Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris

Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris
Bab 71. Dia pemiliknya


__ADS_3

"Mengapa kamu memintaku untuk pindah? Siapa kamu? Minggir!" gadis itu berteriak pada Zack.


"Betul sekali, kamu siapa? Apa hakmu meminta kami untuk pindah?"


"Hehe.. Saya tau, sebagai seorang perempuan, agak sia-sia tapi kami menikmati berfoto selfi disini. Aku tidak mengharapkan ada seorang pria menjijikan, ingin mengambil foto Selfi disini juga."


"Ya, berhenti mempermalukan dirimu sendiri."


Para gadis mengelilingi gadis berambut panjang untuk mengeroyok, dan menghina Zack.


Zack tercengang, dia hanya mengucapkan satu kalimat, tapi diserang banyak orang.


Johan berjalan mendekati Zack dan mencibirnya. "Zack apa yang kamu pikirkan? Apa kamu juga ingin mengambil foto Selfi? Bagaimana kamu aku membantumu?" Setelah bicara dengan Zack Johan mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih duduk di atas kap depan.


"Cantik, kamu bisa duduk di kap mobil ini selama yang kamu mau. Mobil Lamborghini ini sangat kokoh, pasti bisa menahan tubuh ringan mu."


"Terimakasih pria tampan, kamu bicara sangat manis, tidak seperti pria menjijikan itu. Ngomong-ngomong tampan, bisakah kamu membantu mengambil foto untukku. Ambil gambar ku Dangan mobil ini dengan jarak agak jauh." Pinta gadis itu dan Johan mengangguk dengan senang hati.


"Katakan Zack, bisakah kamu membeli mereka?" Johan menggelengkan kepalanya saat mengingatkan Zack yang berdiri disamping mobil.


"Sial, entahlah!" Gadis berambut panjang itu melambaikan tangan mengusir Zack.


"He...he..., aku takut justru kalian yang akan pergi. "Jawab Zack sambil tertawa menghina.

__ADS_1


Awalnya Zack memiliki pemikiran sederhana. Dia Ingin gadis itu minggir, agar dia bisa membawa mobilnya pergi, atau mengambil foto dari sudut manapun yang dia mau.


Tapi sikap sopannya malah dibalas dengan ejekan, bahkan sampai dimarahi oleh gadis itu. Terutama buat Johan yang sengaja membuat perbandingan antara dirinya.


Zack merasa dirinya akan berakhir jika terus bersikap rendah hati dan semua orang akan menginjak-injaknya.


"Siapa yang kamu minta untuk pergi? Kamu benar-benar berani meninggikan suaramu padaku." Gadis itu berteriak dengan marah dan ingin memukul.


Tiba-tiba mobil berbunyi, dan keempat lampu mobil Lamborghini yang sudah lama diam menyala dengan terang. Kemudian mesin hidup gemuruh dengan rendah. Pintu dibuka keatas.


Zack memegang kunci ditangannya, dan melangkah maju dan masuk ke kursi kemudi.


Seketika semuanya menjadi hening. Semua membuka mata lebar, menyaksikan pemandangan yang ada didepan matanya.


"Ahhh. "Jeritan keras memecahkan keheningan. Para gadis yang mengejek berubah seolah-olah mereka baru bertemu dengan Zack.


Zack ada didalam mobil, walaupun mobil tersebut kedap udara, tapi dia masih bisa mendengar teriakan para gadis di luar. Faktanya saat ini Zack merasa sangat senang sekali, karena akhirnya dia bisa mengendarai mobilnya sendiri. Tapi yang terpenting saat ini dia bisa mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Zack menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum pada Johan. "Johan, apa kamu ingin mengendarai mobil ini?" Dia mencemooh dan membalikkan pertanyaan persisnya ke Johan dengan cara yang sama.


Johan hanya bisa menelan ludah dan tidak berani sedikitpin untuk mengendarai mobil itu. Bahkan wajahnya langsung berubah.


Orang yang selama ini dia pandangan rendah ternyata sangat kaya. Belum lagi bagaimana dia mengolok-olok sebelumnya. Dia bukan pengecut, tapi dia tidak ingin melawan. Johan tak lebih dari seorang badut didepan Zack. Harga Mobil Passatnya tak sebanding dengan Lamborghini milik Zack yang bilang dibandingkan bisa untuk membeli delapan mobil Passat.

__ADS_1


Zack pergi ditengah kekacauan, dan untuk pertama kalinya Zack pamer didepan umum.


Diperjalanan ponsel Zack berdering dan itu panggilan dari Sisil dan Zack langsung mengangkatnya.


"Zack kamu dimana? Kenapa kamu belum sampai disini? cepat kemari, naik taksi jika kamu tidak bisa datang tepat waktu. Aku menunggumu di depan pintu masuk villa Royal.


"Oke, aku kan segera kesana." Jawab Zack.


Sebelum menutup teleponnya, Zack mendengar Sisil bicara dengan gugup.


"Aku sudah selesai, aku tidak sengaja mengatakan hal yang salah."


Zack menebak, ada seseorang yang berdiri disamping Sisil dan mendengarkan pembicaraannya.


"Sisil, bukankah Zack itu pacarmu? Bukankah dia sangat kaya? Kenapa dia harus naik taksi?" tanya Irina heran.


Zack tidak berfikir terlalu banyak, saat mendengar percakapan diseberang telepon. Zack segera melajukan mobilnya agar bisa segera sampai di Royal.


Villa Royal Hampir sama dengan Villa MA yang memiliki fasilitas yang lengkap. Namun Villa Royal tidak dapat dibandingkan dengan Villa MA. Namun demikian villa Royal layak menjadi tempat pertemuan.


Setelah sampai, Zack memarkirkan mobilnya dia parkiran samping.


"Oke...oke... sudah selesai, "ucap pengatur parkir.

__ADS_1


Penjaga keamanannya adalah paman yang berusia lima puluh keatas dan dia nampak gagap. Dibawah komandonya, Zack sudah pasti akan masuk ke parit, jika bukan karena sistem parkir otomatis di Lamborghini-nya sendiri. Zack hanya bisa tersenyum tanpa daya.


__ADS_2