Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
What the hell


__ADS_3

Langkah kaki Marisa terhenti diruang tamu kediamannya, ketika bersitatap dengan Adrian juga wanita yang memiliki postur tubuh kurus juga tinggi. Melihat rambut Tyas yang terikat asal, membuat Marisa berpikir sejenak dalam hati. "Pantas saja Dean lebih memilih Miranda daripada wanita ini. Agh ... keponakan Uda lagi dalam masalah besar ..."


Marisa menghempaskan tubuhnya di sofa, sambil berpangku tangan seraya menatap sinis kearah Adrian. Satu tunjuknya mengarah pada pria yang berprofesi sebagai musisi itu, "Beraninya kamu mencari Miranda di sini? Sudah berapa lama kalian tidak menjalin komunikasi, hmm?" Alisnya terangkat satu, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Tyas yang tampak kebingungan.


Kembali Marisa melaksanakan kepiawaiannya dalam berakting dengan cukup baik, hanya untuk melemahkan lawan. "Ini siapa, apakah wanita ini istri kamu?"


Mendengar pertanyaan Marisa yang seolah-olah tidak mengenal Tyas, cepat Adrian menggelengkan kepalanya dengan wajah merah dan kebingungan. "Ti-tidak Tante, i-i-ini istri pertama Dean!"


Mulut Marisa membulat sempurna, ketika mendengar penuturan seperti itu dari Adrian yang mengatakan bahwa wanita dihadapannya merupakan istri pertama Dean. "Ogh ... kamu istri Dean?"


Gegas Tyas mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lantai dua untuk melihat-lihat sekelilingnya memastikan keberadaan Miranda. "Hmm ... apakah Miranda ada dirumah?" Ia bertanya seolah-olah Marisa merupakan wanita yang seumuran dengannya.


Dengan angkuhnya Marisa hanya mendecih dan menghela nafasnya dalam-dalam. "Kamu bertanya sama siapa? Bukankah diruangan ini hanya ada kita bertiga? Kenapa kamu tidak bisa sopan jika bertamu ke rumah orang lain, apakah kita saling mengenal sebelumnya dan tujuan apa tujuan kamu mendatangi kediaman saya mencari Miranda, hah?"


Tyas yang awalnya datang dengan amarah meledak-ledak, sehingga ia melupakan tata krama bertamu dikediaman orang terpandang seperti Monata yang ia ketahui sebagai pria berpangkat jenderal dengan posisi yang sangat sulit untuk melakukan penyerangan, seketika menyurutkan niatnya saat mata itu mengarah pada bingkai foto keluarga nan mewah yang terpampang di ruang tamu.


Kembali Tyas hanya bisa menelan ludahnya sendiri, dengan perasaan yang bercampur aduk merutuki kebodohannya juga langkah Adrian yang sengaja membawanya kekediaman Keluarga Miranda. "Ma-ma-maaf Tan, perkenalkan saya Tyas. Istri dari Dean Alexander yang bekerja diperusahaan leasing dikota ini." Ia menundukkan wajahnya dan hanya bisa membendung amarah yang membuncah seorang diri.


Melihat tingkah kekanakan Tyas, Marisa hanya tersenyum tipis, "Silahkan duduk! Saya akan menghubungi suami kamu, untuk menjemput istrinya di sini." Ia mencari nomor telepon Dean seraya bergumam dalam hati, "Aku tidak tahu nomor telepon Dean. Apakah aku harus menghubungi Miranda? Agh ... jangan-jangan, anak itu tengah mengandung, aku tidak boleh memberikannya beban pikiran. Biar pria itu saja yang menghadapi istrinya sendiri ..."


Marisa menghubungi Anas dengan suara yang sangat khas ditelinga Adrian, membuat pria berstatus suami Renita itu meremang ketika mendengar suara lembut wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


[Abang dimana, bisa kirimkan nomor tersebut Dean? Ada tamu yang menjadi menantu kita ...]


Mendengar ucapan Marisa seperti itu, membuat Anas langsung menjawab.


[Lagi di kantor, siapa yang mencari Dean? Dari tadi anak itu izin karena mengurus rumah yang baru dibeli oleh Miranda.]


[Ada wanita bernama Tyas, yang mengaku sebagai istri pertama dari Dean. Jadi daripada dia menunggu terlalu lama dirumah, lebih baik suaminya yang menyelesaikan permasalahan mereka tanpa melibatkan keponakan kita ...]


Hati istri mana yang tidak akan terasa sakit, ketika mendengar ucapan seperti itu dari Marisa. Hal yang wajar bagi Tyas untuk menemui Miranda, karena saat ini ia telah cukup sabar menghadapi kenyataan pahit dalam rumah tangganya sendiri. Apapun alasannya, Tyas merasa dirinya saat ini berada diposisi yang benar untuk merebut Dean kembali. 


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Anas, Marisa meletakkan benda pipih itu disampingnya, seraya memanggil pembantu rumah tangga, "Bik!" Ia masih menatap tenang kearah Adrian juga Tyas bergantian.


"Iya Nyonya!" Wanita paruh baya itu menghampiri sang majikan dengan tangan membawa satu nampan teh manis hangat serta cake coklat.


Ingin rasanya Tyas mencaci maki Marisa yang seakan-akan mendukung sang keponakan untuk menjadi wanita simpanan dari sang suami. Berkali-kali tangannya saling menaut, meremas kuat dengan jantung berdegup kencang.


Akan demikian, entah itu merupakan satu keberuntungan bagi Tyas untuk mempertahankan rumah tangganya atau kebetulan yang ternyata melihat sosok wanita dan pria yang masuk dengan tawa canda saling bergandengan tangan.


Semua mata tertuju pada pintu ruang tamu yang terbuka lebar, membuat Miranda langsung menghentikan langkahnya ketika bersitatap dengan Tyas dan Adrian yang ada dihadapannya kini.


Posisi Tyas yang awalnya duduk di sofa mewah itu, seketika berdiri ketika melihat wajah sang suami yang tertawa renyah penuh bahagia sambil merengkuh pinggul Miranda dihadapannya. Tangan Dean terlepas dari pinggul Miranda saat melihat istri pertama ada sudah berdiri dan berhamburan mendekatinya.

__ADS_1


Sementara Miranda langsung berlindung dibalik punggung Dean, karena tidak menyangka akan kedatangan tamu yang tidak diundang pagi itu.


"Berani sekali kau menggandeng janda gatal ini dihadapan aku, Dean! Apa kau lupa, bahwa kau memiliki anak sama aku, hah!? Aku istrimu, Dean! Istri sah mu!" Hardik Tyas dengan suara lantang menggema diruang tamu dengan tatapan nyalang kearah Miranda yang tampak ketakutan.


Cepat Marisa melerai pertikaian antara suami-istri itu, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada keponakan suaminya. "Hei! Apakah Anda tahu saat ini berada dikediaman siapa, hmm? Kalian masih berada di kediaman saya! Silahkan pergi jika mau perang, karena saya tidak menyukai keributan!" Suaranya terdengar lebih tinggi dan garang dari Tyas yang langsung menoleh kearah Marisa.


Dengan dada turun naik, air mata Tyas yang tak terbendung lagi mengalir begitu saja, menoleh kearah Marisa dan Adrian berharap ada belas kasih dari mereka berdua yang tidak ingin ikut campur dalam pertikaian itu. "Tapi keponakan Anda yang ingin merebut suami ku, Tante! Apa tidak ada pria lain diluar sana untuk dijadikan suami? Jangan suami aku, karena Dean Alexander masih sah menjadi suami aku!" Ia terisak kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sebagai seorang wanita, tentu Marisa merasa iba melihat Tyas dan menggelengkan kepalanya kearah Miranda agar tidak terlalu lama dalam situasi ini. Gegas ia menghampiri Miranda, kemudian menarik tangan sang keponakan agar menjauh dari Tyas seraya berkata tegas, "Silahkan bawa suami kamu pulang! Tapi tidak dengan mobil suami saya! Kalian bisa pergi, karena Miranda tengah mengandung anak Dean!"


Jedeeer ...


Pernyataan Marisa membuat kedua bola mata Adrian juga Tyas membulat besar dan langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Miranda yang seolah-olah merdeka, karena telah mendapatkan perlindungan dari Tante Marisa.


Tanpa perasaan sungkan, Adrian langsung menghampiri Miranda dan langsung bertanya pada wanita itu, "Benarkah kamu hamil, Mir? A-apakah benar Dean bapak dari anak itu? Bukankah kita juga baru menghabiskan waktu bersama malam itu?"


Pertanyaan Adrian membuat mereka tampak kebingungan. Dean yang awalnya tampak bahagia seketika tersulut emosi, sambil berkata dengan keras dihadapan Tyas, "Jangan asal bicara kau, Bro! Tidak mungkin istriku tidur dengan mu, karena kami saling mencintai!"


Sementara itu, Marisa seperti tengah berada dalam gulungan ombak yang sangat memusingkan. Ia menggeleng dan bertanya pada Miranda, "Benarkah apa yang dikatakan Adrian, Mir?"


Wajah Tyas seketika berubah seperti pemenang dan menjadi sang juara dalam membuka kedok Miranda yang telah berselingkuh dari suaminya, "Jawab jujur Mir! Bagaimanapun kau dengan Adrian sudah tinggal bersama selama di Jakarta dan aku tahu itu!"

__ADS_1


"Ogh ... Miranda, what the hell ...!"


__ADS_2