
Sari segera menghampiri manager Adi untuk bertanya kebenarannya.
"Manager, apa sebenarnya yang terjadi?"
"Diam kamu! Aku akan menyelesaikan masalah ini denganmu nanti. Sekarang minggir!" Adi kesal dengan sikap Sari yang hampir melepaskan pelanggan besar , dengan pelayanannya yang buruk.
Pada saat yang sama manager keuangan dan juga manager penanganan datang sesuai panggilan Adi untuk membantu menyelesaikan prosedur pembelian Lamborgini Aventador.
Mereka datang dan menyapa Zack dengan hormat.
Sari benar-benar tercengang dan bertanya-tanya dengan sosok pria yang di anggapnya miskin dan berasumsi tak mungkin bisa membeli Lamborghini yang ada.
Hanya demi sepasang pelanggan yang datang, sari sanggup mengusir Zack dengan kasar.
Tak hanya sari, pasangan yang datang itupun juga merasa malu, namun dia berusaha ingin mengelak dan menyembunyikan rasa malunya.
" Manager, sebenarnya kami ingin membeli mobil Gallardo dari pramuniaga ini. Tapi jika ada memperlakukannya seperti ini, sepertinya kami akan berubah pikiran dan mengurungkan niat kami untuk membeli mobil."
" Saya tidak peduli, apakah anda ingin membeli mobil kami atau tidak. Dan anda nyonya! Siapa yang menyuruh Anda duduk di dalam Aventador? saya ingin anda cepat keluar sekarang juga!" Adi berfikir, pasangan itu bukan apa-apa di bandingkan dengan pria pemilik black gold card itu.
Wanita itu nampak malu, saat dirinya di tegur.
Adi dan tim segera mengurus formalitas dan segera menggesek kartunya dan dalam beberapa menit berhasil dikreditkan.
Seketika semua yang sedang melihat-lihat lamborgini tercengang. Mereka pun bertanya-tanya tentang sosok pria yang di anggapnya miskin itu.
__ADS_1
Menjadi pembicaraan semua orang, membuat Zack merasa malu. Tak halnya dengan pasangan muda yang sudah merendahkan Zack.
Zack berjalan menghampiri mobil miliknya." Nyonya bisakah anda keluar, aku ingin melihat interior mobilku kembali." Dengan terpaksa wanita itupun keluar dengan perasaan malu.
Zack memeriksa kembali interior mobilnya dan dia sangat senang. "Akhirnya... aku bisa memiliki sebuah mobil impian." Gumam Zack.
Manager Adi pun akhirnya selesai menguruskan semua dokumen pembelian Lamborgini dan siap diserahkan pada Zack.
" Tuan Albert, ini kunci mobilnya dan ini kartu nama saya, jika tuan ingin menanyakan sesuatu atau apapun jangan ragu untuk menghubungi saya!" ucap Adi dengan hormat, karena menganggap Zack bukan pelanggan terhormat dan Adi merasa tidak akan ada ruginya berkenalan dengan Zack.
" Terimakasih manager Adi. Emm... sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada anda jika tidak merepotkan." Zack berkata dengan tersenyum.
" Iya silahkan. Katakan apa yang anda inginkan."
" Oh! jika itu masalahnya, saya akan melakukannya untuk anda!"
Di saat bersamaan, banyak pelanggan yang menawarkan diri untuk membantu Zack. Sampai Zack bingung cara menolaknya.
Segera saja Adi membawa Zack ke mobilnya dan dia sendiri sendiri yang membantu membawakan mobilnya.
Namun Zack, tidak meminta Adi untuk mengantarkannya sampai ke kampus, walau bagaimanapun, mobil yang dimilikinya adalah mobil mewah dan keren, jika mobil itu sampai masuk ke halaman kamus, tentu saja akan menarik perhatian. Zack tidak ingin terlalu terlihat menonjol, dan seakan memamerkan kekayaan.
Jujur Zack sangat benci dengan orang yang suka memamerkan kekayaan dan juga terlihat sombong, padahal harta yang dimiliki hanyalah milik keluarganya, bukan dari jerih payahnya sendiri.
Zack meminta Adi untuk memarkirkan mobilnya di parkiran agak jauh dari kampus. Setelah itu Adi kembali ke showroom dengan menggunakan taksi.
__ADS_1
Hal sangat konyol bagi Zack. Dia membeli mobil mewah yang merupakan mobil impiannya, tapi dia terlalu malu untuk mengendarainya. Tapi Zack tetap merasa puas, akhirnya dia bisa mewujudkan impiannya untuk bisa memiliki mobil Lamborghini.
Setelah menyimpan kunci mobilnya, Zack meras haus dan dia segera pergi ke penjual es yang ada di dekat kampus untuk membeli es Boba.
Zack melihat seorang gadis yang sedang berada di kasir, sambil menenteng kantong kresek yang berisi es boba dan sepertinya ada masalah.
"Kalau kamu tidak mempunyai uang tunai, kamu bisa menggunakan uang elektronik sebagai gantinya," ucap penjual minuman
"Maaf pak, ponselku mati, dan aku lupa membawa dompet. Jika tidak, bagaimana kalau aku tinggalkan dulu es bobanya disini, aku akan kembali ke asrama untuk mengambil dompet dan akan segera kembali kesini." Sisil berusaha mencari solusi.
"Bukankah dia, Sisil?" gumam Zack saat menyadari gadis yang pernah dia lihat di aula, yang pada saat itu tak sengaja dirinya mengotori sepertinya saat sedang membersihkan aula kampus.
Zack memiliki kasan yang baik padanya, karena dia tindak menghakimi seperti Anisa.
"Hai, jangan bercanda seperti ini. Kamu membeli enam es Boba sekaligus dan ada yang sudah kamu minum. Kalau kamu tinggalkan itu di sini dan kamu pergi tidak kembali, apa yang harus aku lakukan? Ayolah nona, jangan mempersulitku," ucap penjual minuman itu.
Sisil nampak cemas dan bingung apa yang harus dia lakukan.
" Berapa harganya? biar aku yang membayarnya." saut Zack yang tiba-tiba muncul.
Sisil merasa lega saat kebingungan ada yang datang membantu, dan Sisil pun berbalik untuk melihat siapa yang membantunya.
" Kamu..."
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1