Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 36: Ucapan Perceraian


__ADS_3

"Mars...." Sungguh, Vio benar-benar tidak mengerti kenapa dirinya tidak mengeluarkan darah keperaw anannya , padahal ini adalah yang pertama kalinya ia melakukan itu dengan laki-laki.


Sorot mata lelaki itu kini semakin dingin, datar dan kosong. Kini Mars tidak percaya lagi pada wanita manapun, dia tidak percaya dengan cinta apalagi mencintai seseorang. Ia pikir pernikahan ini akan berjalan baik dan mulus saat ia berubah menjadi laki-laki yang baik dan belajar mencintai istrinya. Mars bahkan menyetujui semua perjanjian yang Vio berikan.


Sudah terlanjur. Semua sudah berlalu begitu saja. Mars kemudian memompa tubuhnya maju dan mundur untuk menuntaskan hasrat yang sebelumnya masih ada. Tidak ada rasa nikmat sama sekali saat melakukan itu.


Begitupun dengan Vio yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sesekali ia mengeluarkan de sa hannya saat Mars melakukannya dengan tempo cepat.


Setelah sama-sama mengeluarkan cairannya Mars segera mencabutnya dan dengan cepat memakai kembali pakaiannya. "Perceraian akan segera saya urus secepatnya" Ucap Mars setelah selesai memakai semua pakaiannya.


Degg..!


Kepala Vio seakan melayang-layang keudara mendengar ucapan Mars. Kepalanya terasa berputar dan sangat sakit. Ia yang sebelumnya masih tergesa-gesa dan tertidur melihat kepergian Mars yang sudah mulai menjauh. "Demi apapun aku enggak pernah melakukan itu Mars hiks.." Isak tangis Vio kembali terdengar sangat memprihatinkan. Vio kemudian tiba-tiba teringat dengan masa lalunya yang dimana ia pernah jatuh dari sepeda sampai membuat bagian int imnya sakit dan mengeluarkan sedikit darah. Ia bahkan sampai dibawa kerumah sakit karena itu. Tapi karena Vio masih kecil jadi dia tidak mengetahui tentang seperti itu.


"A-aku inget Mars...Dulu aku pernah jatuh dari sepeda dan itu menyebabkan darah itu hilang..." Jelas Vio dengan sungguh-sungguh.


Mars berhenti diambang pintu tanpa menoleh "Jangan cari alesan lain untuk menutupi semua kelakuan yang kamu perbuat!" . Satu tetes air mata lelaki itu telah keluar dari kelopak matanya dan jatuh kelantai marmer. Kemudian Mars segera pergi meninggalkan Vio seorang diri dikamarnya dengan keadaan yang sangat menyedihkan.


Vio menggeleng lalu berusaha untuk bangun dan mengejar kepergian suaminya. Namun baru akan turun dari kasur, ia sudah merasakan sakit yang amat luar biasa dibagikan int im nya.

__ADS_1


"Sshh..Mars tolong percaya...tolong Mars hiks...hiks.." Panggil Vio namun justru pria itu malah pergi semakin menjauh darinya.


Vio menangis sejadi-jadinya dikamar Mars. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Aaarrrgghhhh!!!" Teriaknya histeris.


"Aku membenci mu Mars...! Hiks...hiks..aku membencimu..." Ucap Vio dengan sesugukan. Ia kembali menidurkan dirinya setelah kepalanya semakin terasa pusing. Vio bahkan tidak peduli dengan keadaannya yang masih telan jang.


"Aku mencintai kamu tapi kamu malah membuat aku menjadi wanita yang tidak punya harga diri" Ucap Vio dengan memandangi langit-langit kamar.


"Apakah sebuah kehormatan harus dinilai dengan darah keperaw_anan? Apakah sebegitu tidak percaya nya kamu sama aku Mars? Apa sampai sini saja pernikahan kita? Padahal aku sudah bermimpi untuk hidup bersama mu setelah kamu pulang"


*


"Rico, tolong siapkan tiket pesawat untuk malam ini" Perintah Mars lewat telepon. Ia malam ini juga akan pergi kenegara J untuk menghadiri acara perayaan pernikahan wanita yang dulunya pernah Mars cintai itu.


"Tolong urus surat perceraian ku dengan istriku. Untuk berkas-berkas pernikahan akan segera aku kirim kesana" Ucap Mars dengan dingin pada anak buahnya. Ia kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Setelahnya Mars berdiri dan pergi dari ruang tamu untuk keluar dari rumahnya. Ia akan pergi kekantor terlebih dahulu untuk beristirahat, lalu setelahnya ia akan langsung pergi kebandara.


*

__ADS_1


Lama Vio merenungi nasibnya, ia kemudian terbangun saat mendengar ponsel miliknya berdering. Vio melirik ponsel yang tak jauh darinya, dengan ia paksakan Vio mengambil ponselnya.


"Bibi?" Gumam Vio saat melihat nama yang tertera diponselnya. Yang menelepon nya adalah seorang Art dirumah Papa. Dengan segera Vio pun mengangkatnya.


"Hallo Bi, kenapa?"


Diseberang sana Bibi Atik menangis tersedu-sedu. Ia sulit untuk memberikan informasi yang buruk pada anak majikannya itu. "Non...Papa Non hiks...hiks.."


Vio yang mendengar bibi menyebut nama Papa dengan menangis pun jadi panik dan penasaran dengan apa yang terjadi. "Bi, ngomong yang bener"


"Papa Nona... Hiks.." Bibi melihat kebelakang, yang dimana para dokter sudah menutup kain diwajah Almarhum Tuan Haris.


"Bi...! Tolong bicara yang jelas. Papa kenapa?" Teriak Vio. Entah kenapa sekarang perasannya tidak tenang dan terus memikirkan Papa.


"Papa Non Vio baru saja terkena serangan jantung. Orang rumah telat bawa Tuan Haris keruang sakit, Tuan...tuan meninggal diperjalanan menuju rumah sakit"


Bruk!


Vio menjatuhkan ponselnya. Badannya yang masih tertidur itu sekarang semakin lemas tak berdaya. Hacur... Hidupnya benar-benar hancur sekarang... Kenapa dia sangat tidak beruntung sekali? Mars baru saja menceraikannya dan sekarang...? Papa... keluarga yang Vio punya satu-satunya serta tempat sandaran hatinya kini pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Kini hidupnya benar-benar perfect. Sangat sempurna sekali hari ini. Kini pikiran wanita itu telah kosong tanpa apapun, tidak ada tatapan kekecewaan, tapi tatapan yang penuh ejekan karena hidupnya benar-benar perfect.


...~~~~...


__ADS_2