Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris

Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris
Bab 78. Menemui Fadli


__ADS_3

Zack menjadi pucat. Semua tebakannya benar. Identitasnya telah bocor dan dia telah menarik perhatian Fadli, dan sepertinya Fadli sudah tidak sehat mental dengan membawa Sisil untuk balas dendam dengannya.


Zack yakin Fadli bisa melakukan apapun untuk balas dendam. Melihat situasinya, Zack Marasa tidak cukup dengan mengandalkan kekuatan sendiri.


Zack segera menelepon paman Lukman dan memberitahunya. Zack meminta paman Lukman untuk menanggapi masalah dengan serius.


Paman Lukman meminta Zack untuk menunggunya agar bisa mendiskusikan masalahnya lebih jauh saat dirinya tiba. Lukman juga meminta Zack untuk tidak gegabah.


Zack menutup teleponnya bahkan sebelum Lukman selesai bicara.


Zack buru-buru kembali ke showroom dengan Adi. Dia kemudian menyuruh Adi menunggu Lukman datang. Karena dia harus pergi lebih dulu.


"Bukankah itu Zack?"


"Astaga, itu benar-benar dia. Apa yang dia lakukan disini?"


"Aku dengar kalau showroom ini sedang mencari beberapa karyawan penjualan. Apa mungkin dia datang kemari untuk melamar pekerjaan? Apakah dia tidak tahu kalau showroom ini memiliki persyaratan yang sangat tinggi."


"Ya, lihat dia. Bahkan jika dia benar-benar memenangkan lotere, dia masih memiliki temperamen yang buruk. Itu membuat orang muak bahkan hanya dengan melihatnya."


Zack yang baru tiba di showroom, bisa mendengar langsung ejekan mereka yang ditujukan padanya.


Zack tak perduli, pikirannya masih kacau. Dia hanya menatap ke arah mereka dan melihat keberadaan Malik dan juga Modi bersama pacar mereka, dan di samping mobil Lamborghini milik zack lagi ada Davan dan Putri.


Saat ini yang ada dipikiran Zack hanyalah Sisil. Jadi Zack tidak memperdulikan mereka, bahkan dia tidak punya waktu untuk memperhatikan sinisme mereka.


BIP.. BIP...


Zack menekan tombol kunci yang ada di tangannya.


Zack mendorong Putri menjauh dari pintu mobil dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya.


Kemudian Zack segera menghidupkan mesin dan segera keluar dari showroom.

__ADS_1


Malik dan yang lainnya seketika tercengang dan terus menatap Zack yang baru saja mengemudikan mobilnya, bahkan dalam hitungan detik mobil Zack menghilang dari pandangan.


"Ah... Bagaimana mungkin?"


"Apa itu mobil Zack?"


Putri yang masih tak percaya, segera berteriak." Lihat! orang itu baru saja mencuri mobil."


"Berikan instruksi bahwa toko kita akan tutup hari ini. Karyawan yang bekerja kurang dari lima tahun akan mendapatkan cuti. Beberapa bawahan tuan Albert akan menghubungi sesegera mungkin." Ucap Adi kepada sekretarisnya tanpa memperdulikan Putri ataupun Malik.


Tak lama kemudian terdengar suara rem darurat dari puluhan mobil yang baru tiba di showroom.


Pada saat itu, Lukman keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke showroom.


"Tuan Lukman?!" Malik kaget melihat Lukman ada disini. Dia bisa melihat ekspresi wajah Lukman yang sangat tegang, jadi Malik tidak berani maju untuk menyapa.


"Tuan Lukman." Adi langsung menyapa.


"Tuan Albert sudah pergi ke sana lebih dulu. Dia takut dia akan terlambat." Adi buru-buru menjelaskan.


"Ah, itu tidak baik. Cepat, bawa aku ke tempat yang akan di tuju tuan Albert. Tidak perduli apapun, tidak boleh ada hal buruk yang dapat terjadi pada tuan Albert hari ini."


Lukman memanggil anak buahnya untuk ikut bersamanya dan dia juga mengirim pesan pada Zack sebelum menyusul Zack.


Malik, Putri dan yang lainnya tercengang.


''Apa? tuan Albert?" Mereka benar-benar tidak percaya tuan Albert yang di maksud Lukman tak lain adalah Zack.


Ketika mereka melihat Zack masuk ke showroom, dia terlihat sangat cemas. Saat itu mereka mengejeknya, Zack mengabaikan mereka sepenuhnya dan pergi begitu saja dengan Lamborghini.


Malik lemas dan hampir terduduk di lantai. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia pun bertanya kepada sales penjualan yang ada di dekatnya.


"Apakah Tuan Albert yang dimaksud tuan Adi dan tuan Lukman itu pria yang mengendarai mobil Lamborghini barusan?"

__ADS_1


"Ya, apakah anda tidak mengenalnya?" jawab konsultan itu.


"Ya Tuhan." Malik benar-benar tercengang saat ini.


Putri memiliki ekspresi yang lebih tegang diwajahnya. Orang yang dia benci dan pandang rendah, sebenarnya adalah seseorang yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya.


Pada saat ini Quin dan yang lainnya diliputi dengan banyak perasaan dan mereka benar-benar Ingin menghilang.


"Kenapa kita tidak pergi dan melihatnya? Mungkin ada dua orang dengan nama yang sama," ucap Modi dan Davan hampir bersamaan.


"Oke, aku setuju."


"Setuju."


"Kita harus pergi secepatnya, jika tidak kita tidak akan bisa mengejar mereka." Malik menyeka keringat dinginnya sebelum bergegas pergi dan membawa mobil bersama Modi.


Disisi lain, Zack menginjak pedal gas seperti orang gila. Dengan kecepatan mobil yang sangat luar biasa, membuat Zack seperti seorang pembalap yang profesional. Bahkan dia menerobos lusinan lampu merah.


Tak lama kemudian, Zack sampai di lokasi kontruksi yang terbengkalai yang di sebutkan Fadli.


"Zack, aku tidak menyangka kamu akan datang secepat ini." Sebuah suara tiba-tiba bergema dari atas gedung. Itu adalah Fadli yang sedang menatap Zack dari lantai paling atas.


Zack segera masuk ke gedung menyusul Fadli yang ada di lantai atas sambil menahan emosi.


Fadli masih memakai topi dan dia nampak jauh lebih seram, dan tidak diragukan lagi dia jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Sisil ada disebelahnya. Fadli mengikat Sisil di kursi dengan erat dan menutup mulutnya dengan lakban.


Sisil menggelengkan kepalanya dengan panik saat dia menatap Zack. Dia mencoba berteriak 'Kenapa kamu begitu konyol?! apa yang kamu lakukan disini? Cepat pergi.' namun sayangnya teriakkan itu tidak bisa dia ucapkan.


"Jika kamu membiarkan dia pergi, aku akan memberimu uang sebanyak yang kamu inginkan,"ucap Zack dengan tegas.


To be continued 👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2