Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Ternyata suami orang


__ADS_3

Suasana hati Miranda Anderson perlahan mulai membaik. Ia mengalami demam tinggi selama satu minggu, membuat Dean tidak bisa meninggalkan istri sirinya begitu saja. Ditambah ancaman dari Monata yang sangat memekakkan gendang telinganya setiap hari selama tinggal dikediaman Om Miranda tersebut. Tekanan yang datang dari berbagai arah untuk Dean, membuat pria satu anak itu memutuskan untuk tinggal di rumah kakak tertuanya dengan hujaman berbagai macam pertanyaan.


"Jawab Kakak, Dean, benar kamu menikah dengan anak Pak Anderson, hah!?" Wajah Lia tampak tidak senang setelah seminggu lalu mendengar cerita dari sang adik ipar yang membuat dadanya menggelegak panas.


Dean tak kuasa untuk berkelit, disaat semua keluarga memusuhinya, ia hanya bisa menganggukkan kepala kemudian berkata dengan jujur, "Aku menikah dengan Miranda, karena janda cantik itu merupakan cinta masa sekolah ku, Kak! Ditambah Miranda masih mengejar aku dan aku ini laki-laki normal!" Ia memberikan jawaban untuk membela diri.


Mendengar penjelasan adik bungsunya, Lia hanya bisa menghela nafas dalam. Sejujurnya ia tidak mengetahui kisah cinta sang adik karena perbedaan usia yang cukup jauh ditambah lagi statusnya sebagai istri. Ia hanya tersenyum tipis menatap lekat wajah Dean dengan penuh perasaan kasihan. "Terus, bagaimana dengan nasib Zian? Kamu sudah memiliki anak dari Tyas, walaupun kalian menikah karena penggerebekan, tapi setidaknya kalian sudah menikah dua tahun, Dean."


Pandangan Dean pias seketika. Ia membayangkan bagaimana nasib anak dan istrinya karena tuntutan Monata yang sangat memusingkan kepala agar dirinya mau memilih antara satu, Tyas atau Miranda. Satu sisi ia sangat menyayangi Tyas sebagai istri pertama, disisi lain Miranda tidak akan pernah mau melepaskannya begitu saja, hanya karena ambisi janda cantik itu terlalu besar untuk memilikinya utuh.


"Tapi aku tidak bisa melepaskan Miranda begitu saja, Kak! Miranda sangat mencintai aku dan dia benar-benar tidak ingin berpisah dari aku! Tolong kasih aku waktu untuk berpikir dan masa dinas ku disini hanya tinggal beberapa hari lagi!" Tuturnya membela diri dihadapan abang iparnya.


Tidak banyak menuntut, Lia hanya bisa menahan amarahnya karena tidak ingin melihat adik kesayangannya semakin sulit untuk menentukan sikap juga pilihan dalam berumah tangga. 


Dengan langkah gontai, Dean memasuki kamar yang telah dipersiapkan sang kakak untuk beristirahat. Kembali terngiang di telinganya tentang bentakan keras Monata yang tidak suka keponakannya dijadikan istri kedua.


"Sekarang mau kamu bagaimana, Dean? Jangan jadikan keponakan saya sebagai simpanan karena Miranda memiliki masa depan yang lebih cerah dibandingkan harus berharap dari pria seperti kamu!" Monata menghardik Dean dihadapan Marisa.


"Sa-sa-sa-saya akan bertanggung jawab atas segala keputusan yang telah kami buat, Om. Saya tidak akan pernah meninggalkan Miranda, tapi beri saya waktu untuk berpikir jernih! Saat ini saya salah karena tidak bisa melindungi keponakan, Om! Tapi itu semua karena keadaan!" Dean menjawab karena tidak mau dipersalahkan.


Mendengar keputusan dari Dean, Monata hanya mendecih, "Oke ... saya kasih kamu waktu satu bulan untuk berpikir, ceraikan istri pertama kamu atau Miranda kamu talak dihadapan keluarga!"


Wajah Dean memerah bak seekor kepiting rebus, ia tidak menyangka bahwa akan diberikan pilihan yang sulit, membuat dirinya semakin sulit untuk berpikir jernih.


***

__ADS_1


Ditempat yang berbeda, suasana hati Adrian yang menjadi santapan bagi badan narkotika propinsi harus melakukan laporan setiap minggu agar terlepas dari jeratan hukum yang menjeratnya. Tentu tidaklah gratis, karena Robert meminta kepada Adrian agar menyetor setiap minggu dengan angka yang cukup menggendutkan dompet belakang bagi beberapa pihak yang terlibat akan penanganan kasus kepemilikan shabu sang gitaris tersebut.


"Selamat siang!" Sapa seorang wanita berhijab dengan membawa seorang putri berusia lima tahun ke kantor badan narkotika propinsi.


Wajah Anto yang tengah berada di pos security langsung terkesiap mendengar suara lembut dari seorang wanita yang turun dari mobil sedan berwarna hitam terparkir dihalaman kantor mereka. "Siang Bu, mau bertemu dengan siapa?"


"Hmm ... saya ingin bertemu dengan Bu Miranda, bagian administrasi yang menangani kasus suami saya Adrian!" Ujarnya sambil merangkul pundak gadis kecil yang berdiri dihadapannya.


Sambil mengusap-usap lembut dagu lancipnya, Anto langsung membawa wanita itu untuk bertemu dengan Nora sang secretaris Robert yang belum dapat digantikan oleh Miranda. "Ogh ... ayo Bu. Saya antarkan saja bertemu dengan Bu Nora. Karena Bu Miranda masih sakit dan mungkin besok akan masuk kantor," tuturnya melangkah menuju kantor yang masih tertutup. 


Pintu kaca itu terbuka lebar, wanita berhijab yang masih menggandeng tangan putri kecilnya untuk bertemu dengan Nora mengikuti langkah Anto menuju ruangan Robert.


"Maaf Bu, silahkan tunggu disini dulu. Saya akan memanggil Bu Nora, kalau boleh tahu Pak Adrian ada dimana, Bu? Karena sudah lebih dari tiga hari manager bandnya tidak memberikan informasi kepada kami. Biasanya mereka memberi kabar kepada kami!" Lagi-lagi Anto bertanya karena memang tidak mendapatkan kabar dari manager Adrian yang menandatangani surat pernyataan beberapa waktu lalu.


Wanita berparas ayu itu hanya mengusap lembut kepala putrinya, "Beliau masih ada kegiatan di kota kecil, Pak. Makanya saya diminta kesini untuk mewakilkan dan melakukan virtual dengannya karena posisi Adrian masih di Dumai. Kebetulan ada acara manggung di sana dan mungkin minggu ini sudah tiba di sini."


Kening Anto mengerenyit, kembali ia mengumpat dalam hati, "Suka-suka kau saja berbuat, Bang Adrian. Giliran susah kau menangis sama istri yang urus kegilaanmu, giliran senang-senang kau sama Miranda Anderson! Maak ... enak kali lah orang ini hidup! Untung kau ini sebagai tahanan titipan Pak Monata, kalau tidak ... sudah habis kau kenak lipat didalam sel ...!" 


Ya, Monata yang sangat mengetahui siapa Adrian hanya mengikuti jalur instan dan memberikan waktu dua bulan kepada Adrian agar tidak meninggalkan Riau sebagai tahanan kota. Walau sesungguhnya tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kota minyak tersebut, namun masih memberikan kesempatan kepada Adrian agar bisa melanjutkan karirnya dengan pengawalan ketat dari badan narkotika propinsi.


Ketika wanita itu tengah duduk menunggu di sofa yang telah tersedia, seketika matanya bersitatap dengan Miranda yang melewatinya tanpa mau menyapa. Darahnya mendesir, ia sangat yakin bahwa wanita cantik yang mengenakan pakaian bebas tersebut, merupakan Miranda Anderson cinta pertama sang suami yang selalu diharapkan untuk dapat kembali ke pelukannya sebagai istri.


Miranda masuk keruangan yang dimasuki Anto barusan, kemudian keluar lagi bersama Nora menemui wanita ayu tersebut, setelah berbincang selayaknya karyawan profesional.


"Hai!" Sapa Nora berjabat tangan dengan wanita berhijab itu dan langsung menundukkan tubuhnya untuk menyapa gadis kecil itu. "Siapa namanya gadis cantik?"

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Melodi, Tante." Senyuman yang sangat menggemaskan membuat Nora dan Miranda tersenyum sumringah, karena merasa gemas melihat sosok gadis cantik nan imut mau menyapa mereka tanpa perasaan takut.


Ketiga wanita itu saling bertatapan, ditambah Miranda yang masih berdiri dihadapan wanita berhijab tersebut, hanya tersenyum tipis ketika berjabat tangan seraya memperkenalkan dirinya, "Kenalkan saya, Miranda Anderson. Kalau boleh tahu Mba siapa Pak Adrian, ya?"


Tanpa sungkan, wanita tersebut memperkenalkan dirinya, "Kenalkan saya Renita, istri Pak Adrian dan ini putri semata wayang kami."


Miranda tampak gelisah, tangannya seketika bermain di tengkuk belakang hanya untuk mengusap lembut sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa semakin pegal dan berdenyut. "Ogh ..." Ia berusaha tersenyum, namun tidak mau bertanya lagi.


Wanita nan ayu, penuh kelembutan harus berpisah dari Adrian, membuat Miranda semakin penasaran akan pernikahan pria yang telah menyakitinya secara fisik beberapa waktu lalu tersebut. Ia bergumam dalam hati, "Kenapa wanita ini masih mengaku sebagai istri Adrian dan ada dikota ini, apakah dia memang stay disini? Tapi kenapa laki-laki itu tidak pernah menceritakan apapun sama gue ... atau jangan-jangan mereka tidak berpisah selama ini dan hanya mengaku-ngaku sebagai duda ...?"


Kecurigaan Miranda semakin tersirat jelas, ketika wanita itu dengan sangat baik memberikan laporan semua tentang Adrian dihadapan Robert sebagai kepala bagian narkotika ketika sudah dibawa masuk kedalam ruangan.


Kembali terdengar suara berat Adrian diseberang sana, ketika melakukan virtual melaporkan semua berbagai kegiatannya serta siapa-siapa saja yang mendampingi kegiatan selama dua hari berada di kota madya tersebut.


[Maaf Pak, mungkin saya akan kembali esok atau lusa. Jadi saya harap perwakilan dari Renita dan putri kami sudah cukup untuk memenuhi persyaratan minggu ini ...]


Kembali Melodi berteriak keras, memanggil sang ayah.


[Daddy, aku sangat merindukan mu ... jangan terlalu lama pergi meninggalkan kami, karena kami sangat merindukan mu ...]


Kejutan yang tidak disangka-sangka oleh Miranda, ketika mendengar kejujuran dari bibir gadis kecil yang tidak mungkin akan berdusta, membuat ia hanya menelan ludahnya sendiri. "Sial ... jadi selama ini, anak itu membohongi aku? Berengsek sekali dia hidup dalam kepura-puraan hanya untuk sekedar mempermainkan perasaanku lagi ..." Ia mengumpat kesal merutuki kebodohannya sendiri. "Bagaimana jika gue benar-benar hamil, anak Adrian? Agh ... mana bulan ini gue belum periode! Mati gue, ternyata Adrian juga pembohong besar ..."


Cukup lama mereka berbincang ringan. Yang membuat hati Miranda semakin tidak tenang, ketika mendengar pengakuan dari wanita itu bahwa ia merupakan seorang dokter umum disalah satu rumah sakit swasta dikota mereka dan berusia 28 tahun. 


"Ogh Tuhan, ternyata Adrian selama ini long distance bersama istrinya, tapi kenapa dia mengaku sebagai duda ...? Laknat sekali anak itu, mengatakan bahwa dirinya sebagai duda pada semua orang. Padahal dia juga suami orang yang, agh ...! Bodohnya aku!" Miranda tampak mengalihkan pandangannya kearah lain, agar tidak terlihat hancur dihadapan sang pimpinan.

__ADS_1


Robert tertawa kecil melihat tingkah Miranda yang tampak gelisah walau masih berusaha tenang, "Hmm ... ternyata kamu ini suka sama suami orang ya, Dek Miranda ..."


__ADS_2