
Tama yang melihat Mia akan menyiramnya lagi pun segera bertindak. Ia segera menahan tangan Mia agar tidak jadi menyiramnya kembali dengan air bak itu.
"Mia, gue udah basah kuyup!" Pekik Tama yang menahan kedua tangan Mia itu.
Mia yang tangannya ditahan dan dikunci pun segera memberontak "Lepasin hiks...hiks... Maskara gue! Huaaa...." Mia terus memberontak dengan kekuatan tenaga dalam yang ia punya, hingga akhirnya satu tangannya pun terlepas.
Tama yang melihatnya pun menjadi sekian panik "Mia, istighfar! Mi-"
Byurr!
Mia kembali menyiram Tama dengan air bak itu.
Kini Tama benar-benar seperti seorang yang sedang dimandikan oleh sang ibu. Dengan wajah yang menahan marah, Tama dengan berani pun merebut gayung yang sedang Mia pegang.
"Gayung gue!"
Byurr!!
"Aaaaa....!!!! Tama Agreee!!!!" Pekik Mia saat melihat kaos nya yang basah kuyub juga. Mia melihat tubuhnya sendiri.
Sementara Tama, ia menjatuhkan gayung yang sebelumnya ia pegang. "Glekk..." Tama menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sama sekali.
Ya, kaos oblong Mia yang berwarna oranye muda itu ternyata terlihat transparan jika terkena air. Jadi, Tama dapat melihat pakaian dalam milik Mia yang berwarna hitam pekat itu.
Sadar dengan kondisinya saat ini, yang dimana Tama sudah dapat merasakan bahwa dirinya mungkin khilaf jika terus berada dalam kamar mandi ini, Tama pun segera keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang basah kuyub. "G-gu-gue ke-kel-luar sekarang" Ucap Tama dengan terbata, kemudian segera berjalan cepat untuk keluar dari kamar mandi.
*
*
Sementara itu, ditempat yang berbeda.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya anda makan terlebih dahulu, dari tadi pagi saya lihat anda belum memakan apapun, hanya minum air putih saja" Ucap Rico yang saat ini sedang menyetir mobil dan akan mengantarkan Mars pulang.
"Kita pulang saja" Jawab Mars singkat sembari terus menatap diluar jendela.
Rico yang mendengarnya pun hanya mampu menghela nafasnya. Sebelumnya dia sudah dititipkan oleh Mr. Jim untuk menjaga anaknya Mars jangan sampai lecet atau apapun itu. Entahlah Rico sejak tadi pagi bingung dengan sikap Mars yang seperti sedang galau memikirkan suatu hal.
Setelah sampai di rumah, Mars lalu menyuruh Rico untuk pulang membawa mobilnya agar besok tidak bolak-balik. Toh juga dirumahnya masih ada 2 mobil dan satu motor balap yang...entahlah, sepertinya mertuanya itu yang membelikannya motor couple dengan Vio.
Dengan penuh kemalasan, Mars melangkahkan kakinya memasuki rumah. Mars menatap sunyi ruang tamu itu, ia terus memikirkan tentang Vio. Sungguh, hatinya sekarang terasa sangat panas membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan, apakah mereka hanya berdua saja? Atau bersama teman-temannya yang lain? Mars jadi penasaran seganteng dan sebaik apa Arga itu.
Dengan malas, Mars pun mulai menaiki tapak kakinya naik keatas menuju kamarnya.
"Hufhhh...! Kenapa hidupku selalu dipenuhi dengan kesedihan? Kenapa aku selalu menjadi sad boy? Kapan happy boy nya?" Ucap Mars dengan frustasi, kemudian menjatuhkan dirinya diatas kasur. Biarlah, Mars tidak perduli pada sepatu, kaos kaki, bajunya yang belum diganti. Yang terpenting sekarang, dia sangat kepo dengan apa yang Vio lakukan diluar sana.
"Apa aku kirim pesan aja ya?"
Mars pun tersenyum. Kemudian ia segera mengambil ponselnya didalam saku jas nya.
Pesan itu pun sudah terkirim di nomor Vio. Namun masih menampakkan dua centang abu-abu.
"Dia lagi ngapain? Kenapa pesanku enggak dibaca-baca?" Gumam Mars yang kini pikirannya sudah sangat negatif thinking.
Karena sangat amat tidak sabaran dan pikirannya sudah kemana-mana, Mars pun kini berniat untuk mencari Vio sore ini juga. Ya walaupun sudah melewati waktu magrib dan langit mulai petang, namun pikiran Mars tetap saja tidak tenang.
Dengan segera Mars kembali bangun dan langsung pergi untuk mencari Vio. Tidak peduli jika ia masih menggunakan pakaian kantor.
Namun, Mars meringis saat merasakan perutnya yang tiba-tiba sakit dan perih "Sshhh..." Ringis Mars sembari memegangi perutnya yang semakin lama berdiri semakin sakit menurutnya.
Tapi, Mars tidak peduli dengan sakitnya sekarang. Yang terpenting adalah dia bisa segera menemukan Vio dan membawanya pulang kerumah. Biarlah jika Vio marah padanya nanti.
Dengan berjalan sembari menahan sakit dan perihnya diperut, Mars tidak lupa mengambil kunci motornya. Ya, Mars memutuskan untuk mencari Vio dengan menggunakan motor agar lebih cepat.
__ADS_1
*
*
Sementara itu, ditempat yang tadi.
Kalo ini ketuju orang sahabat itu sedang menikmati bau asap ayam bakar yang tercium. Mereka benar-benar tidak sabar untuk menikmati ayam bakarnya.
Widia dan Vio kini asyik mem-videokan aktivitas yang sedang para laki-laki itu lakukan, yaitu memanggang ayamnya.
Sedangkan Mia, ia lebih memilih untuk duduk anteng dibawah rumah pondok itu. Karena ia malas berkumpul jika ada yang namanya Tama Agree, jadi setelah scandal kamar mandi itu, Mia tidak hentinya terus memonyongkan bibirnya karena bajunya basah.
Jika Aruni saat ini sedang membantu mengoleskan bumbu bakar pada ayam nya.
"Aruni, jangan pantatnya terus yang diolesin, kasian ayamnya" Omel Bagas saat melihat Aruni yang sedari tadi mengoleskan bumbu bakar itu dibagian pantat ayam.
"Lagian orang tolol, siapa yang naro bagian pantat ayam?! enggak inget apa kata nenek moyang? Anak muda dilarang makan pantat ayam!" Timpal Widia sembari terus mem-videokan nya.
"Tama yang potongin ayamnya tadi" Sambung Bagas sembari menunjuk Tama yang saat ini sedang membalikkan ayam ayam itu.
"Ngapa nyalain gue!" Ucap Tama dengan sedikit nyolot.
"Ya terus nyalain siapa?"
"Iya gue emang yang naro pantat ayam. Tapi...anu.." Tama tidak melanjutkan perkataannya. Ia justru memilih pura-pura ngambek dan menyibukkan dirinya dengan membalikkan ayam-ayam imut yang saat inis ednag dibakar.
"Kebiasaan! Gak mau disalahin. Udah gitu mukanya kaya tikus kejepit lagi"
"Eh Gas karbol, muka gue kaya Aliando saraf gini dibilang kaya tikus. Situ waras?!" Sambung Tama yang tidak terima jika wajahnya disamakan dengan tikus kejepit.
Sementara dua laki-laki berkedok emak-emak sedang bertengkar. Justru berbeda dengan Arga yang sedari tadi terus menatap dan memperhatikan Vio tanpa henti. Awalnya Arga ditugaskan untuk mengipas ayamnya, namun semakin lama kipasan itu semakin ngawur tidak karuan, hingga akhirnya yang berlaih mengipas ayam bakarnya adalah Bagas.
__ADS_1
"Vi, liat deh pacar Lo dari tadi liatin Lo Mulu" Bisik Widia pada Vio yang saat ini disampingnya.