Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 41: Bernostalgia pada Mars


__ADS_3

Pagi yang cerah namun tidak cerah untuk seorang yang bernama Violet Clear.


Vio yang baru saja bangun dari tidurnya langsung berlari kekamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi yang ada didalam perutnya. "Huek..Huek..." Vio segera menyalakan kran di wastafel itu dan membersihkan mulutnya.


Vio lalu berpegangan pada wastafel itu. Kepalanya rasanya sangat pusing sekali pagi ini, tidak seperti biasanya. Badannya juga terasa lemas tak berdaya. Ia kemudian melihat dirinya dicermin, memegangi bibirnya yang menunjukkan warna abu-abu pucat. "Kenapa akhir-akhir ini aku selalu mual-mual?" Gumam Vio yang merasa aneh pada dirinya sendiri. Kenapa begitu lama sekali mual-mual nya? Padahal stress nya sudah hilang berlalu, ya walaupun masih sedikit stres sii.


Tapi, Vio kali ini harus berusaha kuat dan tidak boleh lemah setelah ia baru teringat bahwa pagi ini adalah sidang terakhir baginya. Vio lalu lebih memilih untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke pengadilan agama.


*


Pagi itu dipengadilan agama Vio ditemani oleh keempat sahabatnya yaitu Mia, Widia, Tama dan juga Bagas. Merekalah yang memaksakan untuk ikut kepengadilan sebagai support untuknya.


"Gays, udah gue bilang jangan ikut ke pengadilan, bandel semua kalian!" Vio benar-benar merasa tidak enak dan merepotkan mereka ber-empat. Kali ini mereka sudah berada dimobil milik Vio dan yang menyetir mobilnya adalah Tama.


"Kaya sama siapa aja si Vi" Timpal Bagas yang tidak suka Vio berbicara begitu. "Udah dibilang kita mau jadi supporter Lo, kalo misalkan sewaktu-waktu Lo gak kuat liat wajah suami Lo kita bisa deh tu nampol wajahnya biar enggak natap Lo" Ucap Bagas kemudian.


Mia setuju dengan ucapan dari Bagas. "Setuju nih gue sama Bagas" Sambung Mia.


"Sama gue juga. " Lanjut Mia.

__ADS_1


"Gue juga"


"Gak diajak Lo!" Ketus Mia saat Tama ikut-ikutan setuju berpendapat.


"Gue enggak ngomong sama monyet ya.." Jawab Tama kemudian.


Mia segera melempar lipstik yang sebelumnya ada ditangannya itu saking gregetnya dengan Tama.


Tuk!


"Auh..." Tama mengusap kepalanya saat lipstik itu mengenai kepalanya.


"Mia, jangan kasar ih...kasian Tama" Ucap Vio menasehati Mia karena kasian pada Tama yang kesakitan. "Minta maaf gih"


Beberapa menit berlalu kini mobil yang mereka tumpangi pun telah sampai dikantor pengadilan agama. Vio dan yang lainnya menuruni mobil.


Mia dan Widia segera menggandeng tangan Vio guna untuk menguatkan Vio jika ia bertemu dengan pria yang akan menjadi mantan suami dari Vio.


Diikuti dengan Tama dan Bagas yang berada dibelakang ketiga wanita itu.

__ADS_1


Selang beberapa langkah sebelum memasuki pintu pengadilan agama. Salah satu mobil mewah berjenis Lamborghini Gallardo berhenti tepat didepan pintu masuk.


Hal itu mampu membuat pendengaran seorang Vio terganggu. Ia berhenti lalu berbalik badan un6melihat siapa pemilik mobil mewah itu. Mia, Widia, Tama dan Bagas juga ikut berhenti dan melihat siapa didalam mobil Lamborghini itu.


Beberapa detik kemudian pemilik mobil itupun keluar dengan sangat berwibawa dengan kacamata hitam yang menempel diwajah tampan korea, walaupun rambut nya yang sudah mulai memanjang dan juga wajah yang sudah ditumbuhi bulu-bulu tebal disekitar pipi dan bawah hidungnya namun tak mengurangi ketampanan pemuda itu. Ya, itu adalah Mars Angkasa Chanwo, laki-laki yang sudah menggugat cerai istrinya.


Dibalik kacamata hitamnya itu, Mars menatap sejenak orang-orang yang ada didepannya yang sedang melihatnya, termasuk perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. Kemudian sedetiknya ia pun melangkahkan kakinya untuk memasuki gedung pengadilan agama itu.


Saat melewati Vio, Mars sama sekali tidak melirik dan tidak melihatnya walau ditutupi oleh kacamata itu. Dia dengan wajah dingin dan datarnya melewati begitu saja istrinya.


Vio menatap penuh kerinduan pada suaminya. Apalagi saat aroma parfum itu sampai tercium di indra penciumannya. Vio kembali bernostalgia pada Mars, mengingat kenangan singkat yang terjalin dahulu. Walaupun tak banyak namun itu sangat berarti pada Vio.


Namun, sekarang laki-laki yang ia cintai itu seperti seorang tidak kenal yang sangat membenci dirinya.


Mia mengusap lengan Vio. Ia tau ini pasti sangat berat untuk Vio "Vi, kita yakin Lo kuat, kalo Lo emang masih belum siap dan enggak mau buat pisah, biar kita bantuin deh jelasin ke Mars tentang kesalahan pahaman itu, daripada kaya gini" Ujar Mia yang merasa jika mereka sebenarnya masih sama-sama saling mencintai, hanya saja saling terjebak dengan kesalahpahaman dan ego masing-masing.


"Bener Vi, kita bantuin ngejelasin ke Mars" Sambung Bagas yang tidak tega melihat sahabat perempuannya terluka. Ya walaupun dia belum berpengalaman soal cinta, tapi Bagas tau lah dikit-dikit dari toktok.


Vio menghela nafasnya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya "Gue udah mutusin buat melepas ini semua. Kayaknya kita emang udah enggak cocok. Apalagi awalnya pernikahan ini cuman sebuah perjodohan, dan perjodohan juga enggak semuanya berhasil kan? Yah...siapa tau dia udah balikan sama perempuan yang bener-bener dia cinta" Vio menatap kedepan, kembali teringat dengan nama seseorang yang Mars sempat igau kan saat sedang sakit.

__ADS_1


"Perempuan yang dia cintai?" Widia mengerutkan alisnya.


"Huh.. udahlah kita masuk aja" Ajak Vio yang tidak lagi ingin membahasnya bersama keempat sahabatnya itu. Mereka pun kini memasuki gedung pengadilan agama itu.


__ADS_2