
Zack benar-benar terkejut melihat Nabila bekerja sebagai pelayan di villa. Pantas saja dia menghilang akhir-akhir ini.
Namun demikian, Zack senang Nabila memiliki pekerjaan untuk mendapatkan uang.
"Zack, kenapa kamu ada disini? Apakah ini tempat dimana kamu bisa datang dan pergi dengan bebas? Keluar sekarang!" Usir Nabila dengan dingin.
"Hai, Nabila. Apakah kamu mengenal orang ini?" beberapa pelayan datang menghampiri Nabila. Mereka sama seperti Nabila, bekerja paruh waktu untuk mencari uang.
"Tentu saja aku kenal dia. Dia mantan pacarku." Nabila menatap Zack dengan kesal.
"Apa?! jadi dia bajingan yang mencampakkan kamu setelah memenangkan lotere? orang yang bertinggi seperti orang kaya?"
Para pelayan itu mencemooh Zack dan membanding-bandingkan dengan laki-laki kaya lainnya.
Zack hanya bisa mendesah. Dia baru saja mau bertanya mengapa Amanda tidak ada di sana. Namun dia tidak jadi melakukannya karena gadis-gadis itu mencontohnya dan membuatnya tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Zack, aku beritahu ya, jangan berfikir kamu menjadi hebat setelah memenangkan lotere. Aku benar-benar melakukan kesalahan dan bodoh tergerak oleh ketulusanmu dan menjadi pacarmu. Setelah aku bersama Rangga aku berfikir dia lebih baik dari kamu dan membuatku bahagia. Namun sekarang aku tau kamu tidak lebih dari seorang sampah bagiku," ucap Nabila dengan penuh emosi.
Beberapa hari yang lalu, Nabila meminta bantuan pada Zack, dan menawarkan diri untuk kembali menjadi pacarnya, jika dia mau membantu. Namun Zack menolaknya, itulah sebabnya Nabila sangat marah dan malu.
"Dasar pecundang. Keluar. Jika kamu tidak keluar sekarang, kamu akan panggilkan petugas keamanan!" usir mereka dengan dingin.
"Nabila, lihat ada tuan Bobi di sini." Mereka tiba-tiba menunjuk ke arah pintu dengan penuh semangat sambil mengejek Zack.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan Villa MA, dan seorang pemuda tampan turun dari mobil. Dia berjalan masuk dengan percaya diri dengan tangan di sakunya.
"Tuan Bobi." Beberapa pelayan melambai ke arahnya dengan senang. Sementara Nabila menjadi pendiam dan berprilaku seperti gadis anggun.
"Tidak. Kami tidak sibuk, tuan Bobi. Kami hanya ingin menghentikan pecundang itu untuk masuk. Takutnya dia akan menggangu pertemuan mu dengan ayahmu dan orang lain yang ada didalam."
Bobi memeluk pinggang Nabila, dan menatap Zack yang masih berdiri tak bergeming.
__ADS_1
"Darimana asalmu? ini bukan tempat yang bisa kamu kunjungi. Cepat keluar!" usir Bobi pada Zack.
Zack tercengang, tapi bukan kerena Bobi, tapi karena Nabila. Dia pikir setelah kejadian itu dia akan berubah, tapi nyatanya sikapnya malah lebih buruk.
Zack awalnya tidak berniat untuk mengungkapkan identitasnya, walaupun mendapatkan hinaan dari mareka. Namun saat melihat sikap Nabila, Dia merasa tidak perlu berpura-pura lagi didepannya.
"Nabila, ada sesuatu hal yang sudah aku sembunyikan darimu. Dan malam ini aku sudah putuskan untuk mengatakan sebenarnya padamu." Zack tersenyum tipis, sambil meletakkan kartu namanya.
"Kartu apa yang kamu letakkan diatas meja? Jangan bilang padaku kalau kamu memalsukan identitasmu? Apakah kamu benar-benar pria tampan dan kaya? Ha..ha.. jika itu masalahnya, aku akan sangat menyesal?!" saut Nabila dengan sinis.
"Kamu benar. aku adalah generasi kedua yang kaya. Aku baru mengetahui setelah tiga hari kita putus. Ternyata aku adalah generasi kedua yang kaya, tidak tapi sangat kaya." jelas Zack.
"Ha...ha... Zack kamu jangan bercanda. Aku tau kamu memiliki kebanggaan sebagai seorang pria dan sangat takut orang lain memandang rendah kamu, tapi aku tidak berharap kamu bicara bohong. Kamu generasi kedua yang kaya. Kalau begitu aku adalah putri kaya dari keluarga kaya."
"Dasar tidak tau malu. Kamu mungkin iri melihat Nabila bersama tuan Bobi. Itu sebabnya kamu bilang kamu generasi kedua kaya raya."Saut yang lain.
__ADS_1
"Aku generasi ke dua yang kaya raya. Nabila, aku tidak ingin menutupi semuanya darimu. Tidak hanya kaya raya, tapi tujuh puluh persen bangunan yang berdiri di Garang Commercial Street ini adalah atas namaku." Jelas Zack sambil tersenyum pahit. Dia mengatakan sebenarnya tapi mereka tidak mempercayainya.
To be continued 🙂🙂