
Tiga hari sudah berlalu begitu cepat. Bagi Vio itu adalah waktu yang sangat cepat dan singkat. Dan pernikahan tak diinginkan itupun kini sedang dilangsungkan.
Apalagi ketika semua para hadirin mengucapkan kata "Sah...!" Seketika air mata bening itu luruh dalam pipi cantiknya.
Pagi ini sekitar pukul 09.00 . Vio dengan dibalut oleh baju kebaya putih, dilengkapi dengan kain rok motif batik Jawa, Vio duduk berdampingan dengan laki-laki yang kini sudah bisa disebut sebagai suami sah. Artinya sudah mahram dan halal.
Ruang tamu itu ramai dengan para kedua keluarga besar Vio dan Mars. Didatangi juga oleh para tetangga yang ikut hadir dan membantu acaranya. Seperti menyiapkan makanan tradisional atau bisa kita sebut rewang dan wewenang, tidak ketinggalan para bocil kematian yang juga melihat dan mendengar ketika ijab qobul dilangsungkan.
"Sekarang kalian saling pasangan cincin pernikahan" Ucap pak penghulu.
Mars langsung mengambil sebuah kotak merah berbentuk hati, kemudian mengambil satu cincin pernikahan dengan warna silver dan didalamnya sudah tertulis nama dan tanggal pernikahan mereka ~Mars&Vio ********~
Vio dengan berat hati harus mengangkat satu tangannya untuk dipasangkan cincin. Setelahnya dia pun sama, kini memasangkan cincin pernikahan juga pada Mars.
Dengan inisiatif tersendiri, Mars langsung memegang kepala Vio dan mencium kening milik istrinya.
Vio sesaat membeku ditempatnya. Ingin rasanya dia marah pada laki-laki disampingnya karena berani kembali untuk bersentuhan dengannya, namun sekarang dia berada ditempat keramaian jadi yang Vio bisa lakukan hanya diam.
Mars mengulurkan tangannya. Tanda bahwa dia juga ingin dicium oleh sang makmum.
Vio menatap tangan itu, ragu-ragu untuk menciumnya. Namun tatapan sang Papa disampingnya membuatnya seakan harus bergerak mencium tangan milik suaminya.
__ADS_1
Acara pernikahan sederhana itu kini berlangsung cukup lama hingga menjelang sore. Acaranya hanya sederhana, tidak ada resepsi yang mewah sama sekali. Hanya makan-makan dan juga salam-salaman pada sang pengantin baru. tidak banyak juga yang diundang.
*
"Pa, dia tidur dimana?" Tanya Vio setelah acara selesai. Mereka saat ini sedang berdiri didepan kamar Vio. Bocah ingusan itu baru saja adu mulut dengannya dengan mengatakan bahwa dia akan tidur dikamarnya. Tentu saja Vio tidak mau satu ruangan dan satu kamar dengan bocah menyebalkan itu. Saat melihat kedatangan Papa, Vio pun segera mencegah nya.
Haris menatap heran anaknya "Lah, masih tanya sama Papa? Orang kalo udah nikah ya tidur satu kamar lah" Jawab Haris yang tidak habis fikir dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vio.
Vio cemberut. Walaupun usianya sudah 27 tahun, tapi sikap masih seperti anak-anak. "Ish, masa tidur dikamar Vio"
"Ya iya lah, terus tidur dimana?"
Haris kaget dengan jawaban anaknya. Kemudian menatap Mars yang sedang menyimak obrolan antara ayah dan anak itu. "Nak Mars, kamu masuk saja ke kamar Vio. Mulai sekarang kamar Vio adalah kamar kamu juga, Sialkan mandi dan bersihkan badan"
Mars dengan wajah datarnya pun mengangguk "Iya Pa, makasih" Dengan segera Mars membuka pintu kamar istrinya yang tidak dikunci.
"Vio, awas jika berani mengusir Mars dari kamar. Ingat, suami itu dijaga, bukan dirusak" Setelah mengucapkan itu Haris segera pergi meninggalkan anaknya untuk pergi menuju gudang atas, dia ingin mengambil sesuatu.
Vio melongo dibuatnya. Beberapa saat kemudian ia pun menghentak-hentakkan kakinya dilantai, ia amat sangat kesal dengan pernyataan Papanya yang diharuskan bocah ingusan itu untuk tidur dikamarnya.
Vio pun kemudian masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Vio dapat mendengar suara bercak air dikamar mandinya, itu artinya bocah ingusan itu sedang mandi didalam. "Ck, berani sekali masuk kamar mandiku tanpa izin"
Vio mendudukkan dirinya dikasur tempat tidurnya. Dengan masih menggunakan baju kebaya Vio pun lebih memilih berbaring dengan memainkan ponselnya agar tidak jenuh. Baru juga dia menyalakan data seluler sudah ada beberapa pesan masuk di handphone nya, termasuk dari Arga yang sejak tadi malam belum juga dibalas olehnya.
Vio, kamu bisa kesini enggak? Aku masuk rumah sakit sekarang
Vio seketika terkejut mendengar kabar yang Arga kirimkan. Ia lalu bangun dari berbaring nya dan berniat untuk keluar dari kamarnya. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Arga yang sampai masuk rumah sakit. Vio benar-benar merasa bersalah pada Agra karena sejak tadi malam dia tidak mengecek ponselnya.
Saat akan berjalan menuju pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti dengan suara seseorang.
"Mau kemana?" Tanya Mars yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk pink yang melilit ditubuhnya. Ia sedikit heran saat Vio berjalan dengan cepat, seperti seorang yang sedang khawatir.
Vio berbalik "Mau kemanapun itu bukan urusanmu! Kau hanyalah bocah ingusan yang tidak perlu ikut campur dengan urusan orang dewasa" Jawab Vio yang mampu membuat siapapun yang mendengarnya dapat sakit hati dengan perkataannya.
Begitupun dengan Mars yang sebenarnya sangat amat sakit hati dengan perkataan yang terlontar dari mulut istrinya. Ia seperti seorang suami namun tidak dianggap dan hanya dijadikan sebagai butiran debu hitam saja. Walaupun Mars tau betul pernikahan ini sama-sama terpaksa, namun tetap saja rasanya seperti harga dirinya diinjak-injak.
Vio kemudian kembali khawatir. Dia segera berbalik dan berniat untuk keluar dari kamar dan pergi menuju rumah sakit yang Arga serlok tadi malam.
"Satu langkah saja seorang Violet Clear berani keluar dari kamar. Akan aku pastikan Arga milikmu itu mati ditangan ku!" Ucap Mars yang menampakkan aura wajah dinginnya.
Dia sebenarnya adalah seorang laki-laki yang serius dan tegas pada orang-orang, apalagi saat sedang marah, wajahnya akan membuat siapapun yang melihatnya akan takut. Dulu ia berpenampilan culun dan berlagak seperti seorang perempuan hanya karna misi agar tidak jadi dijodohkan dengan pilihan Eomma dan Appanya dan samarannya itu agar semua tidak curiga bahwa dirinya adalah Mars Angkasa yang menyamar disalah satu kantor besar yang ada dinegara J, dia bahkan dengan rela mengganti identitas serta nama menjadi Robert. Namun sekarang, dia bukanlah lagi seorang Robert, melainkan Mars Angkasa yang memang sifat aslinya adalah sabar namun jika marah sangat menyeramkan dan juga dingin serta datar.
__ADS_1