Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Gue rebut laki lo


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh beberapa pihak Multy Strada untuk peluncuran produk terbaru mereka, membuat pihak perusahaan sangat antusias menyambut hari baik tersebut. Acara yang sangat mewah itu, dapat diselenggarakan dihotel milik Keluarga Anderson, dengan berbagai macam kesibukan yang sangat menyita waktu dan perhatian Miranda sebagai team promosi bersama Beny. 


"Cepat, kita tidak ada waktu lagi. Fotografer mana?" tanya Miranda kepada Kevin karena akan menyambut kedatangan Anderson dan membutuhkan Heru sebagai team pengambil gambar ketika sang ayah akan memasuki ruangan ballroom tersebut.


Tampak wajah panik Kelvin, karena tidak mendapatkan kabar dari Heru sejak H-1 acara Multy Strada. "Gue kehilangan kontak sama Heru, Mir! Bagaimana kalau kita pakai jasa team lainnya?"


Mendengar pertanyaan Kelvin, membuat darah Miranda mendesir seketika. Bagaimana mungkin, diacara mewah keluarganya yang selalu diadakan enam bulan sekali itu justru mendapatkan kendala yang sangat mengecewakan dari seorang sahabat sekaligus partner ranjangnya.


"Sialan! Apa maksudnya, Heru melakukan hal ini pada keluarga ku? Apakah dia lagi dalam masalah ...?" Miranda memijat pelipisnya kemudian menoleh kearah Beny agar memikirkan bagaimana caranya menghadapi masalah mereka. "Cepat lo hubungi Tante Raisa, minta tolong untuk mengirimkan fotografer lain. Gue enggak mau tahu, karena setahu gue kita sudah memberikan pembayaran sesuai permintaan pihak event!" tegasnya.


Akan demikian, Miranda juga berusaha menghubungi Heru di balik pilar dengan wajah pucat dan jantung berdebar-debar. Cukup lama janda cantik itu mendapatkan jawaban dari Heru, yang menjawab panggilan teleponnya dengan nafas tersengal-sengal diseberang sana.


[Halo Mir ...]


[Ya Tuhan, lo dimana sih. Acara sudah mau mulai Heru. Sebentar lagi MC akan memanggil Pak Anderson dan Ibu Suri. Tega bener lo, seharusnya sejak dua jam lalu, lo sudah ada di hotel]


Sergah Miranda dengan nada sedikit tegas.


[Mobil gue mogok Mir, ini juga gue pakai ojek online, dan gue tidak menyangka bahwa akan terjadi kemalangan seperti ini. Ban mobil pecah, mobil tidak mau distarter, gue sudah di jalan ...]


Seketika kening Miranda mengkerut dua belas. Tidak pernah kendaraan roda empat pria single itu bermasalah. Apalagi sampai mogok dan tidak dapat dinyalakan.


[Terus ini bagaimana? Sejak awal, gue bilang sama lo, tolong profesional Heru. Gue enggak mau disalahkan oleh pihak keluarga, karena kesalahan dari team event]


Miranda mengakhiri panggilan teleponnya dengan dada yang terasa sesak, kemudian berlari mendekati panggung untuk menunda acara selama dua puluh menit.


Gegas Miranda membisikkan sesuatu kepada pihak MC, "Tolong acara jangan dimulai dulu. Kita sedang menunggu team fotografer yang belum tiba karena terjadi sesuatu!"

__ADS_1


MC bernama Jhon itu mengangguk mengerti kemudian memberikan kepada team orkestra untuk melantunkan lagu-lagu populer lainnya sebelum musisi lain mengisi acara inti sesuai schedule yang telah diatur oleh pihak event.


Tidak lebih dari dua puluh menit, seseorang muncul dihadapan Miranda dengan wajah berantakan tak kalah dari seorang fotografer gadungan. Rambut gondrong acak-acakan, mengenakan pakaian seadanya ditambah basah karena keringat, membuat janda cantik itu mendengus kesal kemudian menarik baju kaos yang dikenakannya.


"Eh, lo tahu ini jam berapa? Terus kenapa baju lo basah kuyup begini? Lo anggap apa Multy Strada, hah?" sesal Miranda tampak kecewa dengan penampilan Heru yang selama ini ia anggap sebagai seorang tenaga profesional.


Tanpa menunggu lama, gegas Heru mengikat rambut panjangnya, kemudian mengenakan baju kemejanya dan melanjutkan pekerjaan tanpa menghiraukan ucapan Miranda yang disaksikan beberapa rekan kerja lainnya.


Kecewa, hanya itu yang ada dalam benak Miranda melihat ketidakprofesionalan seorang sahabat saat menganggap bahwa Heru sengaja menghulur waktu kedatangannya.


Tentu saja diamnya Heru membuat Miranda semakin kesal, memilih duduk dikursi keluarga yang telah disediakan pihak event sebagai orang terdekat perusahaan.


Kening Miranda bertambah mengerenyit masam ketika melihat Dean datang membawa Tyas sang istri ke acara besar mereka. Ia menghela nafas berat, menyiratkan bahwa adanya perang dingin antara wanita yang duduk berdampingan dengan sang suami tercinta ketika enggan membalas senyuman manis dari janda cantik tersebut.


"Ini lagi, kenapa Tyas tidak mau menyapa gue? Emang gue salah apa sama dia? Awas saja, gue bakal rebut laki lo ..." Miranda menyeringai lebar, membuat pria yang duduk disamping kiri bertanya kepadanya.


"Nape lo, Nyet? Kok seperti tempoyak gitu muka, lo, asem kecut gitu. Kan, Heru sudah hadir, terus sekarang lo lihat siapa?" Beny tertawa kecil melihat raut wajah Miranda yang benar-benar berubah menjadi lebih garang.


Terdengar suara tawa Beny yang tampak mengacuhkan celotehan sahabatnya itu, mengalihkan pandangan kearah panggung yang akan memulai acara pembukaan malam itu.


Begitu mewah dan meriah, acara penyambutan, hingga penampilan Adrian bersama team musiknya mendapatkan perhatian khusus dari Tina Talisa yang sangat antusias ketika memberikan kata sambutan didampingi sang suami tercinta.


Cukup lama penjelasan tentang produk terbaru mereka yang bernilai fantastis, namun tidak diperjualbelikan untuk wilayah Medan. Membuat Miranda sedikit tercengang akan sikap sang mama yang sengaja membuat malu Dean Alexander dihadapan rekan lainnya selaku kepala cabang termuda mewakili Medan.


Berkali-kali kalimat yang sama diucapkan oleh Tina dan Anderson untuk tetap memasarkan produk terbaru tersebut di wilayah Nusantara lainnya.


"Sebagaimana, produk alat berat tersebut akan kita jual di wilayah Riau, Sumatra Barat dan termasuk Bali juga Sulawesi Selatan. Saya harap untuk Medan, kita akan mencari kepala cabang terbaik yang cocok untuk Anugerah Finance, dalam naungan Pak Anas. Terimakasih!"

__ADS_1


Terdengar riuh tepuk tangan atas keputusan Tina Talisa serta Anderson, membuat Suci yang duduk mendampingi sang Ibu Suri turut tersenyum sumringah. Bagaimana tidak, ia akan melangkah maju sebagai pengganti Dean, jika pemeriksaan audit tersebut dapat terbukti bahwa pria beristri itulah pelaku sebenarnya.


Adrian hanya termangu, menatap Miranda dari kejauhan sambil memeluk gitar kesayangannya setelah mengisi beberapa lagu yang mereka bawakan sesuai kontrak perjanjian dengan Multy Strada.


Perlahan Miranda mengalihkan perhatiannya pada Heru yang tidak bersemangat sama sekali seraya bergumam dalam hati, "Kenap Heru sama sekali tidak mau bicara dengan gue? Apakah dia ada masalah, atau hmm ..."


Wajah Adrian tampak tersenyum bahagia, atas tingkahnya yang berhasil membuat Heru benar-benar tidak bisa memberikan manfaat untuk Multy Strada sebagai seorang fotografer profesional pilihan. "Rasakan ... lo pikir gue enggak bisa buat lo susah, hmm. Gue pikir lo bakal enggak datang ke sini karena mobil lo kami kerjain, ternyata masih punya nyali juga lo bersaing sama gue ..."


Ya, Adrian sengaja mengerjai Heru H-1 dengan menebar paku di studio milik pria single itu dengan bantuan seseorang, dan sengaja merusak bagian mesin mobil milik Heru agar tidak dapat hadir di acara besar Multy Strada.


Tentu saja, agar Heru tidak dapat bertemu lagi dengan Miranda, atau bahkan membuat janda cantik itu tidak ingin melanjutkan kerja sama mereka dalam event selanjutnya.


Picik, licik, itulah cara Adrian untuk menyingkirkan Heru yang selalu berusaha mendekati Miranda dengan cara menusuknya dari belakang sejak masa kuliah. Walau sesungguhnya, duda beranak satu tersebut belum mengetahui tentang status sang kekasih dengan Heru, namun ia memiliki feeling yang sangat kuat jika seorang ingin mengambil kesempatan dengan alasan menjalin kerjasama. 


Miranda masih menikmati hidangan makan malam bersama keluarganya, diiringi lantunan lagu-lagu indah ciptaan sang kekasih yang menyanyikan sepenuh hati untuk dirinya dihadapan kedua orangtuanya.


Wajah cantik yang tampak elegan itu hanya mengalihkan pandangannya kearah Heru dan Dean. Ada perasaan aneh dihatinya melihat perubahan kedua pria itu, namun lagi-lagi ia menepis anggapan bahwa semua itu ulah sang kekasih hati. "Kenapa Heru dan Dean tampak berubah sama gue. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Adrian yang memang memiliki sifat licik sejak dulu ...?"


Ketika Miranda tengah duduk di satu bufet minimalis yang menyediakan makanan kecil, justru Tyas menghampiri janda cantik itu sambil berkata dengan nada yang sangat mengiris hati.


"Jangan kamu pikir bisa merebut Dean dari aku, janda gatal! Karena bagaimanapun Dean tidak pernah akan kembali sama kamu. Dia sudah menceritakan semua tentang masa lalunya, tapi dia juga tidak pernah akan kembali merajut cinta sampah kalian kembali. Jadi jangan berharap kalau Dean mau kembali sama kamu!"


Wajah Miranda semakin menggeram, tangannya tampak bergetar ketika mendengar ucapan dari Tyas yang sangat menyakitkan hatinya sebagai seorang wanita berstatus janda. Gegas ia meletakkan piring kecil itu, kemudian menatap lekat wajah Tyas yang tampak kecil dimatanya, "Bagaimana kalau aku berhasil merebut hati Dean, hmm?"


Dengan angkuhnya, Tyas menjawab, "Tidak akan pernah, karena aku sangat percaya pada suamiku!"


Miranda menelan ludahnya sendiri, tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya, "Bagaimana jika aku menjadi pendampingnya di Medan, hmm? Aku akan menyelamatkan karir Dean dengan caraku, dan aku jamin bahwa kamu akan dicampakkan oleh suamimu sendiri, mau bersaing? Mari kita buktikan!"

__ADS_1


Hati istri mana yang tidak akan ketar-ketir mendengar ancaman dari seorang janda anak pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja. Dilema, takut, tampak tersirat diwajah Tyas. Akan tetapi ia justru berlalu begitu saja meninggalkan Miranda seorang diri. "Apa aku salah, berhadapan dengan janda gatal itu ...?"


Miranda justru mengumpat dalam hati, "Main-main sama gue ... dia pikir dia siapa, dasar wanita tidak tahu diri! Lihat saja, akan gue rebut laki lo ...!" 


__ADS_2