
Vio menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras. Tidak lupa menguncinya, ia takut jika nanti Mars akan melakukan itu kembali.
"Hiks...hiks...Aku benci diriku!" Vio mengusap kasar kulitnya yang tadi terkena sentuhan Mars. Ia berjalan menuju shower dan segera menyalakannya, mengguyur kembali tubuhnya dengan air mengalir dari atas kepalanya.
Tidak lupa menggosok kasar bagian payu dara yang tadi telah Mars pegang dan nikmati itu. Ia melihat beberapa tanda merah dibagian dadanya, dan itu sangat sulit dihilangkan, seberapa kuat ia menggosok tetap saja tidak hilang.
"Hiks...hiks...tidak bisa hilang!!" Vio menangis dengan keras saat bekas hisa pan itu sulit dihilangkan, warnanya masih saja merah maroon.
"Arga, aku...jika kamu melihat ini pasti sangat kecewa kan denganku?" Lirih Vio, ia merasa amat sangat bersalah pada kejadian tadi. Walaupun tadi Vio akui sangat nikmat dan candu sampai-sampai tubuhnya bereaksi seperti itu, bahkan mulutnya mengeluarkan suara menjijikkan. Namun, itu diluar kendalinya, otak dan akal sehatnya terus memberontak, entahlah kenapa bisa seperti ini.
Sementara itu, Mars justru mengusap rambutnya frustasi saat baru menyadari apa yang ia lakukan barusan sangat diluar kendali. Ia sekarang merasa bersalah telah berbuat seperti tadi pada Vio, apalagi setelah melihat Vio yang menangis seperti tadi.
Mars merutuki dirinya yang sangat bodoh sekali. "Arghh...Mars, bisa-bisanya kau berhasrat pada seorang tante-tante" Ucapnya dengan frustasi. Ia menidurkan dirinya ditempat tidur dan memejamkan matanya.
Namun, bukannya semakin tenang, nafas Mars justru semakin memburu naik turun dan gelisah. Kejadian tadi terus terngiang-ngiang didalam pikiran nya sekarang.
Mars menggigit bibirnya saat tiba-tiba gambaran tadi muncul didalam pikirannya, dimana saat ia meng hi sap dan me re mas dua benda kenyal dan bulat milik Vio. Ia meremas sprei saat hasratnya kembali naik dan pastinya benda tak bertulang dibalik celananya itu sudah berdiri tegak minta dipuaskan.
Mars betul-betul benci pada dirinya yang entah kenapa sekarang dia menjadi pria yang mesum dan kotor pada Vio, perempuan yang 4 tahun lebih tua darinya itu. Apakah seperti ini jika sudah menikah? Pikirannya berubah jadi mesum?
__ADS_1
Ceklek!
Mars langsung membuka matanya dan menatap pintu yang baru saja dibuka. Vio berdiri dengan menggunakan baju tidur panjang, tidak lupa dengan mata sembab karena habis menangis.
Mars kemudian bangun dan turun dari kasur, berjalan mendekati Vio untuk meminta maaf atas kejadian barusan.
Vio meremas handuknya yang ia pegang ditangannya saat melihat laki-laki itu mulai berjalan mendekatinya. Ia sedikit memundurkan tubuhnya dan berniat kembali memasuki kamar mandi.
Namun Mars segera mencekalnya.
Vio dengan wajah marahnya segera menghempaskan tangan Mars yang sudah berani menyentuhnya. "KAMU GILAA!!" Pekik Vio didepan wajah Mars hingga air liurnya itu keluar mengenai wajah Mars saking Vio marahnya.
Mars tidak memperdulikannya dengan wajahnya yang terkena air liur milik Vio. "Aku hanya ingin minta maaf"
Vio mendorong tubuh Mars dengan sekuat tenaga, namun hanya sia-sia saat Mars yang justru hanya menundukkan kepalanya dan tidak berpindah sama sekali dari tempatnya. Rasanya dia jengkel pada dirinya, apakah dirinya sependek dan selemah itu?
Karena tidak bergerak sama sekali, Vio pun kembali mendorong tubuh Mars berulang kali sampai berhasil bergerak. Walaupun selangkah, namun bukannya berhasil justru yang Vio dapat hanya lelah saja.
"Tan, kalau tidak bisa sebaiknya sudahi saja" Ucap Mars kemudian setelah sepuluh menit berlalu dan Vio masih berusaha mendorong tubuhnya.
__ADS_1
Vio pun menggantung tangannya diudara. Kemudian mendongok menatap Mars, ia pun menurunkan tangannya. "Harusnya kamu mengalah dan jatuh saat aku dorong!" Vio kembali mendorong tubuh Mars namun tetap seperti tadi, tidak ada pergerakan "Kenapa tubuhmu berat"
"Bukan tubuhku yang berat, tapi Tante yang terlalu kecil dan lemah"
Vio semakin dibuat emosi saat dirinya dihina. "Sudahlah, kamu adalah laki-laki brengsek yang pernah aku temui! Ck, bilangnya tidak pernah msngingkari janji dan tidak akan pernah berhasrat padaku, tapi apa yang kamu lakukan?"
Mars kini melipat tangannya didada dan sedikit menundukkan wajahnya untuk menatap wajah istrinya. Kini Mars mulai yakin pada dirinya bahwa dia sedikit mempunyai rasa pada istri sah nya itu. Mars mulai merubah pikirannya untuk mulai sekarang dia akan merebut semuanya termasuk mahkota dan hati Vio hanya untuknya.
Ia merasa punya hak atas istrinya, dan Mars pikir sangat seru menjalani pernikahan ini walaupun tanpa cinta namun itu suatu tantangan baru baginya. Mengejar cinta sang istri dengan cara melakukan hubungan intim bukannya berhasil? Seperti cerita pada novel yang pernah ia baca saat sedang gabut, dan juga kan dirinya dengan Vio sudah sah lahir batin, jadi halal halal saja kan? Bahkan mendapat pahala jika melakukannya dengan hikmat dan sukarela.
"Aku memang mengingkari janji yang aku bilang tidak berhasrat padamu Tan. Aku akui bahwa saat aku melihatmu tanpa baju hasrat ku ternyata sangat besar padamu" Ucap Mars dengan sejujurnya.
Hal itu mampu membuat Vio menelan ludahnya. Ia malu saat Mars mengucapkan itu.
"Tapi, untuk mengingkari perjanjian itu aku tidak pernah melakukannya" Lanjut Mars kemudian yang dimana membuat Vio melotot.
"Kamu bukan laki-laki pikun kan? Diperjanjian itu jelas tertulis jik-" Ucapan Vio terpotong saat tiba-tiba Mars menunjukkan sesuatu yang mampu membuat Vio tidak percaya dengan apa yang dia baca.
Mars menunjukkan surat perjanjiannya didepan wajah Vio. "Tante bisa membaca kan? Aku sudah menulis poin ke empat bahwa aku bisa merubah kapanpun yang ku mau, dan Tante menyetujuinya "
__ADS_1
Vio melongo membaca semuanya . Ia kemudian berniat untuk merebut surat perjanjian itu, namun dengan gerakan cepat Mars segera menjauhkan surat perjanjian itu.
"Mana bisa begitu! itu pasti surat perjanjian palsu kan?!" Ucap Vio yang tidak percaya. Ia pun berusaha untuk mengambil kertas HVS berisi perjanjian itu.