
Setelah beberapa saat, Vio pun kini mencoba untuk kembali menghubungi Mars.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif
Lagi dan lagi suara operator yang terdengar ditelinga Vio. Ia kemudian berdiri, Vio memutuskan untuk mencari keberadaan Mars sekarang. Ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada suaminya itu. Vio tidak peduli dengan hujan deras diluar sana.
Dengan langkah cepat, Vio pun kembali berjalan menuju pintu utama yang sebelumnya sudah dikunci.
Namun, belum sempat dia membuka, Vio mendengar suara ketukan dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
Dengan sedikit rasa takut, Vio pun dengan perlahan mulai memutar kuncinya. Walaupun agak ragu karena beberapa hari yang lalu Vio sempat membaca suatu artikel bahwa harus berhati-hati jika pintu diketuk tengah malam, takutnya itu adalah seorang penjahat.
Vio menghentikannya. Ia harus berfikir cerdas, siapa tau orang diluar bukanlah Mars, melainkan seorang penjahat yang bisa jadi perampok dan sebagainya.
Vio melihat kanan kiri, berfikir barang apa yang bisa ia gunakan jika memang benar orang diluar bukanlah suaminya. Kemudian matanya tertuju pada salah satu pemukul baseball yang berada dipojok pintu.
Dengan langkah cepat, tangannya mengambil pemukul baseball. Vio pun kini bersiap membuka pintunya.
Tok!
Tok!,
Tok!
__ADS_1
Suara itu kembali terdengar ditelinga Vio.
Kemudian dengan sedikit ketakutan dan menelan ludahnya kasar. Vio yang sudah memegang pemukul itu pun memulai kembali memutar kunci yang tadi sempat ia tunda.
Tek...,
Suara kunci itu saat sudah diputar dengan sempurna.
Vio pun kemudian menarik pintunya dan bersiap untuk memukul seseorang yang tadi mengetuk pintunya.
Tapi, sesaat tongkat pemukul baseball itu seketika melayang dan berhenti diatas udara saat ia melihat siapa seseorang yang saat ini sedang berada didepannya.
"Kamu pulang? Syukurlah...kamu baik-baik saja kan?"
Untuk sesaat Vio masih bergeming tak bergerak. Beberapa saat kemudian pemukul baseball itu mulai ia turunkan dan jatuh kelantai. Hatinya semakin merasa bersalah dan menyesal telah izin pada Mars tadi pagi untuk pergi bersama Arga.
Vio membeku ditempatnya. Badannya seolah kaku dan sulit untuk digerakkan. Air matanya luruh kebawah membanjiri wajahnya yang cantik itu.
Bagaimana tidak sakit? Vio melihat saat ini Mars dengan tatapan sayu sembari tangannya memegangi perutnya, dan juga baju kantor yang sudah basah kuyub dipakai oleh Mars. Apakah ia mulai mencintai Mars hanya dalam waktu dua hari saja? Buktinya, baru melihat Mars yang seperti ini saja Vio sudah sangat sedih dan sakit melihatnya.
Mars yang melihat Vio hanya diam dan justru malah menangis, ia pun berniat untuk menghampiri Vio yang jaraknya hanya tiga langkah dari depan matanya.
Namun ternyata, tidak sesuai yang diharapkan. Baru satu langkah Mars berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya terasa semakin lemas tak bertenaga. Ia pun oleng..
"Mars!" Vio segera menolong Mars dengan memegangi tangannya agar tidak jatuh. "Kamu kenapa hiks.." Tanya Vio kemudian sembari menangis.
Mars yang ingin pingsan pun sekuat tenaga ia paksa untuk membuka matanya. Dengan mata sayu ia menatap sang istri "Kenapa nangis?" Tanya Mars pelan dengan lemah.
Vio menggeleng "Suami aku gini, masa aku enggak nangis!" Jawab Vio sembari menahan kesal. Tapi ia tetap memegangi tangan Mars dengan kuat.
__ADS_1
Mars tersenyum tipis mendengarnya "I love you"
"Mars! Aku bakal jatuhin kamu sekarang juga!" Kesal Vio. Bisa-bisanya disaat seperti ini Mars masih bisa mengucapkan kata i love you padanya.
"Iya maaf" Ucap Mars saat melihat tatapan elang dari Vio. "Bisakan anterin aku kekamar? Aku kayaknya enggak kuat jalan"
Vio pun dengan segera mengangguk "Iya, aku anter kamu kekamar" Ucao Vio yang kemudian memapah pundak Mars. Ya, walaupun dia merasa Mars sangat terasa berat, tapi Vio yakin pasti bisa.
Dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit diperut dan juga kedinginan karena terkena hujan, Mars pun mencoba untuk berjalan semampunya agar tidak terlalu memberatkan Vio. Kasian, badannya sudah kecil ditambah harus memapah dirinya yang tinggi.
Sekitar lima belas menit, kini Vio pun telah sampai didepan kamar milik Mars. Sembari tangannya masih memapah, Vio membuka pintunya. Kamar masih gelap karena lampu belum dinyalakan.
Kemudian lebih dulu Vio menyalakannya. Dengan dipenuhi keringat, yang ternyata pria berusia 24 tahun itu sangat berat baginya Vio pun membawa Mars ketempat tidur.
Baru juga sampai tiba-tiba.
Bruk...
"Mars!" Panggil Vio dengan keras saat Mars tiba-tiba menjatuhkan dirinya ditempat tidur dengan mata tertutup.
Vio pun menepuk pelan pipi Mars agar terbangun. "Astaga, badannya panas" Ucap Vio kemudian saat ia menepuk pelan pipi milik Mars.
Sekarang ia bingung bagaimana cara membenarkan posisi Mars agar tidur dibatal. Dan juga, tidak mungkin kan suaminya itu terus menerus memakai baju yang sudah basah kuyup begini? Yang ada malah semakin sakit iya karena dingin.
"Tidak mungkin jika aku yang harus mengganti bajunya" Gumam Vio sembari terus berdiri menatap suaminya yang masih pingsan. Ya, bagaimana lagi kan? Dirumah ini tidak ada art, penjaga gerbang atau petugas lain yang seperti ada dirumahnya. Art juga datang seperti nya hanya hari sabtu dan minggu saja saat weekend.
"Apa aku suruh art dirumah Papa?" Namun kemudian Vio mengglengkan kepalanya. "Tidak. Yang ada Papa curiga kalo aku belum ngapa-ngapain sama Mars"
Dengan penuh keterpaksaan, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, Vio harus menggantikan semua pakaian milik Mars.
__ADS_1