menjadi istri kedua dari Dean, tinggalkan Multy Strada dan silahkan kamu pergi dari apartemen keluarga kita. Mama yakin, kamu tidak akan bisa menjadi apapun diluar sana, tanpa bantuan kami. Ingat Mir, masih ada Adrian, Heru, atau siapapun di dunia ini dan tidak harus mengganggu rumah tangga orang lain!" Tegas Tina, meninggalkan Miranda seorang diri dikamar mewah itu.   


"Ma! Aku mencintai, Dean Alexander!"


Seketika dada Tina terasa sesak, wajahnya merah padam, kedua tangannya seakan ingin merobek bibir mungil putrinya itu saat ini juga. Kedua bola mata nan sipit itu membulat besar. Ia menoleh kearah putri kesayangannya.


"What? Kamu mencintai seorang pria beristri, bagaimana jika seorang wanita lain yang merebut Anderson dari Mama, Miranda? Apa yang akan kamu lakukan, hah? Mama pikir setelah kamu menyelesaikan kuliah, bermain-main di Nuremberg bersama teman kuliahmu, otak mu akan menjadi lebih pintar. Ditambah setelah perceraianmu dengan suamimu! Tidak ada yang namanya mantan terindah, Miranda! Mantan itu hanya sampah, are you understand!!! Sampah yang harus dibuang pada tempatnya!" 


Entah mengapa, perasaan Miranda menjadi semakin kalut. Ia melawan Tina hanya untuk meminta restu agar bisa menjadi istri siri dari Dean Alexander. "Pikiran Mama terlalu cetek! Sejak kapan Mama memiliki pemikiran bahwa mantan itu sampah? Kenapa Mama justru meminta aku untuk terus bersama Adrian, hmm? Justru aku juga mantan musisi kebanggaan Mama!"

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, aku akan terus memperjuangkan hubungan ku dengan Dean, suka atau tidak suka dan aku akan meninggalkan semua fasilitas keluarga demi cinta pertamaku!" teriaknya dihadapan Tina yang masih berdiri didepan pintu kamar hotel.


Orang tua mana yang tidak akan murka, anak perempuan satu-satunya justru memilih menjadi istri kedua, hanya demi mempertahankan cinta pertama dan tega menghancurkan kebahagiaan rumah tangga orang lain.


Tina menghampiri Miranda yang masih berada diatas ranjang kamar mewah itu, cepat ia menarik selimut tebal yang masih menutupi tubuh janda cantik tersebut dengan penuh amarah juga kecewa.


"Pergi! Tinggalkan kami orang tua yang telah melahirkan mu ke dunia ini, karena aku tidak akan pernah melihatmu lagi! Aku jamin, Dean akan aku pecat dari Anugerah Finance dan kamu--," tunjuk Tina bergetar didepan wajah Miranda yang tidak menangis sama sekali.


Mendengar keributan antara dua wanita dalam hidup Anderson, membuat pria nan gagah tersebut, langsung menghampiri Tina dan Miranda yang masih berada dikamar tersebut.


Disusul langkah Monata yang tampak khawatir karena beberapa kali mendengar hardikan sang kakak ipar dari arah luar untuk keponakannya, Miranda.


Anderson melebarkan pintu kamar Miranda, kemudian menyentuh pundak Tina dan bertanya dengan nada lembut sambil menatap iris mata milik putri kesayangannya, "Ada apa, sayang? Apa yang terjadi, kenapa ka-ka-kamu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Miranda, hmm?


Tina menggeleng, kedua bola matanya masih menantang nyalang kearah Miranda, dengan dada turun naik ingin mencekik leher putri kesayangannya, "Jika Mama tahu bahwa kamu hidup akan selalu mengecewakan kami seperti ini, mungkin dari kecil aku orang pertama untuk mengakhiri hidupmu, Miranda!"


Sementara Anderson justru terdiam, wajahnya tampak kebingungan. Gegas ia meraih tubuh sang istri membawa wanita cantik tersebut dalam pelukannya. "Jaga ucapan mu, sayang. Bagaimanapun Miranda anak kamu, darah daging kita." Ia mengalihkan pandangannya kearah Miranda kemudian berkata lagi, "Cepat bersihkan badan mu, karena hari ini kamu harus berangkat ke Pekanbaru untuk menjalani test penempatan di badan narkotika di sana!"


Hati yang belum bersahabat, Miranda hanya mengangguk patuh dihadapan Anderson karena baru menyadari bahwa ia telah mengecewakan kedua orangtuanya. Ia semakin terpuruk, dirinya merasa kebahagiaan tidak pernah berpihak padanya untuk urusan percintaan.


Miranda benar-benar menelan pil pahit. Setelah semua diketahui oleh kedua orangtuanya dan memberi ruang pada sang putri untuk menjemput kebahagiaannya bersama pria yang ia cintai sejak bertahun-tahun.


Cinta yang tidak pernah pudar untuk Dean, membuat Miranda memilih pergi meninggalkan kota metropolitan dan keluar dari Multy Strada, sehingga akan membuat semua orang yang mendengar kabar tersebut memiliki banyak pertanyaan. 


"Mir, are you sure ... akan pindah ke Pekanbaru bersama Om Monata? Bu-bu-bukan kah ada baiknya kamu melupakan badan narkotika itu, Darling?" Heru menaruh curiga atas semua ucapan sang wanita pujaannya.


Miranda menundukkan wajahnya, kali ini yang ia pikirkan memilih untuk menata hidupnya menjadi lebih baik, dibandingkan harus terus berada di metropolitan, namun tidak nyaman karena tekanan dari sang mama yang seakan-akan memusuhinya.

__ADS_1


Wajah cantik janda kembang itu tersenyum sumringah, "Ya Ru, lo baik-baik di sini. Kapan you ada time, bisa berkunjung ke sana dan jangan sampai kita putus komunikasi. Mungkin gue harus menentukan sikap demi masa depan. Yah, pergi lebih baik dari pada harus berada di sini."


Heru semakin tidak mengerti apa yang ada dalam benak Miranda. Baru tadi malam acara peluncuran produk terbaru alat berat Multy Strada berhasil diperjual belikan dengan beberapa perusahaan besar, kini justru mendapat kabar bahwa janda cantik nan menjadi rebutan tiga pria dengan status berbeda itu akan meninggalkan perusahaan keluarga.


Tidak banyak yang diceritakan Miranda kepada Heru siang itu. Baginya tidak harus mengatakan apapun kepada orang lain, akan apa yang ia alami saat ini.


"Mir, apa lo yakin baik-baik saja? Oke, gue tidak akan bertanya sekarang, tapi gue akan terus menunggu kabar dari, lo! Good luck!"


Keduanya saling berpelukan dengan erat. Hati Miranda masih terasa sangat sakit karena perlakuan sang mama, akan tetapi keputusan ini ia ambil demi masa depannya bahagia bersama Dean.


"You too Heru. I love you." Miranda mengecup lembut bibir Heru dan langsung mengalihkan perhatiannya pada Monata yang sudah menunggunya sejak tadi di loby hotel keluarga.


Pandangan Heru pias seketika melihat Miranda berlalu dan dapat membaca ada sesuatu hal yang mengganggu ketenangan sahabatnya tersebut. Ia tidak menyangka bahwa Miranda akan pergi begitu saja, tanpa mau menceritakan persoalan sebenarnya. "Lo enggak ngomong sama gue, tapi gue bisa melihat rasa kecewa lo, Mir ..." 


***


Ditempat berbeda, Adrian justru terkejut mendengar ucapan Miranda yang akan pindah ke Pekanbaru dalam waktu hanya beberapa jam. Duda dan janda itu saling berpelukan, tidak dapat bicara banyak karena Monata menunggu di ruang tamu apartemen.


"Mir, ada apa sayang? Bisa kamu ceritakan sedikit apa yang terjadi, hmm?" Tahan Adrian pada lengan Miranda.


Akan tetapi, Miranda hanya tersenyum dan memeluk Adrian dengan sangat erat. "Aku cinta sama kamu, please ... jika sudah selesai urusan kamu, tolong susul aku ke Pekanbaru. Mungkin aku akan tinggal di apartemen Om Monata di sana."


Adrian menghela nafas panjang, ia ingin mencari jawaban dari bibir sang janda, namun Miranda berlalu meninggalkannya seorang diri di apartemen mewah milik keluarganya.


Tidaklah mudah bagi Miranda memutuskan untuk menjadi yang kedua, karena Tyas juga tidak akan tinggal diam, begitu juga dengan sang kekasih, Adrian. 


"Apa yang terjadi, apakah aku harus bertanya kepada Beny, atau bahkan langsung bertanya kepada Ibu Suri? Agh ... Miranda, kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini, ditambah long distance ini tidak mudah, sayang ..."

__ADS_1


__ADS_2