
Mars pun menggeser piring berisi sarapan milik Vio dan mulai menyuapkannya.
Vio tentu saja dengan hati yang senang menerimanya dan mulai mengunyah sarapannya dengan bibirnya yang tidak berhenti tersenyum tipis. Benar ternyata, jika makan disuapi oleh Mars rasanya tidak akan mual-mual dan muntah seperti sebelumnya.
Mars melihat wajah bahagia Vio tanpa berkedip. Ini adalah pengalaman pertama melihat Vio yang sebahagia ini hanya karna makan disuapi.
Vio yang menyadari dirinya terus ditatap ia pun jadi merasa tidak nyaman. Nyatanya ditatap dengan orang yang kita cintai hati jadi merasa deg-degan seperti bertemu dengan ulangan matematika yang mendadak.
"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu?" Tanya Vio yang judes, padahal dalem hati salah tingkah plus berdebar.
"Aku...-"
"Tunggu, kamu tadi bilang apa?" Tanya Vio yang tidak begitu jelas mendengarkan Mars bicara, kini dia memasang telinganya dengan baik-baik.
"Aku" Jawab Mars yang mngulangi bicaranya tadi.
Tidak bisa menahannya lagi, Vio akhirnya menangis dengan histeris "Huuuaaaaa.....!!!!" Tangis Vio dengan mendorong tubuh Mars.
Tentu saja Mars panik saat tiba-tiba istrinya itu menangis dan mendorong nya, "Kenapa? Kenapa kamu nangis? apa bayinya baik-baik aja?" Tanya Mars panik, karena dia pikir Vio menangis mungkin kram perut atau bagaimana gitu.
"Huaaa....Aku hiks..." Vio benar-benar sulit untuk mengucapkannya, karena sedang menangis tersedu-sedu. "Aku hiks ...."
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang" Ucap Mars yang langsung meletakkan sendok yang sebelumnya ia pegang. Demi apapun dia saat ini benar-benar khawatir dengan kondisi bayi yang ada didalam perut Vio
Vio mencegah Mars untuk berdiri, dia kemudian menggelengkan kepalanya "Hiks...aku baik-baik aja, bayinya enggak papa" Timpal Vio yang masih saja menangis.
"Terus kenapa nangis? Jangan buat panik ak-" Mars menghentikan ucapannya. Tubuhnya terasa kaku saat tiba-tiba Vio memeluknya dari samping dan pipinya dengan pipi Vio saling menempel.
"Aku terharu Mars..." Pinta Vio tiba-tiba yang membuat Mars mengerutkan dahinya.
"Terharu?"
Vio mengangguk, "Aku terharu karena kamu panggil kamu dengan aku lagi buka saya" Sambung Vio. Ini adalah momen yang tidak pernah Vio bayangkan jika Mars akan memanggil dirinya dengan aku. "Makasih udah maafin aku...aku tau aku salah. Aku ini istri bodoh yang saat dimana aku udah punya suami malah masih berhubungan sama laki-laki lain"
Ibu hamil itu secara tiba-tiba mengecup pipi suaminya dengan sayang. "Tapi dengerin penjelasan aku dulu tentang waktu itu"
Mars segera melepas tangan Vio yang memeluknya dan menatap wajah istrinya yang sedang berdiri disampingnya itu.
"Seb-"
"Shhttt!" Mars meletakkan jari telunjuknya dimulut Vio. Dia benar-benar tidak ingin membahasnya lagi. "Aku udah bener-bener maafin kamu dengan semuanya...aku akan coba terima kamu, karena asal kamu tau, hati aku udah jadi milik kamu sepenuhnya. Rasa cintaku mengalahkan semuanya..."
Mendengar itu tentu saja membuat pipi Vio jadi bersemu merah.
__ADS_1
Setelahnya mereka kembali melanjutkan kembali sarapannya dengan Vio yang masih disuapi Mars.
"Aku ke kantor sekarang"
"Kamu pergi? Terus aku dirumah sama siapa?" Tanya Vio yang mellow.
"Aku akan pulang cepet"
Vio pun hanya menghela nafasnya. Mau tidak mau dia hanya bisa pasrah dan mengizinkan Mars untuk pergi ke kantor.
Melihat Mars yang sudah akan pergi, seketika Vio memikirkan kembali hal yang memang seharusnya dijelaskan agar mars cepat tau. "Mars, aku enggak pernah berc*uman sama Arga. Kamu salah liat"
Seketika mars terhenti saat sedang memakai sepatunya. Ia menatap Vio yang masih duduk dimeja makan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Demi apapun aku enggak pernah melakukan itu. Kamu salah paham" Ucap Vio yang berusaha menjelaskan.
"Tapi.."
"Mars percaya sama aku. Kamu liat cuman dari satu sisi kan?"
_
__ADS_1