
"Biar aku pesenin makanan di aplikasi aja ya?" Usul Vio kemudian. Tidak mungkin jika Mars harus tetap makan bubur rasa garem itu.
Mars hanya mengangguk setuju saja dengan apa yang Vio lakukan. Jujur, badannya juga masih sangat lemas tidak bertenaga dan juga perutnya masih terasa perih.
"Udah aku pesen, tinggal tunggu aja. Paling lima belas menit udah sampe" Ucap Vio yang kemudian meletakkan mangkoknya kenampan. "Aku taro ini dulu dibawah ya" Lanjut Vio sembari memegang nampan nya.
"Gak boleh"
Vio seketika menatap wajah suaminya, ia sampai mengurungkan niatnya untuk beranjak dari kasur. "What?"
Mars mengangguk. "Iya, kamu tadi mau izin kan ke aku untuk pergi taro piring? Aku gak izinin kamu" Jelas Mars.
Vio tersenyum miring dengan tangannya yang masih memegang nampan. "Bodo amat bang!" Ketus Vio yang langsung bangun dan berniat untuk pergi ke dapur.
Seperti biasa, bukan Mars jika dia mudah menyerah dengan apapun. Ia segera mencekal tangan Vio yang hendak berdiri. "Taro sekarang nampannya dimeja" Perintah Mars sembari melirik meja yang ada disamping tempat tidurnya.
Vio melihat tangannya yang sedang dipegang oleh Mars. Vio sedikit heran, lagi sakit tapi kenapa bisa tenaga laki-laki itu masih kuat?
"Apaan sih Mars! Cuman taro piring doang" Vio Kemudian berusaha menghempaskan tangan milik Mars yang terus memegangi pergelangan tangannya.
Mars yang sebelumnya masih duduk itu pun memajukan wajahnya sembari menyipitkan matanya dengan menahan senyum "Kalo enggak nanti aku makan loh sayang" Ucap Mars pelan lalu meniup wajah Vio.
Vio memejamkan matanya saat merasakan nafas hangat yang menerpa wajahnya. Anehnya kenapa mulut Mars tidak mengeluarkan bau-bau jigong? Kenapa baunya sangat segar? Seperti permen kiss rasa mint.
Mars lalu menjauhkan wajahnya kembali saat sudah lumayan dekat dengan wajah cantik istri tuanya. "Buka matanya. Berharap banget aku cium" Ujar Mars dengan sangat percaya dirinya.
Vio dengan wajah kesalnya pun membuka matanya "Apaan sih! Siapa yang berharap dicium sama bocah ingusan kaya kamu!" Ucap Vio dengan marah-marah tidak terima saat dirinya dituduh seperti itu. Kan kesannya kaya dia seperti perempuan mesyum.
"Mau gak aku cium beneran sayang?" Mars tersenyum seperti seorang playboy sejati sekarang.
"Mars! Jangan panggil aku sayang sekarang!" Demi apapun sekarang Vio jika dipanggil sayang sangat mudah baper. Astaga, kenapa dia jadi perempuan yang baperan pada Mars sekarang?!
"Kenapa?"
"Banyak nanya! Gausah pokoknya"
__ADS_1
"Trus aku panggilnya apa dong?" Tanya Mars kemudian.
"Terserah, yang penting jangan sayang"
"Honey gimana?" Usul Mars.
"Apaan honey? Dipikir rumah adat Papua!"
"Yaudah baby" Usul Mars lagi.
"Emang aku bayi"
"Darling"
"Gak!"
"My Wife"
"No!"
"Gaaak!"
"Bubu"
"Apaan bubu? Emang aku kucing"
"Terus apa ?" Tanya Mars yang sudah tidak memiliki stok pikiran untuk memanggil istrinya romantis.
"Terserah" Jawab Vio kemudian. "Udahlah, lepasin tangan aku, mau taro piring didapur"
"Sayang, liat deh diatas kepala kamu ada apa" Mars menunjuk kepala Vio dengan wajah begidik ngeri.
Vio yang melihat ekspresi Mars pun menjadi ikut panik juga. "Emang ada apa?" Tanya Vio dengan takut.
"Liat aja, ada sesuatu yang serem"
__ADS_1
Vio yang mendengar pun semakin takut dan mulai bergetar tangannya. "Jangan buat aku panik Mars! Cepet, ambil yang serem itu dikepala aku!!!" Pekik Vio dengan takut. Tapi ia tidak berani bergerak sama sekali, bola matanya hanya terus ia arahkan keatas.
"Taro dulu nampannya"
Vio pun hanya menurut saja. Dengan tubuh yang sudah ketakutan, ia letakkan nampan itu dengan cepat diatas meja dan segera mendekati Mars dengan takut. "Cepet, ambil sesuatu nyaaaa!" Pekik Vio yang kini sudah menggandeng tangan Mars. Ia saat ini jongkok diatas kasur disamping Mars dengan memejamkan matanya.
Mars hanya mampu menahan sakit diperut nya karena menahan agar tidak tertawa.
Beberapa saat ruangan itupun hening.
Vio dapat merasakan itu. Ia juga mulai merasa Mars telah berbohong padanya. Ia lalu membuka matanya kembali.
Plak!
Vio menampar lengan Mars dengan kesal "Bohong ya"
Bukannya menjawab, Mars justru kini berpindah duduknya berhadapan dengan Vio. Lalu tanpa membuang waktu, secara tiba-tiba Mars memegang pundak Vio dan menariknya lalu dengan cepat menidurkan Vio dan menin dihnya di atas tubuh Vio.
Vio yang sebelumnya tidak tau akan seperti ini pun seketika terkejut dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja ia sudah ada diba wah kekangan Mars.
Mars memegang kedua tangan Vio dan meletakkannya diatas kepala Vio agar tidak bisa memukulnya dan yang lainnya.
"Mars, lepasin" Vio berusaha untuk melepaskan tangannya yang dipegang oleh satu tangan besar milik Mars. Tubuhnya juga susah digerakkan karena terkunci antara dua pa ha milik Mars yang saat ini ada di atas pingg ulnya.
"Sayang, aku kan lagi sakit, boleh enggak aku minta satu permintaan?" Ucap Mars diat as tu buh Vio dengan wajah memelas.
"Apa?"
"Iyakan dulu"
Vio dalam hati hanya bisa menggeram kesal, begini sekali memiliki suami yang jauh lebih muda darinya. "Iya, tapi lepas dan minggir dari tubuh aku"
"Sus ui aku yang"
Duarrr
__ADS_1