Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Bicarakan apa yang terjadi


__ADS_3

Entah mengapa, siang menjelang sore itu merupakan hari terburuk bagi Adrian, Dean juga Miranda. Kesialan mereka bertiga yang tak mampu menyembunyikan semua permasalahan yang ada. Membuat Monata sebagai pengganti orang tua untuk keponakannya langsung turun tangan menuju hotel bintang lima yang tidak begitu jauh dari kantornya.


Bagaimana tidak, Robert menceritakan semua permasalahan keponakannya dan membuat pria berpangkat itu melaju kencang menuju hotel yang disebut atasan Miranda.


Plak!


Tangan kekar Monata mendarat keras di pipi kanan Adrian, begitu memasuki kamar hotel membawa suami keponakan bersamanya ketika bertemu Dean di loby hotel.


Betapa terkejutnya Monata melihat bong dan pireks masih berada ditempat yang belum disentuh oleh Richard. "Bangsat sekali kau! Tega kau menyakiti keponakan ku, hmm! Kau tahu siapa Miranda Anderson, hah!" geramnya semakin menendang tulang kering Adrian dan membuat pria itu langsung berteriak keras kemudian tersungkur dilantai kamar.


Mendengar suara bariton Monata, Robert bergidik ngeri, sementara para musisi band rekan Adrian hanya bisa menelan ludah mereka sendiri. Entah kenapa, kekuatan pria berpangkat itu yang membawa beberapa orang ajudannya, membuat semua orang didalam sana tidak dapat berkutik lagi.


Ditambah dengan jentikan jari, Monata memberi perintah kepada ajudannya, "Tolong antarkan Miranda pulang ke rumah saya!" Matanya menoleh tajam kearah Dean, "Kau tunggu aku di rumah! Karena ada hal yang ingin aku bicarakan padamu!" 


Tanpa banyak bicara, Miranda pergi begitu saja meninggalkan Adrian bersama rekan satu team dalam band-nya. Ini kali kedua ia harus kehilangan pria yang telah merenggut kehormatannya dimasa lalu.


Kesedihan Miranda tampak semakin nyata. Jika ditanya dalam hatinya, apakah ia mencintai Adrian, tentu ... karena mereka sejak dulu sering menghabiskan banyak waktu dan tinggal bersama. Ditambah Adrian sangatlah posesif dari Dean ataupun Heru. Ringan tangannya Adrian lah yang membuat Miranda berpikir ulang untuk terus bersama dalam ikatan pernikahan menghabiskan masa tua.


Dalam hati Miranda semakin hancur, jika teringat kebiasaan Adrian yang masih menggunakan benda haram narkotika, "Agh Dri, aku pikir kamu sudah berubah ... tapi ternyata kamu masih sama bahkan lebih arogan. Kalau Om Monata sudah turun tangan, aku harap kamu tidak bisa berlama-lama di kota ini."

__ADS_1


Mata wanita cantik itu tertutup. Sejujurnya memar yang dirasakan Miranda jika Adrian menyakitinya sudah sering ia rasakan. Bertahannya Miranda hanya karena sangat menyukai permainan ranjang duda satu anak itu yang selalu dapat memberikan kebahagiaan yang sangat berbeda. Bukan hal yang sulit bagi Miranda untuk melupakan Adrian, akan tetapi hal tersulitnya saat ini menghadapi Dean yang merasa ditipu habis-habisan oleh istri sirinya tersebut.


Tangan Dean berusaha membantu sang istri sirinya ketika mobil sedan itu terparkir dihalaman rumah milik Monata. Dengan susah payah Miranda turun dari mobil seraya berkata, "Tolong selesai kamu bicara dengan Om Monata, tinggalkan aku sendiri!"


Dean terdiam, wajahnya memerah karena tidak menyangka bahwa sang istri akan berkata seperti itu, "Mir, seharusnya aku yang marah sama kamu. Ini kok, malah kamu yang meminta aku pergi, apakah kamu tidak ingin hidup bersama aku lagi, hah!?"


Cepat Miranda menepis semua ucapan Dean karena perasaan kecewanya, "Ogh ... kamu justru tidak pernah sadar bagaimana aku harus menerima perlakuan kasar Adrian, tapi kamu melakukan apa? Apa yang kamu lakukan, hmm? Menolong saja tidak bisa sama sekali, bahkan kamu lebih memikirkan perasaan Tyas tanpa mau menyelamatkan aku."


Miranda menunjukan tangannya yang memar karena ulah Adrian, "Lihat ini, Dean! Lihat!" Sesalnya dengan satu hardikan keras, "Kalian itu hanya laki-laki egois yang tidak punya perasaan. Kamu memikirkan Tyas tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku sebagai istri kedua!"


Mendengar penjelasan seperti itu dari Miranda, mulut Dean justru semakin ternganga dan bertepuk tangan ketika sang istri kedua akan berlalu meninggalkannya memasuki rumah, "Hah ... hebat sekali kamu! Seharusnya kamu yang memberikan penjelasan kepada aku, Mir! Ini kamu justru merasa bahwa aku memikirkan Tyas, hanya karena aku menolongmu terlalu lama, begitu!" Ia menepuk jidatnya. "Hei Mir, seharusnya kamu tahu, apa yang diminta Tyas padaku, hmm!"


Langkah kaki Miranda seketika terhenti, ia yang akan memasuki rumah tiba-tiba menolehkan wajahnya untuk mendengarkan penjelasan Dean sang suami.


Mendengar penjelasan Dean seperti itu, Miranda menyunggingkan senyumannya kemudian berkata dengan angkuhnya, "Lalu? Apakah kamu mau menceraikan dia dan menjadikan aku sebagai wanita pertama untuk hidupmu?"


Entah mengapa, pria satu anak itu justru menggelengkan kepalanya seraya berkata dengan nada tegas, "Aku tidak akan pernah menceraikan Tyas walau sesungguhnya aku masih mencintaimu!"


Langkah kaki Miranda seketika mendekat kearah Dean, tatapan matanya begitu tajam, "Ogh ... jadi kamu anggap aku apa, hmm?"

__ADS_1


Cepat Dean menjawab, "Siapa yang tidak akan tergoda oleh pesona mu, Mir. Kamu sangat menggoda bahkan aku benar-benar tidak kuasa menahan rasa jika sudah bertemu dengan mu!"


Kening Miranda semakin mengerenyit dua belas. Darahnya mendidih seketika mendengar pengakuan Dean, "Ogh ... berarti kamu hanya tergoda oleh pesona seorang Miranda Anderson, berarti kamu tidak benar-benar mencintai aku, begitu? Ogh shiit ... silahkan pergi dan tinggalkan aku sendiri!" Ia mendecih mendorong tubuh Dean.


"Ingat Dean, tidak akan pernah ada yang bisa mendapatkan aku, terutama hatiku! Aku tidak bodoh, aku memang mencintaimu bahkan menghargai mu!" Tunjuk Miranda mengarah ke wajah Dean dengan tatapan nyalang.


Dean justru menghardik Miranda, "Terus, kenapa kamu justru membela Adrian, bahkan tidak peduli dengan dirimu, aku juga kelurga mu!"


"Aku sayang sama Adrian dan dia memiliki tanggung jawab atas putrinya. Jika dia kehilangan pekerjaannya ataupun mendekam selama bertahun-tahun di penjara, justru semakin tidak kondusif karena dia memiliki anak perempuan! Are you understand!!" Teriak Miranda memasuki kediaman Monata tanpa mau menyapa siapapun yang berada didalam sana.


Kecewa yang atas perbuatan Adrian memang sangat menyakitkan perasaannya sebagai seorang wanita. Akan tetapi, sejak dulu Miranda memiliki rasa belas kasih yang tulus pada pasangannya. Begitu banyak kenangannya bersama Adrian sehingga mereka berpisah dalam jangka waktu cukup lama. Namun, hati wanita cantik itu selamanya tak mampu melupakan Dean.


Kini Miranda menangis sejadi-jadinya didalam kamar tamu yang menjadi tempat persinggahannya untuk menenangkan pikiran sejenak. Tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya termasuk Marisa.


Wanita berparas cantik tersebut hanya termangu menatap kearah anak tangga, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dean yang ada dihadapannya kini.


Masih terdengar suara jeritan tangis Miranda diatas sana, membuat Marisa hanya menahan Dean agar tidak menyusul keponakan suaminya tersebut. "Biarkan dia tenang dulu. Bisa ceritakan kepada saya apa yang terjadi. Ogh maaf, kamu siapa?"


Cepat Dean menghulurkan tangannya kepada Marisa, memperkenalkan dirinya, "Saya Dean, Tante. Suami Miranda dan hmm ... eee ..."

__ADS_1


Marisa menutup wajahnya dengan satu tangannya, mengusap lembut wajah cantik itu seraya tertawa kecil, "Ogh ya, kamu Dean Alexander yang menikahi keponakan suami saya. Duduklah, bisa kita bicara tentang apa yang terjadi?"


Keduanya sama-sama berjalan perlahan menghampiri sofa yang ada diruang keluarga. Membiarkan Miranda melepaskan semua rasa sesal dan kecewanya pada keadaan.


__ADS_2