Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Bukan anak kandung Dean


__ADS_3

Kantor pemasaran yang terasa sangat sejuk, membuat wanita bertubuh profesional itu hanya tersenyum lega ketika memberikan identitas pengenalnya, berupa paspor. Ya ... Miranda masih berstatuskan sebagai pendatang yang memiliki usaha di Indonesia, namun bisa menjadi seorang aparatur sipil negara karena sang paman melakukan apapun demi mewujudkan impian keponakan kesayangan.


Akan tetapi, lagi-lagi Dean menghubungi sang istri hanya untuk memastikan bahwa ia sudah sudah mentransfer kekurangan dana ke rekening Miranda.


[Sayang, sudah aku transfer tiga puluh juta lagi. Maaf Mir, aku baru bisa memberikan segitu dulu. Karena keuangan ku sudah menipis. Mana Tyas mau berangkat ke sini lagi. Agh ...]


Mendengar kata transfer membuat hati Miranda seketika berbunga-bunga. Bukan dari nominalnya, melainkan kepedulian Dean terhadap keputusan yang diambil olehnya mendapatkan dukungan penuh dari sang suami tercinta. 


Miranda tertawa cekikikan, selayaknya pasangan suami istri kebanyakan. Ia menggoyangkan kaki mulusnya seraya menutup speaker untuk berbicara kecil, agar tidak terdengar oleh dua orang yang duduk dihadapannya saat ini.


[Hmm ... terimakasih suamiku sayang. Kalau untuk Tyas, bukan urusan aku, Dean. Ya sudah, aku melakukan pembayaran dulu, ya suami tercinta kuhh ... jadi minggu depan kita sudah bisa menempati rumah baru]


[Ighs ... kamu tuh ngegemesin banget, sih? Ya sudah, jangan salah-salah tanda tangannya. Perhatikan juga pajaknya, Sayang. Kamu hati-hati ya ...]


[Hmm ...]


Senyuman manis menguar diujung bibir Miranda yang tampak sensual, membuat Robert yang duduk dihadapan wanita berstatus sebagai istri kedua itu mabuk kepayang.


"Bagaimana Dek Miranda? Sepertinya Pak dokter tidak bisa datang ke kantor karena ada tindakan. Apakah kita bisa melanjutkan jual belinya?" Robert memperbaiki posisi duduknya, karena perasaan gelisah oleh cara duduk Miranda mampu membangunkan sesuatu miliknya.


Kedua alis Miranda menaut, ia menoleh kearah Lela, "Kenapa jadi Abang yang antusias, kenapa bukan marketing perumahan ini yang mendesak saya?" Sesalnya mengedarkan pandangan kearah lain.


Gegas Lela menghayunkan tangannya, sebagai isyarat bahwa Robert tidak memiliki peranan dalam transaksi jual beli mereka hari itu, "Bu-bu-bukan begitu Bu Miranda. Pak Robert karena tidak sabar untuk bertetangga dengan Ibu!" Ia menoleh kearah Robert, meminta agar pria paruh baya itu tidak ikut campur dalam urusan mereka.


Tanpa mau menunggu lama, Miranda menandatangani beberapa perjanjian jual beli, setelah menelitinya dengan sangat baik. Ia merupakan wanita yang sangat serius jika berurusan perjanjian dengan uang. Bukan karena takut tertipu, akan tetapi ia tidak suka memberikan tips ataupun basa-basi untuk melebihkan angka dalam bentuk apapun.

__ADS_1


Setelah merasa cukup aman, Miranda menandatangani perjanjian jual beli mereka, kemudian mentransferkan dana sebagai down payment. Ia sama sekali tidak keberatan dengan angka yang disebutkan oleh Robert, karena bentuk rasa hormatnya kepada pimpinan. Namun lagi-lagi ia menghubungi Haris untuk memberikannya harga spesial, tanpa sepengetahuan dua orang yang duduk dihadapannya melalui pesan singkat whatsApp.


[Om, kasih harga modal saja, ya ... nanti untuk fee marketing ini, biar aku yang bayar ...]


[Oke Mir ... Om ikut saja. Ini cash keras, kan? Yang penting Om kasih kamu diharga enam ratus tiga puluh nett, ya. Pajak penjual dan pembeli biar Om saja. Oke Dear ... bye]


Jawaban singkat dari Haris, membuat Miranda kembali mengulas senyuman manis. Ia menoleh kearah Lela kemudian berkata pelan, "Saya transfer ke rekening perusahaan seratus juta dulu dan besok kita pelunasan. Mungkin saya akan membawa suami kesini, karena saat ini beliau masih ada pekerjaan. Satu lagi, tolong yang saya jelaskan tadi dirubah. Karena menurut fengsui-nya kurang baik!"


Ibarat mendapatkan durian runtuh, Lela yang berjanji akan memberikan uang ucapan terimakasih kepada Robert tersenyum sumringah. Berulangkali tangan kanannya mengusap lembut dadanya, merasa bahwa Miranda memang buyer yang tidak banyak bicara, akan tetapi sangat angkuh juga teliti.


Bukan hanya itu, Miranda sangat detail dalam menjabarkan satu persatu permintaannya dihadapan Boy sebagai mandor muda yang menjadi arsitek dalam desain interior rumah minimalis modern tersebut.


Ketika Miranda akan meninggalkan kantor pemasaran perumahan cluster terbatas tersebut, ia dikejutkan dengan munculnya Boy secara mendadak dihadapannya. "Astaghfirullah, kenapa kamu muncul kayak jelangkung, sih!" geram Miranda mengurut dadanya karena keterkejutan pertemuan mereka yang kebetulan.


Satu alias Miranda naik turun, ia meletakkan kunci mobilnya didalam tas kembali dan langsung berkata dengan senyuman manis, "Bagaimana kalau kita lihat ke dalam, Boy? Karena saya tidak bisa berlama-lama, jadi kalau hanya menambahkan lampu hias saja, dua gari lagi saya sudah bisa menempati rumah ini. Jadi tolong maksimalkan untuk segera melakukan pengecekan!"


Dengan senang hati, Boy langsung mengangguk setuju penuh semangat empat lima. "Baik Mba ... jika itu perintah, akan saya kerjakan dengan segera. Karena tadi Pak Haris sudah menghubungi saya dan Ibu Sonya ternyata sangat mengenal Mba Miranda!" tuturnya menggoda wanita cantik itu.


"Agh kamu, terlalu lebay! Dah yuk ... saya tidak bisa lama!" Jelas Miranda meninggalkan Lela juga Robert yang hanya menelan ludahnya berkali-kali, melihat kedekatan Miranda dan Boy.


Bukan hanya dekat, ternyata Boy merupakan keponakan Haris yang kuliah di universitas ternama di Jakarta. Tentu saja pria muda nan berprofesi sebagai mandor tampan itu mendapatkan tempat sepesial menarik perhatian Miranda.


Keduanya melenggang ke rumah yang tampak asri tersebut, untuk memastikan kondisi permintaan Miranda juga penjelasan Boy. Fengsui yang dianut Miranda sebagai keberuntungan, membuat ia semakin teliti sebelum membeli.


Dari peletakan tiang didepan rumah sebagai penerangan lampu jalan yang sedikit ke kiri dan cahaya matahari pagi serta penitilasi udara jika ia tidak berada dirumahnya nanti. Membuat Miranda menjelaskan kepada Boy tanpa melibatkan Lela yang hanya menjadi pendengar juga penonton. 

__ADS_1


"Yang penting tolong kamu ubah saja tata letak dapur ini, karena saya lebih suka menghadap kearah taman belakang ini. Kalau bisa ruangan londry ini, tolong jangan di partisi seperti ini!" Tutur Miranda menepuk-nepuk partisi yang sangat mengganggu pemandangannya.


Tidak ingin berdebat, Boy mengangguk setuju dan mencatat semua permintaan wanita cantik yang ternyata sangat cerewet tersebut.


Ketika Miranda tengah asyik berbincang-bincang dengan Boy, tiba-tiba gawainya kembali berdering. Cepat ia merogoh gawai dari dalam tas tangan miliknya kemudian menautkan alisnya bergumam dalam hati, "Tyas? Ngapain anak itu menghubungi aku lagi, apakah dia tidak ada kerjaan ...?"


[Ya halo ...]


[Besok pagi saya tunggu kamu di rumah Kak Lia pukul sebelas]


[Kamu siapa? Kenapa saya harus mengikuti perintah kamu, hmm]


Terdengar suara mendengkus diseberang sana, membuat Miranda tertawa cekikikan seraya menghindar dari karyawan Dokter Haris.


[Hei ... janda gatal! Kamu sudah mengambil suami aku, malah kamu yang merasa punya kuasa. Hebat bener kamu menjadi seorang pelakor. Apakah kamu melupakan Adrian, hah? Apa kamu lupa kalau kalian juga sudah tinggal bersama, jallang ...]


[Wowhh ... tapi sayang sekali Tyas yang cantik dan baik hati juga bodoh! Dengar ya, saat ini aku lagi hamil anak Dean! Jadi jangan pernah menghalangi kebahagiaan kami, karena sebentar lagi suami mu akan pindah kepemilikan ...]


Bagai disambar petir disiang bolong, Tyas diseberang sana semakin ketar ketir dan tersulut emosi. Bagaimana mungkin seorang Dean menghamili Miranda sementara Zian hasil dari perselingkuhannya beberapa tahun lalu dengan atasannya.


[Tidak Miranda, kau tidak mungkin hamil anak Dean, karena dia tidak bisa memiliki keturunan, aku sangat tahu bagaimana seksualitas suami ku, janda gatal ...]


Mendengar penjelasan Tyas yang tengah dilanda kegundahan hati luar biasa sehingga dirinya keceplosan dalam bertutur kata, membuat Miranda langsung membalikkan serangan.


[What? A-apakah anak kalian itu bukan anak kandung Dean, Tyas? Hmm ...  aku tidak ingin berdebat dengan wanita murahan seperti mu! Bye ...]

__ADS_1


__ADS_2