
Perasaan Heru sedang tidak baik-baik saja. Masih terngiang-ngiang ditelinganya tentang Miranda yang menginginkan menjadi istri kedua dari seorang Dean demi ambisi wanita yang menjadi partner ranjangnya beberapa waktu lalu. Bersusah payah ia menahan rasa kecewanya terhadap Miranda, akan tetapi kali ini ia akan berusaha untuk memperjuangkan cintanya.
"Kenapa harus Dean, Mir, gue kurang apa? Bahkan kita selalu menghabiskan waktu liburan bersama. Kalau ini tidak menyangkut permintaan Ibu Suri dan juga pihak Om lo! Mungkin gue akan membawa lo pergi dari kota ini. Ngapain lo kerja begituan, terus jadi wanita kedua untuk pria beristri ..."
Berulang kali Heru memukul kasar stir kemudi yang ada dihadapannya, menghentikan kendaraannya didepan salah satu hotel berbintang dikota minyak tersebut. Ini bukan kali pertama ia menginjakkan kaki dikota serumpun tersebut.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Heru meraih gawainya mencari nomor telepon Miranda. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi sang sahabat untuk menanyakan dimana keberadaan wanita cantik tersebut.
[Lo dimana, hmm]
Terdengar suara berat Miranda dengan satu dessahan yang tak asing ditelinganya.
[Ahh ... ogh, ya wait. I'm coming]
Kening Heru mengerenyit masam, ia sebagai pria normal dapat merasakan apa yang dilakukan oleh Miranda diseberang sana. Dengan rahang yang mengeras, lagi-lagi ia hanya mendengus dingin kemudian mengusap kasar wajahnya. "Agh ... ternyata lo, masih senang bermain-main dengan pria yang hanya memanfaatkan keadaan, Miranda!" Ia berteriak keras, setelah mengakhiri panggilan teleponnya bersama wanita cantik yang tengah melepaskan dahaganya.
Cukup lama Heru termenung didalam mobil. Ia hanya bisa menutup wajahnya dengan rambut ikal yang terikat tinggi dan tatapan kosong karena perasaan kecewanya terhadap Miranda.
Perlahan Heru menghela nafas berat, mengedarkan pandangannya kearah lain, hanya untuk sekedar memastikan posisi parkiran kendaraannya. Kali ini ia sudah kalah dan tidak memiliki kuasa dalam meraih kemenangan disana, membuat ia hanya bisa berpikir waras demi mencuri waktu Miranda. "Dimana anak itu stay saat ini?" Ia mengerenyitkan keningnya, menatap layar gawai sambil berbicara sendiri. "Beny pasti tahu nih, dimana anak manja itu tinggal. Kalau dapat alamatnya, gue culik lo malam ini, Mir, lihat saja!" Ia menggeram melirik kearah lain seraya menyeringai kecil.
[Mane lo, Bro ...]
[Hmm ... masih di jalan mau kembali ke hotel, kenape? Pasti lo call gue hanya mau menanyakan Ayang Mimir, kan]
Tawa Heru pecah, entah mengapa ... walau sesungguhnya ia baru mengenal Beny, namun pria hitam manis itu sangat asyik diajak berbincang-bincang tentang semua hal, termasuk tentang putri kesayangan Anderson yang menjadi pilihannya.
[Sial lo, cepetan jawab ... dimana anak itu tinggal? Gue mau nyusul dia, kali aja bisa menghabiskan malam bersama, lo mau kemana lagi ...]
[Gue mah ... karena pendatang, jadi terserah si boss mau ngajakin kemana. Yang pasti kagak bisa jalan sendiri kayak lo. Lo maah ... keluarga masih banyak di sini. Nah, gue ... emak bapak masih berada di Singa, makanya gue sebatang kara jadi kacungnya Multy Strada, buat jadi baby sitter pewaris tahta]
__ADS_1
Mendengar celotehan Beny diseberang sana yang selalu bicara suka-suka dengan pemikiran sendiri, kembali Heru tertawa cekikikan.
[Lo kirimin alamat apartemen atau rumah Miranda ye, Bro! Biar gue jemput dia, gue yakin ... Miranda tidak akan pernah bisa menolak lagi ...]
[Wait ... Miranda stay di kediaman Om Monata. Nah, rumahnya dimana ... gue kagak tahu, tuh. Coba lo cari aja di google. Kali aja nemu]
Wajah Heru mengkerut dua belas, ide Beny hanya khusus untuk menghibur perasaannya yang dilanda kegelisahan. "Sial ni anak jin, emang Om Monata siapa. Mana ada rumahnya diumumkan di google. Dasar anak jin iprit ...!" Ia mengumpat dalam hati, kemudian berkata lagi karena menyadari bahwa telponnya masih tersambung.
[Dah agh! Nanya sama lo, sama saja gue nanyain orang ilang! Bye ...]
Kembali Heru melajukan kecepatannya, menuju kediaman keluarganya yang berada tidak jauh dari taman kota.
Akan demikian, kembali darahnya mendesir ketika mendengar panggilan telepon dari wanita pujaan hatinya. Tanpa menunggu lama, ia meraih benda pipih itu dan langsung menjawab teleponnya.
[Ya]
[Hmm ... bisa kita ketemu]
[Dimana]
[Hotel]
Tidak terdengar jawaban Miranda diseberang sana, membuat Heru benar-benar semakin yakin, bahwa wanita cantik itu tidak menginginkannya lagi.
[Mir ... kenapa lo diam]
[Hmm ... kita ketemu di cafe saja. Gue sudah menikah dan gue tidak mau mengkhianati pernikahan gue]
[Oke, gue tunggu di share lokasi dari lo. Yang pasti gue kangen sama lo]
__ADS_1
Tiba-tiba saja Miranda mengakhiri panggilan teleponnya dan langsung mengirimkan pesan singkat dimana mereka akan bertemu.
Heru hanya tersenyum tipis, meremas kuat benda pipih yang masih berada digenggaman. "Dasar wanita yang tidak punya perasaan dan harga diri lo, Mir. Mau-maunya lo jadi yang kedua demi ambisi!"
Lagi dan lagi Heru melajukan kendaraannya menuju cafe yang tidak jauh dari tempat kendaraannya berhenti dengan kecepatan tinggi, karena perasaan kecewa juga sakit hatinya.
***
Ditempat yang berbeda, suasana yang awalnya terasa sangat sejuk, kini menjadi hangat setelah menghabiskan waktu bersama suami tercinta walaupun harus kecewa. Dengan langkah gontai, Miranda yang belum mendapatkan kenikmatannya dalam bercinta bersama Dean hanya mengecup lembut punggung pria yang sudah menjadi suami sahnya itu.
Tangan lembut nan terasa halus itu melilit di pinggang Dean, sambil bertanya dengan nada lembut, "Kok, saat ini kamu beda, Sayang? Bukankah waktu itu kita menghabiskan malam yang indah, hmm. Kenapa hari ini justru sampai paha kamu sudah selesai?"
Merasa tangan halus itu mengusap lembut dada serta hidung mancung yang menempel dipunggung kekarnya, Dean membalikkan badannya agar bisa menatap wajah cantik sang istri. Ia menangkup wajah Miranda seraya mengecup bibir merona itu dengan sangat lembut. "Maaf sayang, pikiranku lagi mumet banget." Ia mengusap lembut punggung istrinya yang sudah tampak cantik dengan balutan kasual juga mewah dan langsung mengalihkan perhatiannya, "Kamu mau kemana lagi, hmm?"
Miranda tampak kebingungan, mencari alasan untuk membohongi Dean, "Ehm ... aku mau ketemu sama Om Anas dulu. Nanti malam kita makan malam sama Om, ya?"
"Oke." Dean merogoh kantong celananya, kemudian mengambil dompet dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan kepada Miranda. "Kamu pegang ini dulu," kecupnya pada kening sang istri seraya melanjutkan ucapannya.
"Karena hari ini aku baru saja mengirim uang untuk Zian. Jadi kamu pegang satu juta setengah ini dulu, ya? Besok kalau ada lagi, aku tambahin. Oya, uang untuk membeli rumah sudah aku transfer ke account kamu, tapi hanya tiga puluh juta. Kalau kamu enggak sibuk, silahkan lihat-lihat rumah di sini. Biar kita bisa tinggal sama-sama. Tidak harus menginap di kediaman Om Monata lagi."
Ketulusan seorang Dean Alexander terlihat nyata dimata Miranda. Apapun alasannya wanita cantik itu tetap menginginkan pria yang memiliki istri itu untuk menjadi pilihan hidupnya. Dengan tangan mengusap lembut wajah tampan sang suami dengan perasaan bahagia walau belum sempurna, ia berkata, "Sebenarnya aku enggak butuh uang mu, Dean ... karena aku punya uang sendiri!"
Kening Dean mengerenyit masam, bola matanya membulat sempurna ketika menatap iris mata lentik yang sangat indah itu, karena mendengar penegasan dari bibir sang istri. "Jadi ... apa yang kamu mau dari aku, hmm?"
Tanpa sungkan, Miranda mengusap bagian sensitif sang suami yang sudah tertidur pulas dengan penuh kerinduan seraya berbisik manja, "Aku hanya membutuhkan 'ini' ... tidak ada yang lain, Sayang!"
Seketika tangan itu mengusap lembut tanpa berhenti, membuat Dean harus memejamkan kedua bola matanya, "Sorry Sayang ... aku memang tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu jika kondisi seperti ini ..."
"Agh ... kenapa aku harus mendengar jawaban seperti ini dari bibir mu, Dean ..." Miranda mendengus kesal dalam hati dengan pikiran menerawang jauh entah kemana.
__ADS_1