
"Hai Zack, kami disini." Panggil Sisil sambil melambaikan tangannya.
"Kenapa kamu tidak bersuara, saat sampai disini dan kenapa kamu masih berdiri disana?" Sisil masih memegang lengan pria yang ada di sampingnya saat Zack berjalan mendekati mereka.
"Tidak papa." Zack nampak canggung.
"Zack, kenalkan ini Karan sepupuku, dia yang aku ingin kenalkan padamu tadi." Jelas Sisil memperkenalkan sepupunya itu.
Mendengar, laki-laki disamping Sisil adalah sepupunya membuat Zack kembali bersemangat, seakan bangkit dari kematian.
"Ohh, dia yang kamu ceritakan padaku. Aku dengar kamu sangat beruntung bisa menang lotere," ucap Karan sambil tersenyum. Namun senyumannya masih tidak bisa menyembunyikan tatapan sinis dimatanya.
Zack menganggukkan padanya dengan sopan dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
" Baiklah, sisil. Aku sudah bertemu dengan temanmu. Aku harus kembali ke kampus sekarang. Bulan depan ulang tahun nenek, kita sudah memutuskan hadiah apa yang akan di berikan padanya. Selamat tinggal." Karan mengabaikan Zack dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan segera pergi setelah bicara dengan Sisil.
Sebelumnya Sisil dan Karan bertemu untuk berdiskusi mengenai hadiah yang akan diberikan kepada neneknya saat ulang tahun.
"Dasar Karan." Sisil sedikit jengkel dengan sikap Karan pada Zack.
__ADS_1
"Maaf, atas nama sepupuku Zack, atas sikapnya padamu. Aku akan memarahinya saat kembali nanti."
Zack menarik tangannya kembali, "Tidak papa."
Mata indah Sisil menatap Zack dan melihat wajah Zack dengan jeli. "Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?" tanya Sisil khawatir.
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya saja aku mengira laki-laki yang ada di sampingmu tadi adalah pacarmu." jawab Zack sambil tersenyum masam.
"Apa?! Kamu pikir sepupuku itu pacarku? Bagaimana itu mungkin? Aku tidak pernah memiliki hubungan romantis pada siapa pun. Mungkin karena aku memiliki standar tinggi untuk memilih pacar." Sisil duduk dan ucapannya memicu minat Zack.
"Standar apa yang kamu inginkan untuk menjadi pacarmu?" tanya Zack ragu-ragu.
"Yang pertama dia harus memiliki ketenangan, tidak arogan. Tidak perduli dia kaya ataupun miskin. Yang kedua tidak boleh terlihat jelek, ke tiga, memiliki hati yang baik dan setia pada pasangannya, keempat..."
Rencana yang sudah disiapkan Zack untuk memberikan hadiah pada Sisil pun dia urungkan, saat mendengar pria impian yang diinginkan Sisil, walaupun bagaimanapun itu adalah keinginan hati Sisil dan dia belum memenuhi standar itu.
****
Beberapa hari kemudian, Zack menyelesaikan ujian mengemudi, namun saat giliran Sisil, dia tidak menemukan keberadaan Sisil dimana pun. Zack berusaha menelepon, tapi teleponnya dimatikan.
__ADS_1
Mereka berdua memiliki peluang untuk lulus ujian, Bahkan jika Sisil ikut tes kedua. Tapi tidak seharusnya dia datang terlambat.
Saat itu, Zack melihat pria yang merupakan satu kelompok dengan Sisil berjalan keluar dari kelas mengemudi. Zack segera mendekati dan bertanya padanya.
"Oh, Sisil. Dia tidak ikut ujian. Tadi saat mendekati gilirannya, dia mendapatkan telepon dan langsung pergi dengan tergesa-gesa." Jawab pria itu.
Zack pun memikirkan apa yang terjadi pada Sisil, mengapa dia pergi dengan terburu-buru tanpa memberitahu dirinya dan bahkan mematikan teleponnya.
'Apakah terjadi masalah buruk dengannya?' Gumam Zack.
Setelah banyak pertimbangan, diapun menghubungi Anisa untuk bertanya.
"Kenapa kamu begitu peduli pada Sisil, Zack? Apakah kamu berpikir bisa mengejarnya setelah kamu menenangkan lotere? Jangan pernah bermimpi, dasar pria tidak berguna," ucap Anisa diseberang telepon.
"Apa kamu tau dimana dia sekarang?" Aku akan membalas mu dimasa depan. Aku akan memberimu gaun Bienvietto, " ucap Zack dengan tenang.
Zack tidak memberikan gaun yang dibelinya dari toko Rani kepada Sisil, jadi dia memiliki kesempatan untuk memanfaatkannya. Zack ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Sisil dan dia khawatir bukan berarti karena dia menyukainya.
"Apa kamu serius? bisakah kamu membeli Bienvietto? pakaian mereka harganya jutaan." Saut Anisa.
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan mengirimkannya padamu sebentar lagi."
"Baiklah, karena kamu tahu bagaimana menghadapi ku. Aku akan memberitahumu. Aku baru saja mendapatkan kabar tentang keluarga Sisil. Bisnis keluarganya gagal, dan mereka berada diambang kebangkrutan. Itu sebabnya Sisil harus kembali. Kami akan mengunjunginya nanti. Ikutlah jika kamu mau. "Setelah bicara Anisa segera menutup teleponnya.