Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Status janda


__ADS_3

Tidak ada pilihan, Miranda harus mencari cara untuk menutupi kehamilannya saat ini. Ia tidak ingin Monata justru berpikir nakal tentangnya. Tanpa menunggu lama, ia melajukan kendaraannya menuju salah satu perumahan yang cukup jauh dari kota. Hanya dari spanduk serta pamflet yang ada di tiap-tiap pinggir jalan raya utama, membuat Miranda langsung berpikir untuk membeli satu unit rumah.


Mobil sedan milik Monata terparkir di depan kantor perumahan, membuat beberapa pasang mata menoleh kearah Miranda yang turun dari mobil berplat nomor dua tersebut.


Salah satu dari team marketing perumahan cluster itu, menghampiri Miranda yang telah membuka kaca mata hitamnya. "Selamat siang menjelang sore Kakak," sapa gadis berhijab itu dengan sangat sopan.


"Sore!" Miranda menoleh kearah gadis itu dan langsung melenggang menuju satu unit rumah yang sudah berdiri kokoh, tanpa pagar namun terlihat asri juga terawat. "Boleh minta brosurnya?"


"Ogh ... tentu saja boleh Kakak." Gadis itu memberikan satu brosur yang ada ditangannya, kemudian membukakan pintu rumah contoh yang berada didepan kantor pemasaran seraya berkata, "Silahkan Kakak."


Wajah Miranda yang cantik dan terkesan angkuh hanya tersenyum tipis dan melenggang masuk kedalam rumah yang tampak sejuk itu. "Ini tipe berapa, ya?"


"Ini tipe delapan puluh Kakak, luas tanahnya seratus lima puluh meter persegi dan ada kolam ikan koi di belakang," tunjuk gadis itu mulai menjelaskan dan membuka pintu kaca belakang untuk memperlihatkan kolam kecil juga taman mini nan sedap dipandang mata.


Kembali Miranda melihat-lihat seisi ruangan dari kamar utama menuju dua kamar kecil yang sudah dilengkapi dengan interior yang menempel serta beberapa pernak pernik lucu sebagai penghias kamar tersebut. "Kamar utamanya kecil banget, ya? Emang berapa sih, harganya?"


Cepat gadis muda itu menjawab pertanyaan buyer yang tampak seksi dan berkulit putih itu dengan penuh semangat empat lima. "Kalau ini harganya delapan ratus lima puluh juta, Kak. Dua kamar mandi dan sudah dilengkapi dengan water heater, air conditioner dan semua yang menempel sebagai aksesoris menjadi pemilik rumah."


Miranda hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat mengerti, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia melihat kulkas empat pintu yang sudah menempel di sudut ruangan yang langsung tertuju pada kompor tanam dengan merk ternama.


Kembali Miranda bertanya pada gadis yang masih mengikuti langkahnya, "Hmm ... saya kurang suka desainnya, bisa diubah jika saya mengambil rumah ini?"


Mendengar pertanyaan Miranda seperti itu, gadis bernama Lela hanya bisa menjawab, "Kalau cocok dengan harga dan rumahnya, bisa di atur Kakak." Jelasnya dengan tatapan mata berbinar-binar seraya bertanya lagi, "Kalau boleh tahu, Kakak dinas dimana? Hmm ... maaf, pembeliannya cash atau kredit Kakak?"

__ADS_1


Hanya senyuman manis yang Miranda berikan kepada Lela, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu tanpa mau menjawab pertanyaan team marketing perumahan tersebut.


Karena merasa kurang yakin dengan keseriusan Miranda, gadis itu hanya mendengus dingin seraya mengejek dalam hati, "Minta dirubah, tapi belum tentu juga membeli perumahan kami. Kamu pikir, saya bego Mba? Sombong benar, ditanya kerja dimana malah diam saja ...!" Ia masih mengumpat dalam hati.


Akan tetapi, siapa sangka ... seorang pria paruh baya yang menjadi penghuni baru di perumahan cluster tersebut, menghampiri Miranda yang tengah melihat-lihat situasi CCTV juga keamanan perumahan baru tersebut.


"Eh ... ada Bang Robert," sapa Lela menghampiri buyer terbaiknya.


Dengan penuh pesona seorang pria mapan nan merasa gagah, Robert langsung memperkenalkan Miranda kepada gadis tersebut, "Dek Miranda, ini marketing paling hebat, lho ... kamu bisa minta apa saja, pasti langsung mendapatkan persetujuan dari owner perumahan ini."


Kembali Miranda menoleh kearah Lela, sambil menyaksikan beberapa tukang yang bekerja di area perumahan unit terbatas itu, sambil bertanya, "Kalau boleh tahu, siapa pemilik perumahan ini, Mba?"


"Hmm ... yang punya perumahan ini dokter spesialis kandungan yang membuka praktek dijalan utama Kakak. Kalau kakak memang mau mengambil B-2 ini, saya bisa menghubungi Pak Dokter untuk menuruti semua permintaan Kakak." Jelas Lela dihadapan Robert dengan netra berkedip-kedip bahagia.


Bagaimana tidak, dari penjualan rumah ini saja, Lela akan mendapatkan fee marketing sebesar tiga persen. Cukup lumayan, untuk menjadi seorang marketing perumahan elite yang selalu dipertemukan dengan aparatur sipil negara.


Tak ingin Lela mendapatkan masalah besar jika berhadapan dengan Miranda, dengan caranya Robert langsung menjawab, "Biasanya Keluarga Anderson membeli rumah dibawah harga satu milyar dengan cara cash keras." Ia menoleh kearah Miranda, kemudian berkata lagi dengan penuh lemah lembut, "Bukan begitu Dek Miranda?"


Rona wajah Lela tampak merona malu, ketika mendengar penuturan dari Robert yang tampak mengenal dekat wanita cantik yang masih berdiri dihadapannya tersebut, sambil mengingat siapa nama Anderson. "Aku seperti pernah mendengar nama yang disebut Bang Robert, siapa ya beliau ...?" tuturnya dalam hati sambil berdecak kagum akan kecantikan Miranda.


"Kulitnya putih bersih, mulus pula ... pasti Pak Haris sangat menyukai wanita cantik seperti ini," gumam Lela lagi didalam hati.


Akan demikian, Miranda yang tidak banyak bicara hanya bisa mengulas senyum manis seraya bertanya ulang pada Lela, "Maaf Mba, tadi katanya yang punya perumahan ini seorang dokter spesialis kandungan. Apakah beliau Dokter Haris?"

__ADS_1


Robert tertawa kecil, sambil menoleh kearah Lela dan ikut menjawab pertanyaan Miranda dengan penuh percaya diri. "Iya dong, Dek. Siapa lagi yang punya perumahan dikota ini. Pak Dokter Haris itu sahabat Abang itu!"


Miranda tampak menyunggingkan senyumnya, sambil menghela nafas berat, "Dokter Haris itu, sahabat Om Monata, Bang. Dan mereka sangat mengenal keluarga saya!"


Jleb ...


Kembali Robert hanya bisa menelan ludahnya sendiri, kemudian menoleh kearah Lela yang tampak mengangakan bibir tebalnya cukup lebar.


"Ogh ... maaf Dek, biar Abang minta harga spesial untuk Dek Miranda. Apa sih yang enggak buat wanita cantik ini," titah Robert merogoh saku celana untuk mengambil gawainya.


Tanpa banyak bicara, Miranda mengangguk setuju kemudian menoleh kearah Lela yang masih kebingungan sambil memberikan perintah, "Kamu siapkan perjanjian jual belinya, saya mau menghubungi suami dulu!"


"Ba-baik Kak!" Tunduk Lela, mencicit menuju kantor pemasaran dengan badan bergetar hebat.


Lela berteriak keras, ketika pintu kantor itu terbuka lebar dan langsung memeluk salah satu mandor yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik ketiga orang tersebut dari dalam ruangan.


"Aku closing, Bang! Aku closing, Alhamdulillah yah ... akhirnya Pak Haris tidak jadi memecat aku. Ditambah bulan ini, merupakan bulan terakhir aku bekerja menurut Bu Sonya kemaren pas meeting!" Lela tak kuasa menahan rasa harunya, tanpa terasa menitikkan cairan bening dari sudut matanya.


Mandor yang merupakan salah satu orang kepercayaan Haris hanya tersenyum tipis, seraya bertanya sambil mengedarkan pandangannya kearah luar, melihat sosok Miranda dari kejauhan. "Cakep bener cewek itu, ya ... emang dia yang beli rumah?"


"Ya iyalah, Bang! Ternyata dia itu temen deket Bang Robert dan cewek itu merupakan keponakan Pak Monata yang dinas di Polda." Jelas Lela menuju meja kerjanya untuk mempersiapkan semua legalitas perjanjian jual beli antara buyer dan perusahaan tempat ia bekerja.


Kembali mandor muda itu, berkata dengan senyuman lebar nan manis bak gulali, "Widiw ... bisa-bisa cuci mata terus akuh nih. Berapa duit dia ambil rumah itu?" Ia mengusap-usap dagunya sambil bertanya lagi dengan mata berbinar-binar ingin tahu, "Dia suka enggak sama desain interior rumah itu?"

__ADS_1


"Hmm ... ada yang minta dirubah, karena sepertinya beliau sangat detail. Kayaknya wanita itu simpanan horang kayah deh, Bang. Karena dia tadi hanya bilang 'mau menghubungi suaminya dulu'. Aneh kan? Kok cari rumah justru tidak bawa pasangan. Biarin dah ... yang penting beliau beli!" Lela menimpali ucapan mandor muda yang masih berusia 22 tahun tersebut.


Mandor bernama Boy itu hanya manggut-manggut saja, sambil berdecak kagum pada sosok dan kemewahan Miranda bergumam dalam hati, "Aku harus mencari tahu siapa Tante ini? Wajahnya masih terlihat muda ... tapi sepertinya statusnya janda deh ..." seringainya tertawa sendiri. 


__ADS_2