
Tanpa pikir panjang, Dean menceritakan semua kejadian yang mereka alami siang itu. Cukup pelik, bahkan Marisa hanya termangu menatap kedua bola mata Dean yang duduk dihadapannya.
Hanya helaan nafas dalam yang tersirat dalam hati Marisa sebagai seorang istri juga wanita. Ia tidak menyangka bahwa Adrian akan menyakiti sang keponakan secara fisik. Sehingga dengan mudahnya anak musisi yang tengah merintis karirnya terjerumus dalam pengaruh dunia gelap narkotika.
Pelan Marisa hanya tersenyum tipis melihat wajah Dean yang jauh dari bayangannya, "Kenapa Miranda jatuh hati pada pria seperti ini? Bukannya anak itu sangat menyukai dunia musik juga fotografer. Apakah Miranda salah lihat dan hmm ... eee, kenapa anak itu suka pria berkulit gelap, walau masih ada manis-manisnya ...?"
Tanpa sungkan Marisa bertanya kepada Dean yang menekukkan wajahnya, "Bagaimana dengan istri kamu, Bang, apakah dia terima dengan keadaan saat ini?"
Kepala Dean menggeleng pelan. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga sambil mengusap wajahnya sedikit kasar, "Entahlah Tante, aku bingung. Sepertinya, jika Miranda sudah tenang, aku akan kembali ke Medan untuk menyelesaikan semua permasalahan ku dengan Tyas. Bagaimanapun anak laki-laki kami masih baby dan membutuhkan perhatian dari seorang Ayah!"
Marisa mengangguk mengerti, "Kamu tenang saja. Jika Miranda sudah tenang, mungkin saya tidak akan membiarkan dia tinggal di apartemen. Biar dia tinggal disini dulu, sampai dia mendapatkan rumah baru sesuai keinginannya. Maklumlah ... anak itu sangat sulit sekali mau diatur. Seharusnya kamu sebagai suami, bisa memberikan perhatian lebih padanya. Ditambah, Miranda itu sejak kecil kurang mendapatkan perhatian dari Papa dan Mamanya."
Dean hanya bisa mengangguk, kemudian menghela nafas panjang. "Ya, Tante ... saat ini saya mencoba untuk menenangkan diri dan Miranda. Bolehkah saya naik keatas, Tante?"
"Ogh, silahkan. Silahkan tenangkan Miranda. Sepertinya dia sudah tenang, karena tidak mendengar suara tangisnya lagi." Tutur Marisa dengan tangan mengarah ke lantai atas.
Kini Dean berada di persimpangan kebimbangan. Ia sama sekali tidak menyangka akan diketahui Tyas secepat ini. Ditambah wanita beranak satu itu sedari awal sudah mengingatkannya agar tetap menjaga komitmen pernikahan mereka berdua. "Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Miranda sangat mencintai aku, bahkan dia rela kehilangan keluarganya demi menikah denganku. Tapi aku juga memiliki tanggung jawab penuh pada Tyas juga anak kami ..."
Bersusah payah Dean mengatur nafasnya. Hanya untuk sekedar menenangkan perasaan sang istri yang tengah dilanda kegundahan. Perlahan tangan kekar itu mengetuk pintu kamar dengan pelan, "Mir, apakah aku bisa masuk?"
Tidak ada suara yang terdengar didalam sana, membuat Dean membuka sendiri kenop pintu kamar yang ternyata tidak terkunci, melongokkan wajahnya hanya untuk mencari keberadaan Miranda.
Betapa terkejutnya Dean melihat wanita itu sudah terlelap dengan balutan yang acak-acakan, ditambah rambut panjang berantakan dengan wajah sembab tertutup bantal.
Sungguh miris Dean melihat tubuh mulus wanita cantik yang telah ia nikahi beberapa bulan lalu. Lengan lebam, ruas jari berdarah dan sudah mengering, ditambah memar area pipi kiri juga sudut mata yang bengkak karena kekejaman Adrian. Ingin sekali ia mengirim anak itu mendekam di penjara, namun lagi-lagi Dean teringat akan anak perempuan gitaris tersebut. "Siapa mantan istri Adrian? Apakah wanita itu juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga ...?"
__ADS_1
Kembali Dean teringat akan masa lalu, menerima surat dari Miranda yang berisikan tentang pemukulan dari sang kekasih dia terima kala kuliah.
'Dean ... apa kabar? Jujur aku sangat merindukan kamu. Aku dan kekasih ku sudah putus dan aku ingin menyusul mu ke Jogja. Bisa kita bertemu, jika bisa hubungi aku di nomor ini 022-6783566 ...'
Surat singkat yang Dean terima waktu itu, membuat jiwa kesatria seorang laki-laki berusia 18 tahun tersenyum sumringah. Gegas ia menghubungi Miranda lewat warung telekomunikasi, karena kondisi masih belum sebagus saat ini.
Entahlah, dua insan masa sekolah itu saling bercerita panjang, sehingga melupakan nominal angka yang tertera karena melupakan waktu percakapan mereka.
[Bener ya, kamu jemput aku ke stasiun ...]
[Ya ... see you]
Benar saja, Miranda berangkat menggunakan kereta api agro dengan biaya yang tidaklah murah, membuat Dean berpikir sejenak. "Beginikah jika dicintai seorang wanita dari keluarga kaya? Bahkan tidak memperdulikan berapapun biaya yang ia keluarkan ..." Ia bergumam dalam hati, merasa tidak mampu untuk membahagiakan seorang Miranda Anderson.
Cukup lama perjalanan anak manja tersebut, dari kota kembang menuju Jogja. Tentu dengan style anak orang kaya yang mengenakan semua pakaian bermerek serta membawa satu tas ransel dipundaknya.
Ketika keduanya saling menatap, Miranda lagi-lagi memberanikan diri untuk mengecup bibir Dean dengan penuh perasaan bahagia. Gaya centil yang sejak sekolah sangat terkenal, membuat iman Dean sebagai pria normal menjadi tak karuan.
"Mir, kita ini masih ditempat umum ... please!"
Betapa terkejutnya Dean ketika mendengar jawaban dari Miranda, "Aku enggak peduli. Bagaimana kita menginap di hotel dekat stasiun saja? Kebetulan aku tidak bisa lama berada di sini. Mama dan Papa tidak tahu aku terbang menemui kamu. Kalau mereka tahu, aku pasti diomelin terus disuruh pulang ke Singapura. Atau bahkan disuruh stay dikampung Oma. Kamu tahu sendiri aku tidak menyukai Sumatra, Sayang!"
Seketika Dean tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin membawa gadis cantik itu ke kosan tempat ia tinggal. Namun untuk mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki banyak uang untuk membayar hotel yang ada diarea Malioboro membuat dirinya semakin gelisah.
Kembali terdengar pertanyaan Miranda yang memecahkan lamunannya, "Ayo cepetan Dean. Aku pengen makan, terus kita ngobrol panjang lebar dikamar, berdua tidak ada yang mengganggu!"
__ADS_1
"Ta-ta-tapi ..."
Kening Miranda menaut, wajah cantik nan imut itu kembali tertawa kecil, "Tapi apa? Tapi kamu enggak punya uang, gitu? Apa kamu lupa siapa aku, hmm? Aku putri kesayangan Anderson, dan aku sudah mengantongi uang untuk membeli alat telekomunikasi untuk kita berdua. Yuuk ... capat bawa aku berkeliling Jogja!"
Benar saja, semua fasilitas yang dinikmati Dean kala itu merupakan salah satu kejutan terindah dari Miranda. Gadis kaya yang tidak perhitungan dan pelit, membuat mereka menyatakan bahwa saat itu mereka jadian.
Kecupan manis pertama kali, sehingga memberikan satu kebahagiaan bagi Miranda yang tidak mampu berkata jujur untuk bicara tentang keadaan sesungguhnya.
Batik tipis bertali satu itu sudah luruh hanya tinggal beberapa langkah lagi terbuka, hingga memperlihatkan lekuk tubuh indah gadis berusia 18 tahun tersebut. Keduanya sama-sama terlarut dalam suasana hati yang bahagia.
Detak jantung semakin kencang karena ini merupakan hal yang pertama bagi Dean melihat tubuh indah gadis belia yang benar-benar pasrah menyerahkan seluruh hidupnya. Susah payah Dean menelan ludahnya, ketika hendak menikmati pucuk merah nan kenyal yang masih tampak kencang dalam genggaman.
Desah Miranda membuat bulu kuduk Dean meremang, perasaannya semakin tinggi ingin melakukan semua itu sebelum halal. Kembali ia terkenang akan sosok sang Papa yang berpesan, agar tidak melakukan hal yang membuat malu sebelum menikah.
Benar saja, Dean kembali mengecup bibir Miranda dan akhirnya mendaratkan senjata kebanggaan sebagai seorang pria di paha mulus gadis tercintanya. "Ahh ... maafkan aku, Mir. Karena aku belum siap untuk melakukan hal itu saat ini." Ia mengecup lembut pundak Miranda dan merebahkan tubuhnya disamping sang kekasih yang sudah diakuinya.
Sejujurnya ada perasaan kecewa yang tersirat dihati Miranda, namun lagi-lagi ia tepis karena berhasil membuat Dean membalas cintanya walau ia telah menyerahkan kehormatan kepada Adrian. "Jangan tinggalkan aku, Dean. Aku sangat mencintaimu, hmm ... apakah kamu mau menerima aku apa adanya?"
Wajah tampan itu hanya tersenyum tipis, melirik Miranda sambil memeluk tubuh yang setengah telanjang itu, "Siapa yang tidak mau sama kamu, sayang. Apapun yang ada ditubuh kamu, aku akan menerimanya. Aku sangat menyukai ini kamu." Ia menangkup satu benda kenyal milik Miranda membuat wanita itu tertawa kegelian.
"Bagaimana kalau aku tidak perawan lagi, apakah kamu mau menerima aku, hmm?"
Darah Dean seakan menggelegak, kembali ia menatap lekat kedua bola mata Miranda, "Aku tidak perduli dengan kondisi kamu, tapi bisakah kamu jujur? Apa sejauh itu kamu melakukannya dan sejak kapan?"
Miranda mengelak, ia hanya tertawa mengejek, "Aku bertanya Dean Alexander. Bukan mengatakan bahwa aku tidak perawan, tapi sepertinya kamu belum siap untuk melakukan hal itu, jadi aku hanya bisa menahan rasa."
__ADS_1
Dean membawa tubuh Miranda agar lebih dekat dengannya tanpa perasaan curiga sedikitpun. Baginya masa lalu sang kekasih kala sekolah, itu hanya sebuah hura-hura anak muda, dan tidak mungkin sampai melakukan hal itu sebelum menikah. "Apakah Miranda benar-benar sudah putus dari kekasihnya ...?" Hanya pertanyaan itu yang ada dalam benak Dean karena merasa Miranda lebih berpengalaman dalam menyentuh terong import yang cukup untuk melepaskan dahaga.