Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 6: Makam Mama


__ADS_3

"Vio, Lo mengapain disini?" Tanya Mia. Dia adalah salah satu sahabat baik dari Vio."Dia siapa Vi?" Tanya Mia saat melihat ada seorang pemuda yang menggunakan pakaian rapi, apalagi saat melihat menggunakan jas hitam, semakin tampan!.


Vio tersenyum kaku. Ia bingung mau menjawab apa"Ee...dia.."


"Selingkuhan Lo?"


Vio menggeleng.


"Kalau begitu aku pamit" Ucap Mars yang kemudian berdiri dan berjalan menjauh.


Vio dan Mia sama-sama melihat kepergian Mars.


Auu Cool...


Dengan segera Mia duduk dikursi yang tadi telah dipakai oleh laki-laki itu"Hayo...Lo selingkuh sama dia??" Ucap Mia dengan mengintimidasi sahabatnya. "Arga mau dikemanakan??" Pinta Mia yang sedikit mulai emosi. Karena Arga adalah sepupunya. Jelas saja dia emosi, siapa coba yang terima jika sepupu sebaik dan sealim Arga Mahasura diselingkuhi. walaupun Vio juga sahabatnya sendiri.


"Gak jelas Lo Mi! Ya kali gue selingkuh. Enggak mungkin!" Jawab Vio untuk meyakinkan sahabatnya.


"Yakin Lo" Ucap Mia yang masih tidak percaya.


"Yakin" Jawab Vio.


"Terus dia siapa? Kok ganteng? Punya nomor Wa nya enggak Lo?" Mia menaik turunkan alisnya, dia yang dikenal dengan wanita penyuka semua laki-laki tampan dan tertarik pada manusia berwajah Korea tadi. Dia pikir itu adalah selingkuhan sahabatnya, ternyata salah. Jadi, Mia putuskan untuk nge-fans dan jatuh cinta pada lelaki tadi.


"Kebiasaan Lo Mia! Gue enggak punya lah. Dia tu sodaranya sepupu gue, Navi titip sesuatu tadi malem buat kasih ke dia, Navi udah kasih tau dia bakal ketemuan disini" Jelas Vio yang berbohong. "Baru pertama kali ketemu juga, yakali langsung minta nomer wa"


Sedangkan Mia hanya mengangguk-angguk mengerti"Tapi ganteng banget sumpah"

__ADS_1


"Biasa aja sih"


"Terserah Lo deh Vi. Gue tau yang paling ganteng menurut Lo cuman a'a Arga seorang"


"Nah tu tau ...."


"Eh, gue pamit balik duluan ya. Tadi lagi buru-buru mau pulang malah enggak jadi. Biasa bokap sama nyokap ngomel tau gue pake baju cewe open b*."


*


*


Setelah kepergian Mia. Vio pun segera beranjak dan kembali pada meja Papa dan calon mertuanya.


Mereka kini mengobrol ringan.


Haris, Jim dan juga Tia setuju saja dengan usul Vio. Asalkan Mars juga setuju.


Setelah menikah juga sudah disepakati bahwa akan tinggal dirumah sendiri. Itu adalah permintaan dari Mars, dia ingin mandiri dalam menjalani rumah tangga bersama Vio.


"Tante setuju. Dalam pernikahan memang lebih enak jika tinggal sendirian. Kebetulan kita ada rumah dua lantai, letaknya tidak jauh dari sini, kalian bisa memakainya nanti"


"Tapi, bagaimana dengan Papa?" Vio khawatir jika dia meninggalkan sang Papa sendirian setelah menikah. Terlebih Papa nya itu sering memegangi dadanya menahan sakit. Kadang Vio selalu bertanya apakah Papa nya sakit? Tapi Papa hanya menjawab"Hanya salah pernafasan saja"


"Jangan khawatirkan Papa Vi, dirumah Papa tidak sendiri. Ada banyak art" Ucap Haris yang tau akan perasaan khawatir pada dirinya.


Vio hanya bisa bernafas dengan kasar. Mau tidak mau dia menuruti apa saja usulan setelah menikah nanti. Sungguh dia sangat benci pada bocah ingusan itu, kenapa harus tinggal dirumah sendiri.

__ADS_1


*


*


Tiga hari sebelum menjelang pernikahan atau hari H. Vio dengan menggunakan pakaian serba hitam dan krudung pasmina yang bersenggar dikepalanya Vio lebih dulu ingin ke pemakaman umum. Tempat dan rumah sang Mama sekarang untuk .


Ia pergi sendiri di pemakaman itu. Kemarin sebenarnya dia sudah kesana bersama Papa, tapi untuk kali ini dia ingin sendirian. Vio ingin mencurahkan isi hati pada Mama nya tanpa ada yang tau dan dengar.


Pergi dengan menggunakan motor beat, Vio melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sebelum memasuki area pemakaman, lebih dulu Vio membeli bunga dan air mineral untuk ditaburkan diatas makan nanti.


"Terimakasih" Ucap Vio saat sudah menerima pesanannya.


Kemudian dia berjalan memasuki pemakaman umum. Motornya ia letakkan ditempat penjual bunga tadi yang ada diseberang.


Perlahan kakinya mulai menelusuri jalan menuju makan sang Mama. Seketika Vio berhenti saat dirinya telah sampai didepan makam atau rumah Mama. Makam yang sudah dibaluti dengan marmer berwarna putih. Makamnya sangat bersih.


"Ma...Vio dateng lagi nih.." Vio berjongkok. Meletakkan bunga dan air mineral yang sebelumnya ia beli disebelah makam sang Mama.


Vio tersenyum penuh kesedihan. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap untuk meluncurkan cairan bening dari dalam kelopak matanya."Ma...tiga hari lagi Vio nikah hiks.." Vio mengelus batu nisan bertuliskan nama sang Mama.


"Ma, Vio bolehkan curhat secara jujur?..." Tanya Vio pada sang Mama. Walaupun tau tidak akan ada jawaban, tapi Vio yakin Mama pasti mendengarnya.


"Vio kepaksa nikah sama dia Ma... padahal Vio udah bilang sama Papa kalo Vio enggak mau, Vio cintanya sama Arga." Vio menyeka air matanya yang mulai turun.


"Padahal Arga baik, tapi kenapa Papa begitu benci sama Arga." Kini satu tangannya mengambil air mineral lalu membuka tutupnya. Menyiramkan air itu diatas makam Mama.


"Vio udah bilang enggak mau, tapi Papa malah sakit jantungnya sehingga mau enggak mau Vio harus nurut..." Setelah selesai menyiramkan semua air mineral itu, kini Vio tinggal menaburkan bunga mawar merah.

__ADS_1


Secara perlahan Vio menaburkan bunga mawar tersebut, diiringi dengan air mata yang menetes menganak sungai. Menjadi anak perempuan satu-satunya dari seorang pria yang sangat posesif sangatlah sulit, hanya tekanan batin saja. Tapi, walaupun begitu Vio tetap menyayangi sang Papa, dia yang telah menguatkannya saat Mama pergi, mencoba menghibur dengan apapun agar senyumnya kembali cerah seperti dulu kala. Bahkan Papa Haris itu sampai rela menjadi seorang badut agar dirinya bisa tertawa lagi. Dan terbukti saat Papa nya menjadi badut, seorang Vio dengan usia yang masih 12 tahun itu tertawa.


__ADS_2