Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 47: Dejavu


__ADS_3

Dimeja makan, Mars segera mengambilkan lauk-pauk yang sudah berjejer dimeja makan untuk Vio. Walaupun dia belum tau itu anak siapa, tapi Mars tetap saja khawatir akan kondisi janin didalam kandungannya, apalagi Vio baru saja muntah-muntah lagi.


"Jangan kebanyakan" Protes Vio saat Mars mengambilkan nasi tiga centong. Gila aja, belum lagi lauknya, bisa-bisa perutnya akan sesak dan sulit bernafas karena kekenyangan makan nasi.


"Badanmu semakin kurus, kamu harus makan banyak"


Vio menatap julid suaminya. "Ngaca! Kamu pikir badan kamu makin macho? Kamu juga maskin kurus" Balas Vio karena merasa dia telah di body sheamingi.


"Walaupun kurus, masih banyak tante-tante yang suka" Jawab Mars yang kini duduk berhadapan dengan Vio dimeja makan itu. Dia kemudian memulai makannya dengan lahap. Entah kenapa Mars jadi excited untuk makan, padahal biasanya Mars sangat malas makan dan sehari mungkin hanya sekali saja makan.


Vio juga memulai makannya. Walaupun agak ragu menatap makanan itu, karena biasanya dia akan kembali muntah jika makan apapun, kecuali jika Vio mengidam baru makanan yang ia makan tidak akan muntah. Ia kemudian memasukkan satu sendok makan kedalam mulutnya.


Dan benar saja, baru mengunyah beberapa detik, tiba-tiba Vio rasanya sudah sangat mual lagi. dengan cepat Vio berdiri dan berlari mencari kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi dalam perutnya yang ingin dikeluarkan itu. Tidak keburu, Vio pun memiliki untuk memuntahkannya ditempat cucian piring.


Mars yang melihat Vio berlari menuju dapur pun segera menyusul Vio saat mendengar Vio yang sedang muntah-muntah lagi. Mars pun kemudian segera membantunya dengan cara memijat tengkuk Vio sampai muntah itu berakhir.


"Huekk..." Vio pun menyalakan kran tempat cuci piring itu untuk membersihkan muntahan yang berceceran, tidak lupa ia juga membersihkan mulutnya.


Vio menghela nafasnya saat ia selesai dengan semuanya. Dia benar-benar sangat capek, apalagi kejadian ini tidak hanya sekali dua kali saja, melainkan setiap hari jika makan selalu seperti ini.


"Kamu enggak papa?"


Vio menggeleng.

__ADS_1


"Kita lanjut makan ya,?"


Vio menolaknya dengan menggelengkan lagi kepalanya "Aku enggak mau makan" Tolak Vio yang tidak mau jika dia akan muntah-muntah kembali. Dia capek ngeden-ngeden terus.


"Kamu belum makan tadi" Ucap Mars yang khawatir jika nanti Vio semakin sakit.


"Ya gimana?! Aku kalo mau makan selalu mual dan muntah. Aku capek!" Jawab Vio yang akan menangis. Ini terlalu mendadak baginya untuk menjadi seorang ibu hamil, dia juga belum kepikiran dan berfikir jika akan seperti ini.


"Aku suapin" Ajak Mars yang kini menggenggam tangan Vio dan menariknya kembali kemeja makan. Daripada Vio tidak memakan apapun, lebih baik Mars melakukan ini.


"Kalo aku muntah gimana? Aku males ngedennya" Vio kini duduk kembali dikursinya.


Mars juga ikut duduk disamping Vio untuk menyuapinya "Ya udah jangan ngeden kalo capek" Jawab Mars. Kemudian dia menarik piring makan Vio dan mulai menyendokkan makanan nya. Mars pun menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk pauk itu dedapan mulut Vio.


Dengan ragu Vio mengunyah makanan nya. Wajahnya kini keheranan sembari menunggu sesuatu "Dimana mual itu? Kenapa aku enggak merasakan mual lagi?" Batin Vio aneh saat menunggu mual datang lagi kepadanya.


"Mual lagi?” Tanya Mars kemudian saat melihat Vio yang masih mengunyah.


Dengan pelan Vio menggeleng. "Enggak" Jawabnya yang kini makanan dimulutnya sudah habis.


Mars sedikit tersenyum, namun sangat tipis sampai tidak dapat dilihat oleh siapapun. Ia pun segera menguapkan nya kembali disendok yang kedua.


Dengan senang Vio menerimanya. Karena memang dia juga sudah lapar sedari tadi sebenarnya. Tapi karena Vio jika makan selalu muntah jadi malas dan lebih memilih untuk tidak makan sama sekali.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit, makanan itu sudah habis tak bersisa. Makanan dengan tiga centong nasi beserta lauk pauk yang kata Vio tidak akan habis nyatanya kini sudah habis.


"Istirahat dikamar" Ucap Mars kemudian setelah memberikan segelas air putih pada Vio.


"Sekamar?" Tanya Vio memastikan.


"Terpaksa. Enggak ada kamar lagi selain itu" Jawab Mars.


Vio pun hanya mengangguk saja.


"Mau saya antar?"


"Aku bisa sendiri" Timpal Vio yang memang tidak mau merepotkan Mars. Vio pun segera berdiri dan pergi meninggalkan Mars seorang diri dimeja makan itu, namun sebelumnya Vio berhenti terlebih dahulu "Makasih udah bantu aku makan" Ucap Vio.


Ceklek!


Vio memasuki kamar super mewah dan besar itu. Dia kini berjalan menuju ranjang king size milik Mars. Kekenyangan makan membuatnya menjadi mengantuk sekarang.


Vio merebahkan dirinya. Tapi nyatanya, bukannya cepat tidur dia justru melamun memikirkan sesuatu. Tidak terasa tangan Vio kini menggera yangi perutnya yang masih rata itu. "Papa enggak percaya bahwa kamu adalah anaknya" Ucap Vio pelan sembari mengelus perut rata itu.


Vio kini berpikiran tentang umurnya yang lima bulan lagi akan 29 tahun. Itu artinya dia sudah sangat dewasa dan cukup untuk menjadi seorang ibu. Dikota usia perempuan sekitar 25 sampai 31 adalah perempuan yang masih muda dan paling pas untuk memiliki sebuah anak.


"Maaf ya bayi, waktu tadi mama udah pukul-pukul kamu saat mama tau sedang mengandung kamu. Karena posisinya Mama benar-benar tidak siap tadi. Pikiran Mama masih kosong dan belum bisa berfikir jernih. Tapi, setelah tidur kurang lebih lima jam ternyata pikiran Mama sudah stabil" Ucap Vio lagi yang terus mengelus perutnya.

__ADS_1


__ADS_2