
" Ya Tuhan, Sisil sekarang hampir pukul dua dan pacarmu belum juga datang," ucap sepupu Sisil yang lain, namanya Renata anak dari bibinya yang kedua.
"Jangan khawatir, pacarku Zack akan segera datang." Sisil menjawab sambil tersenyum pahit.
"Sisil, maafkan aku karena telah membuatmu menunggu," ucap Zack yang tiba-tiba.
Sisil awalnya mengira kalau Zack tidak naik taksi, jadi dia akan mencari alasan untuk menjelaskan pada Renata, Tapi Zack mengejutkannya saat berjalan mendekat dari arah berlawanan.
"Zack akhirnya kamu datang. Ayo sini, aku akan memperkenalkan saudara sepupuku yang baik." Sisil segera memeluk lengan Zack dengan penuh cinta.
"Ini Renata, sepupu keduaku. Dia empat tahun lembut tua dari kita. Bagaimana menurutmu? dia cantik kan."
Zack melirik Renata sebelum memberi anggukan kecil.
"Tunggu, jika kamu mengatakan Renata cantik, Apakah itu berarti aku tidak cantik lagi bagimu?" Kata Sisil dengan genit. Sisil benar-benar melakukannya akting dengan baik.
"Tidak...tidak... Kamu Sisil... Kalian berdua sama-sama cantik." Jawab Zack sambil membersikan keringat di dahinya.
"Sisil, berhenti menggoda Zack." Renata merasa risih melihat pasangan muda yang sedang main mata. Mungkin karena dia terlalu lama jomblo membuatnya sulit melihat pasangan lain yang menunjukkan kasih sayangnya, termasuk sepupunya sendiri.
Renata melipat tangannya didada.
"Jadi ini pacarnya Sisil?"
"Halo Zack, Sisil sudah menceritakan tentang kamu padaku. Kata Sisil keluarga mu sedang menjalankan bisnis. Kalau boleh tahu bisnis jenis apa yang sedang dikelola keluargamu, kalau aku boleh bertanya?" Renata bertanya masih melihat tangannya.
"Beberapa bisnis dengan industri yang berbeda." Jawab Zack sekenanya, dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah di rencanakan Sisil, tanpa koordinasi, dia menjawab apa yang bisa dia jawab.
"Oh, sepertinya tidak ada jawaban yang solid sama sekali." "Renata menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Oya, kata Sisil kalian bertemu, saat kalian belajar mengemudi. Kamu pasti sudah memiliki SIM kan? sudah punya mobil belum?"
"Yap. Dia punya satu, Dia punya BMW seri 7. Orang tuanya mengatakan kalau dia harus belajar mengemudi dengan baik lebih dulu. Tapi Zack belum benar-benar berani mengendarai mobil sendiri. Oleh karena itu mengapa aku memintanya untuk datang menggunakan taksi." Jalas Sisil.
__ADS_1
"Hah, BMW seri tujuh? dulu ada pria menjengkelkan di kampus Yanga mengendarai mobil sama persis. Dia mencoba mengejar ku, tapi aku menolaknya." jawab Renata sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah Sisil, acara perjamuan ulang tahun nenek akan dimulai, ayo kita segera masuk." Renata sudah kehilangan minat untuk bertanya pada Zack.
Disisi lain, Sisil berbisik. "Zack jangan diambil hati. Renata memang seperti itu orangnya.
Mereka bertiga pun masuk kedalam aula. Semua keluarga datang untuk merayakan ulang tahun. Pada saat ini seluruh aula royal dipenuhi keluarga besar.
Satu persatu menghampiri sang nenek untuk memberikan hadiah dan ucapan.
"Nenek, aku berharap nenek panjang umur, dan semoga keinginan nenek akan menjadi kenyataan."
Wanita berambut putih itu sedang duduk di tengah-tengah seluruh keluarganya.
"Irina, nenek tidak berharap umur panjang lagi. Tapi jika kamu berharap semua keinginan nenek menjadi kenyataan, maka keinginan nenek terbesar adalah ingin melihat kamu menikah." ucap sang nenek sambil menatap Irina.
"Iya nek, kalau begitu izinkan aku memperkenalkan pacarku. Kenalkan nek dia Revan." Irina tersenyum sebelum dia menarik dengan lembut Revan ke sisinya.
Saat Revan berada di samping Irina, semua kerabat langsung mengangguk setuju, saat melihat penampilannya dan juga mereka mendengar identitas keluarga Revan.
Semua orang segera melongo, saat melihat hadiah pemberian Revan. Sebuah cincin giok yang sangat cantik dengan harga yang tek murah.
Setelah sang nenek melihat dia pun mengangguk. "Irina ajak Revan duduk."
Sang nenek sangat gembira dengan hadiah yang diberikan Revan. Semakin nenek itu melihat Revan semakin dia menyukainya begitu juga dengan ayah Irina yang juga merasa bangga.
Faktanya saat ini semua orang berkumpul karena mereka ingin merayakan ulang tahun anggota keluarga yang tertua dimana dialah yang saat ini memegang aset keluarga yang terbesar. Ada tiga putra dan dua putri, dan salah satu diantara mereka akan mendapatkan aset besar nantinya, namun sayangnya untuk saat ini belum ada yang di tunjuk. Hal itu membuat lima saudara dalam lima keluarga saling bersaing untuk mendapatkan hati ibu mereka.
"Nenek ini pacarku Cristy, kami ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk nenek." Karan tersenyum lebar sambil menyerahkan hadiah ulang tahun.
Selanjutnya seorang pria yang berpenampilan sangat rapi dan nampak seperti pria sukses. Dia adalah Miguel saudara kandung Irina.
"Nenek, cucumu mendoakan nenek hidup yang baik dan berkelimpahan dengan keberuntungan."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Nenek, ini pacarku, Quin." Miguel langsung memperkenalkan pacarannya.
"Bagus... Bagus... kalian semua memberi ku kejutan besar hari ini. Quin, kamu bekerja sebagai apa?" tanya sang nenek.
"Nenek, aku bekerja di showroom BMW. Saat ini menjadi wakil manager."
"Apakah kamu bertemu Miguel saat itu ketika dia membeli mobil?"
Miguel mengangguk. " Iya nenek, bukankah aku pernah bilang bahwa aku membawa mobil BMW beberapa waktu lalu. Saat itulah aku bertemu Quin."
"Oh, begitu. Kemarilah Quin duduk disamping ku." sang nenek memberi syarat.
"Kak, datang dan duduklah." Irina pun menyambutnya dengan senyuman.
Semua anak dan cucunya telah mengucapkan selamat dan memberikan hadiah, namun wanita tua itu masih menunggu seseorang. Wanita itu merasa perayaan itu belum lengkap, jika yang di tunggu belum datang untuk mendoakannya.
"Putraku yang kedua, dimana cucuku Sisil?" wanita itu bertanya dengan lantang.
Kejadian beberapa waktu lalu dimana perusahaan Erwin hampir tutup karena manajemen bisnisnya yang buruk dan membuat wanita tua itu sangat marah. Tanpa diduga pada saat yang tepat investasi datang dari Mr, Albert menjadi anugerah keselamatan yang membantu menyelesaikan krisis, bahkan membuat perusahaan lebih melejit ketingkat yang lebih tinggi. Karena itu dia mulai menyayangi Sisil.
Saat sang nenek menanyakan keberadaan Sisil, wajah Irina dan Miguel berubah. Mereka hanya bisa menekan kecemburuan yang meledak di dalam hati mereka
"Sisil sedang menunggu seorang teman dan dia akan segera datang." jawab Helena
"Oh, apa Sisil punya pacar juga?"
"Sepertinya begitu..." Erwin menjawab dengan santai.
Bagaimana, Sisil telah memberitahu sebelumnya bahwa dia akan membawa pacarnya.
"Bu, lihat, Sisil ada disini!"
Pada saat ini, Sisil dengan hati-hati menggandeng Zack saat melewati kerumunan orang.
__ADS_1
Sebenarnya mereka akan sampai lebih awal jika bukan karena Zack yang perlu ke kamar mandi. Hal itulah yang membuat mereka terlambat masuk.
To be continued 🙂🙂🙂