
Membaca pesan dari Miranda, Heru menghentikan langkahnya ketika melihat benda pipih tersebut. Ia tersenyum tipis, kembali menatap layar pipih itu dengan senyuman manis. "Hmm ... ternyata lo juga memiliki perasaan sama gue, Mir. Agh ... kenapa harus Adrian yang selalu menjadi pemenang sejak dulu buat lo, Mir ..."
Perlahan jemari Heru membalas pesan Miranda dengan caranya.
[Gue tidak marah, hanya saja kecewa. Apa sih, kurangnya gue? Mau sampai kapan lo hidup dalam kesendirian yang bergonta-ganti pasangan, Mir. Gue sayang sama lo, cinta banget bahkan. Tapi ingat, gue juga laki-laki yang memiliki harga diri. Kita berhenti dulu bermain-main, karena gue tidak mau melihat lo berada dalam kebimbangan]
Tidak lama Heru mengirimkan pesan pada Miranda, secepat kilat pesan itu terbalas ...
[Lo dimana]
[Parkiran basemen]
[Gue kesana ...]
Kening Heru mengerenyit, ia menggeleng sambil tersenyum tipis membaca pesan dari Miranda. Kepalanya bersandar di jok kemudi seraya berkata, "Ogh Mir ... lo kenapa tidak pernah berubah, sih? Terserah deh ..."
Cukup lama Heru menunggu sang partner ranjang diparkiran mobil, sambil membalas beberapa pesan yang masuk ke email kerjanya. Kedua alisnya menaut, ketika melihat sosok Miranda melenggak-lenggok mendekati mobil sedannya. Gegas ia menekan tombol power window, agar sang janda cantik itu masuk kedalam mobil miliknya.
Tanpa perasaan sungkan, Heru langsung mendekap tubuh ramping Miranda agar kembali merasakan pelukan kerinduan setelah tiga hari berpisah dari sang janda.
Heru mengibaskan rambut gondrongnya, kemudian mencepol tinggi selayaknya seorang seniman, "Lo kenapa sih, hmm?"
"Lo yang kenapa? Kenapa lo pergi begitu saja dari restoran, please ... jangan menjauh dari gue, karena Adrian akan berangkat ke Lombok minggu depan. Jadi gue tidak bisa jauh dari lo, Heru." Ia bersungut selayaknya gadis kecil yang enggan ditinggalkan oleh kedua orang tua.
Terdengar suara tawa Heru yang seakan-akan mengejek Miranda, "Dengerin gue, Mir. Lo yang sampai saat ini belum bisa menentukan sikap dan kedewasaan, hingga sekarang. Kasihan sama badan lo, kasihan sama Ibu Suri dan Pak Anderson, Mir. Gue tulus cinta sama lo, walau sesungguhnya hingga detik ini hati lo masih terbagi dengan masa lalu, tapi kita bersama sejak enam bulan lalu, Mir. Apa lo lupa, kalau kita juga sudah jauh menjalin hubungan tanpa ikatan ini!"
Kedua bola mata Miranda seketika berkaca-kaca mendengar penuturan seperti itu dari Heru, ia juga merasakan hal yang sama terhadap pria gondrong romantis itu. Sesungguhnya saat ini, ia juga kehilangan sosok pria melankolis seperti Heru yang selalu memberikan ketenangan pada batin tanpa ada perlawanan yang berarti.
"Ta-ta-tapi Ru ..."
"Tapi apa? Lo lebih lama menjalin hubungan dengan Adrian, hmm?" Ia menghela nafas panjang, melebarkan pandangannya kearah lain. Wajahnya yang lumayan tampan seketika tersenyum tipis, "Gue nunggu lo, sampai kapan pun. Turunlah ... jangan buat sang gitaris menunggu terlalu lama."
Kembali Miranda memeluk erat tubuh Heru yang masih dirindukannya. Enam bulan bersama membuat ia terlena akan menjadi tempat persinggahan yang awalnya tanpa perasaan. Akan tetapi saat ini, perasaannya terasa hampa dan kosong.
Heru bukanlah sama dengan Adrian, kedua-nya sama-sama seniman, namun memiliki keangkuhan dan cara yang berbeda dalam menyikapi lawan untuk menakhlukkan hati seorang Miranda.
__ADS_1
***
Malam semakin larut, Miranda tengah duduk di balkon apartemennya yang langsung menghadap gemerlap pekatnya malam. Ia duduk seorang diri, tanpa mau berbasa-basi dengan Dean ketika berpapasan di pintu loby apartemen.
Seperti biasanya, jika malam Miranda hanya memainkan layar gawainya untuk mencari informasi tentang Tyas. Pesan terakhir yang ia lihat merupakan pernyataannya sebagai seorang janda yang belum ada jawaban dari wanita tengah mengandung diseberang sana. Membuat ia hanya tersenyum tipis menatap gawai pintar miliknya seorang diri.
Telinganya seketika awas, mendengar dentingan lift yang naik mengarah ke tempat tinggalnya, membuat Miranda langsung memasang wajah cemberut karena mengetahui siapa yang datang.
Wajah yang awalnya sengaja cemberut untuk menyambut sang kekasih, membuat Miranda semakin tergagap ketika melihat sosok wanita yang tengah mengandung masuk ke area kediamannya membawa serta sang mantan kekasih, Dean.
Miranda menelan ludahnya berkali-kali, keringat dinginnya tiba-tiba membasahi keningnya, membuat ia semakin tampak salah tingkah, bergumam dalam hati, "Sialan ... ngapain Adrian pakai bawa-bawa Tyas segala ke apartemen aku? Agh ... bikin suasana semakin kacau saja ..."
Akan demikian, Adrian langsung menghampiri janda cantik itu, kemudian mengecup lembut bibir Miranda dihadapan Dean yang sama-sama salah tingkah karena kejadian beberapa hari lalu.
"Sayang, kamu masih ingat sama Tyas? Hmm, anak ilmu pengetahuan sosial, yang selalu mengidolakan Didi Riyadi," tutur Adrian memecah kekakuan dua insan yang telah melakukan kesalahan.
Miranda tersenyum sumringah, ia menghulurkan tangannya dengan cepat menariknya kembali karena tidak ingin terlalu lama bersentuhan dengan Tyas. Ia mengusap lembut tengkuknya seraya berkata, "Silahkan duduk, maklum saja apartemen seorang wanita single, jadi agak berantakan. Apa kabar Tyas?"
Tyas mengusap lembut perut buncitnya, kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang tersedia sambil menoleh kearah Dean. "Bang, sini duduk dekat aku!" Ia kembali mengalihkan pandangannya kearah Miranda sambil menjawab pertanyaan janda cantik itu, "Alhamdulillah baik, Mir. Kamu ternyata semakin cantik saja, ya?" Pujinya melirik kearah Dean dengan tatapan mata penuh pertanyaan.
Dengan santai Tyas menjawab pertanyaan Miranda, "Kebetulan ada pelatihan di Hotel Talisa selama satu minggu, dan sekalian saja menghubungi Adrian. Ternyata kalian sudah tinggal bersama, jadi ya ... hitung-hitung reuni."
Miranda menelan ludahnya, ia melirik kearah Adrian mengisyaratkan ketidaksukaannya pada sikap pria itu yang mengundang Tyas tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Kebiasaan, selalu berbuat sesuka hatinya, bagaimana kalau aku menggunakan underwear saja, dasar laki-laki posesif ...!"
Gegas Miranda membawakan minuman juga makanan kecil dan menaruh diatas meja, sambil berseru dengan wajah berseri-seri yang sudah di setting sedemikian rupa, "Hmm ... berhubung aku lapar, Ayang bisa beliin makanan tidak di restoran bawah? Kasihan ni, ibu hamil belum makan malam," titahnya mengusap punggung sang kekasih.
Tanpa pikir panjang, Adrian yang tidak menyukai Miranda merengek karena lapar dengan penuh semangat ia mengajak Dean untuk membeli makanan bersama, "Kita turun ke bawah, Bro! Gue enggak tahu makanan kesukaan bini lo!"
Dean yang sejak tadi masih gelisah, hanya mengangguk setuju, kemudian beranjak dari duduknya menuju pintu lift, meninggalkan Miranda dan Tyas di sana.
Sesungguhnya ada kegetiran dihati Dean meninggalkan sang istri bersama janda cantik itu. Ia takut Miranda akan mengatakan hal yang tidak-tidak, karena ia sangat mengetahui bagaimana sifat janda cantik itu.
Dalam benak Adrian, ia sengaja mengerjai sahabat sekaligus kekasih hatinya itu yang masih belum tahu sepak terjang Dean sebagai seorang pembelot.
Kedua pria itu berlalu begitu saja, Miranda tidak memikirkan bagaimana perasaan Dean kali ini. Setidaknya impas jika pria beristri itu menuntut yang bukan-bukan kepadanya.
__ADS_1
Perlahan Miranda menghela nafas berat, memperhatikan Tyas yang tubuhnya tampak semakin berisi karena kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga. Ia mengusap lembut perut buncit Tyas tanpa perasaan sungkan, sambil tertawa cekikikan karena merasa ada yang bergerak dari dalam sana.
"Igh ... pasti seneng banget ya, Tyas. Menikah, hamil, dan punya anak. Hmm ... andaikan nasib ku seberuntung kamu, pasti akan indah memiliki suami yang sangat menyayangi kita," titah Miranda berandai-andai.
Tyas hanya tertawa mengejek, "Kamu juga bisa punya anak sama Adrian, apalagi dia ternyata duda, lho. Pasti dia juga berpengalaman dalam merebut hati seorang janda seperti kamu, Mir!"
Darah Miranda mendesir, senyumannya tiba-tiba pudar jika mengingat ucapan Tyas, "Masih lama aku menikah. Apalagi dengan Adrian, dia terlalu sibuk dan posesifnya ngalahin pak polisi."
Keduanya tertawa terbahak-bahak, saling bercerita membuat Tyas kembali bertanya serius pada Miranda. "Hmm ... apakah benar kamu memiliki hubungan dengan Dean waktu kuliah, Mir?"
Tenggorokan Miranda seakan tercekat, ia hanya tersenyum tipis merutuki sikap Adrian yang sangat menyebalkan, "Coba tanya saja sama Dean, Tyas. Karena aku tidak pernah merasa memiliki hubungan dengan Dean."
Tyas mengusap lembut wajahnya, "Jujur kami menikah karena di grebek sama rukun warga, Mir. Dean waktu itu masih belum siap menikah dengan aku, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menikah dengan aku. Aku tidak tahu dia bisa mencintai aku atau tidak, yang pasti kami harus terus sama-sama ditambah posisi sulit seperti saat ini."
Wajah Miranda hanya tersenyum, ia menjadi pendengar yang baik bagi Tyas. Dalam hatinya bergumam sendiri, "Ini kesempatan emas untuk aku merebut Dean Alexander dari tangan mu, Tyas. Maafkan aku, karena aku sangat berambisi untuk memilikinya dan menjadi istri keduanya ..." Ia menyeringai kecil, kemudian menyuguhkan sepotong kue pada Tyas.
"Makanlah, setidaknya wanita nakal diluar sana menginginkan suami seperti Dean, Tyas. Tentu bukan aku, karena aku milik Adrian. Jadi kamu harus mengisi perutmu agar tida berpikir yang aneh-aneh!"
Mereka berdua tertawa bahagia. Dalam benak Tyas, Adrian memang pantas untuk menjadi pendamping Miranda. Akan tetapi dalam benak janda muda itu, justru ini merupakan langkah awal untuk merebut suami wanita hamil tersebut, tanpa perasaan sungkan ataupun bersalah.
***
Di restoran apartemen, dua pria Adrian dan Dean justru tengah perang dingin karena membahas tentang Miranda dan Tyas. Wajah tegas keduanya saling bermusuhan ketika membayar semua pesanan untuk kedua wanita tersebut dihadapan kasir.
"Biar gue yang bayar! Gue tidak sudi menerima pembayaran dari uang lo! Bisa-bisa calon bini gue muntah-muntah karena terima makanan ini," sungut Adrian menyodorkan uang pecahan seratus sebanyak beberapa lembar.
Dean bergidik, "Anjing banget mulut lo, Bro! Asal nyarocos saja, tahu apa lo tentang gue, hmm!"
"Banyak Bro! Gue tahu sepak terjang lo di Anugerah Finance, jadi jangan macam-macam lo! Lihat siapa yang lo permainkan, buktinya posisi lo jadi tidak aman, kan?" Adrian tertawa kecil sambil mendecih menatap kearah Dean.
"Akan gue buktikan kalau gue tidak bersalah, dan semua itu ulah bagian keuangan pusat yang sengaja menjebak gue. Lo lupa, siapa keuangan Keluarga Anderson yang keluar masuk penjara karena kasus yang sama, hmm?" Dean kembali membela diri.
Kening Adrian mengerenyit, dia memikirkan nama-nama yang telah ia kantongi dari Anas beberapa jam lalu. "Apakah benar pelakunya secretaris Pak Anderson, kan dia wanita lugu yang bernama Suci ...?"
__ADS_1