Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 19: Mie Instan


__ADS_3

Dari pagi hingga menjelang sore, kedua manusia dengan status suami istri itu tidak keluar dari kamarnya masing-masing.


Mars yang sejak tadi pagi sedang sibuk mempelajari tentang perusahaan dan kadang juga ia melakukan panggilan telepon dengan Rico untuk membahas masalah perusahaan, Rico adalah orang yang sudah Appa percaya untuk memimpin perusahaan dikota ini, namun sekarang statusnya sudah berganti resmi menjadi asisten pribadinya.


Sedangkan Vio, saat ini juga sama. Setelah ia menghabiskan waktunya tiga jam untuk tidur siang, Vio kembali dengan aktivitasnya didepan laptop. Pekerjaan Vio adalah membuat cover buku Art, biasanya ia menjualnya melalui media online atau media sosial. Hal itu tentu saja karena dirinya menyukai desain, dan Vio mengembangkan bakatnya lewat media sosial.


Vio saat ini sedang fokus untuk mengedit sampul buku yang klien nya pesan itu. Temanya adalah tentang pernikahan, ia akan mengubah gambar original itu menjadi gambar Art, tidak lupa ia menambahkan judul sesuai request klien. Satu cover ia hargai berbeda - beda sesuai dengan banyak atau tidaknya dan sulit atau tidaknya request klien.


Selain pekerjaan nya yang menjual cover buku, Vio juga ikut dalam menyelenggarakan sosialisasi suka rela bagi anak yatim piatu dari panti asuhan. Maksudnya adalah, Vio setiap hari minggu akan berkeliling untuk meminta sedekah seiklasnya pada orang-orang yang memang berminat membantu ekonomi untuk para anak-anak panti asuhan. Biasanya Vio melakukan itu dengan Arga dan teman-teman lainnya.


Sedangkan jika ditanya, apa lulusan pendidikan Vio? Vio adalah lulusan jurusan manajemen. Sebenarnya Papa sudah beberapa kali menyuruh Vio untuk belajar tentang perusahaan, karena Vio lah yang akan menjadi pewaris perusahaan berikutnya, namun kerap kali Vio menolaknya dengan alasan belum siap dan masih betah dengan pekerjaannya yang tidak menghasilkan uang banyak itu.


Waktu pun terus berlalu hingga malam tiba. Masih sama, kedua insan suami istri itu belum juga keluar dari kamarnya.


Hingga Vio menyadari saat perutnya sudah berbunyi minta diisi. Vio memegangi perutnya dan melihat jam di dinding yang terpasang itu, ia sedikit terkejut saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Pantas saja perutnya terasa sakit dan keroncongngan, karena dari tadi siang ia belum makan sama sekali.


Dengan badan yang lemas tak bertenaga, Vio pun segera mematikan laptopnya dan turun dari ranjang. Vio akan turun kelantai dasar untuk melihat apa ada makanan atau tidak.


Sesaat sebelum turun kebawah, Vio menatap pintu kamar Mars yang masih tertutup itu. Karena letak kamarnya dan kamar Mars itu bersebelahan. Lalu kemudian Vio pun melangkahkan kakinya menuruni tangga.


Vio mengerucutkan bibirnya saat dimeja makan tidak ada makanan sama sekali. Bahkan nasi putih pun tidak ada. Tidak hilang akal, Vio pun lalu melangkahkan kembali kakinya menuju dapur.


Segala tempat ia buka namun tidak mendapatkan apapun makanan. Roti pun tidak ada sama sekali.


Hingga kini, harapannya hanya ada dilemari terahir yang belum Vio buka. Ia berharap semoga dilemari ini ada makanan untuk ia makan.


Dengan segera Vio pun membukanya. Sesaat kemudian wajah yang tadi cemberut kini berubah tersenyum ketika ia menemukan mie instan didalamnya. Vio pun mengambilnya "Tinggal satu" Ucap Vio sembari menatap mie instan kuah rasa kari ayam itu.

__ADS_1


Iya sih makanan yang akan ia makan sudah dapat, tapi sekarang Vio kembali bingung dengan cara bagaimana memasak mie instan. Iya, Vio sama sekali tidak tau cara memasak mie instan, karena sebelumnya jika ingin memakan mie bibi Atik yang selalu memasak untuknya, jika diluar atau saat sekolah Vio juga tidak pernah memakan mie instan karena Papa selalu melarangnya.


Jalan satu-satunya adalah meminta tolong pada bocah dewasa itu untuk memasakkan nya mie instan.


Baru saja beberapa langkah Vio berjalan, tiba-tiba orang yang akan dia cari itu berjalan menuju arahnya.


"Tante sedang apa?" Tanya Mars dengan menatap Vio. Ia sengaja turun kebawah karena lapar dan ingin makan.


"Kamu sendiri ngapain disini?"


"Laper. Apa Tante enggak laper?"


Vio kemudian mengangkat mie yang ia temukan didalam lemari tadi "Ini mau masak, tapi aku enggak bisa masak mie instan" Ucap Vio sembari menunduk menahan malu. "Boleh kan kalo kamu masakin?" Ucap Vio kemudian.


"Cuman satu mie nya?"


"Ya udah, sini biar aku masakin"


Dengan segera Vio pun memberikan mie instan pada Mars.


Mars pun lalu berjalan menuju kompor untuk memasak air terlebih dahulu. Ia mengambil panci yang sudah bersih itu, lalu mengisinya dengan air bersih, setelahnya barulah ia letakkan dikompor dan segera menyalakannya.


Sedangkan Vio hanya bisa melihatnya saja, karena dia tidak bisa memasak sama sekali, bahkan untuk masak air dan menyalakan kompor pun Vio tidak bisa.


"Tante bagian taro bumbunya dimangkok"


Vio pun mengangguk dan segera berjalan menuju rak piring untuk mengambil mangkok nya, tidak lupa ia mengambil sendok dan garpu.

__ADS_1


Setelah air mendidih Mars pun segera mencelupkan mie nya kedalam air tersebut.


Vio tetap fokus pada bumbu mie yang sedang ia tuangkan satu persatu kedalam mangkok.


Tiga menit kemudian.


Vio mencium aroma semerbak harum dari mangkok yang berisi mie instan itu. Sungguh aroma yang sangat ia sukai. Dengan tidak sabar Vio pun segera membawa semangkok mie instan dimeja makan.


Mars lalu mengikutinya dari belakang.


Vio pun segera duduk dan bersiap untuk menyantap mie instan kari ayam itu. Air liurnya bahkan hampir keluar saat menatap makanan nya. Sebelum memakannya tidak lupa Vio meniup terlebih dahulu agar mengurangi rasa panas.


"Baca doa Tan" Ucap Mars yang kemudian duduk disamping Vio.


Vio hanya melirik sebentar lalu kembali pada makanannya. Setelah dirasa sudah tidak panas, ia pun langsung memakannya.


Sedangkan Mars, ia hanya mampu memegang perutnya saja yang lapar. Mungkin untuk makan ini saja dia akan menahannya dulu.


"Mau enggak?" Tanya Vio kemudian setelah tadi melirik bocah dewasa itu yang terlihat menyedihkan.


Mars menggelengkan kepalanya "Tante saja makan" Jawab Mars yang menolaknya. Ia takut jika istrinya itu masih lapar.


"Jangan sok deh laki-laki 24 tahun!" Ucap Vio dengan judes, lalu kemudian menggeser mangkok mie nya ditengah-tengah antara dirinya dan juga Mars. "Bagi dua aja deh kalo gitu"


Mara menatap mie instan itu. Ingin rasanya menolak, tapi perut dan cacingnya sudah meronta ingin diisi. "Semangkok?" Tanya Mars kemudian.


"Kenapa? Kalo enggak mau ya-"

__ADS_1


"Iya mau" Dengan segera Mars pun mengambil sendok dan segera melahap mie kuah itu.


__ADS_2