
Sementara itu, Mars segera membawa Vio kedalam mobilnya. Ia meletakkan Vio didepan, setelah memasangkan seatbelt Mars kemudian menutup pintu mobilnya dan berjalan cepat kepintu mobil satunya.
Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya dan memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat yang ada disini.
Diperjalanan, sesekali Mars melirik Vio yang masih pingsan itu. Sebenarnya ada rasa rindu dihatinya untuk melihat kembali wajah Vio, tapi ego dan rasa kecewa membuatnya menjadi pria yang lebih memilih untuk pergi dibandingkan menyelesaikannya dan memaafkan apa yang terjadi.
Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil yang ia tumpangi telah sampai disalah satu rumah sakit besar yang ada dikota itu. Kebetulan itu juga adalah yang paling dekat dengan kejadian tadi.
Dengan segera Mars pun mengangkat tubuh ramping Vio dan membawanya keruangan IGD untuk pemeriksaan. Ia takut jika terjadi suatu hal yang serius dalam diri Vio.
Sampai di IGD Vio pun segera dilakukan penanganan oleh sang dokter. Dan Mars diminta untuk tunggu diluar ruangan.
Ia pun duduk dengan tidak tenang. Pasalnya, Mars saat dipengadilan agama, ia memperhatikan wajah Vio yang begitu pucat tak terurus. Sama sepertinya hehe... Ia pun menyisir rambutnya dengan jemarinya, menunjukkan bahwa Mars sedang sangat khawatir dengan apa yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu terbuka, dan dokter laki-laki itu keluar dari ruangan. Mars tentu saja langsung berdiri dan mendekati sang dokter. "Bagaimana kondisi....istri saya dok, dia baik-baik saja kan? Tidak ada sakit serius? " Ya, walau bagaimanapun Vio tetaplah masih resmi menjadi istrinya sekarang.
__ADS_1
Dokter laki-laki dengan usia yang sekitarnya 40 tahun itu tersenyum "Jangan terlalu khawatir anak muda, istri anda baik-baik saja" Jawab sang dokter.
"Lalu, kenapa istri saya pingsan dipengadilan agama?" Tanya Mars dengan sejujur-jujurnya mengatakan bahwa istrinya pingsan dipengadilan agama setelah sidang itu diputuskan untuk diundur.
Dokter tersebut sedikit terkejut mendengar ucapan anak muda didepannya. "Jadi anda baru saja bercerai dengan istrinya?"
"Gagal, sidang diundur 3 hari lagi" Ucap Mars yang jadi membahas masalah persidangan.
Dokter yang tak lagi muda itupun menepuk pundak Mars dengan senyuman sumringah. "Wahh... sepertinya perceraian ini akan gatot alias gagal total haha..."
Mars mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan dokter didepannya "Maksutnya apa?" Tanya nya dengan bingung. Kenapa bisa gagal?
Duarrrrr!!!!
Tubuh Mars seketika menjadi beku seperti es baru mendengar ucapan sang dokter. Ia kemudian menggeleng seakan tak percaya bahwa Vio tengah hamil. Tapi ia berfikir tentang kejadian sebelum melakukan itu dengan dirinya. Apakah itu anaknya? Atau jangan-jangan anak Arga?
__ADS_1
*
Sementara itu, Vio didalam ruangan sedang menangis terisak mendengar pernyataan dari dokter bahwa dirinya tengah hamil dan tengah memasuki minggu ke 6, hampir ke 7.
Ia kini merenungi nasibnya yang seakan cobaan itu selalu muncul setiap saat. Masalah ini belum selesai, kenapa harus ada masalah baru lagi?... Vio memukul perutnya, dia benci, kenapa harus ada janin didalam sini.
"Kenapa kamu harus ada nak! Hiks... seharusnya jangan berkembang didalam sini. Kenapa kamu harus ada...? Kita bahkan baru melakukannya satu kali saja" Vio yang tak menyadari akan kehadiran seseorang pun terus memukul perutnya dengan benci. Rasanya ia tidak sanggup jika harus menambah satu beban lagi.
Mars pun segera berlari dan memegang kedua tangan Vio yang tak hentinya memukul perut itu. "Kamu gila?! Dia bisa mati!" Mars menatap Vio dengan matanya yang merah karena marah.
Vio justru semakin menangis sesugukan. "Aku benci anak ini!" Teriak Vio didepan wajah suaminya.
"Kenapa kamu sebenci ini? Bukankah dia anakmu juga? Saya bahkan tidak sebenci itu walaupun saya tidak tau apakah benar jika itu anak saya atau bukan. Tapi, apapun itu kita akan undur perceraian sampai anak ini lahir nanti"
Vio dibuat semakin terkejut mendengarnya. Ia tidak percaya bahwa Mars akan mengucapkan itu. Jadi Mars bimbang ini anaknya atau bukan? What is dust? Ia menatap Mars dalam dan semakin menumpahkan air matanya.
__ADS_1
Tangan yang sebelumnya digenggam oleh Mars pun dengan cepat Vio lepas dan segera mendorong tubuh suaminya dengan kuat hingga Mars mundur beberapa langkah. "PERGI DARI SINI!!! HIKS... PERCERAIAN AKAN TETAP KITA LAKUKAN TIGA HARI LAGI!!! AKU MEMBENCIMU!!" Teriak Vio dengan frustasi. Kini dia menjadi sangat benci pada Mars sebenci-bencinya. Ini benar-benar keterlaluan dan sudah sangat merendahkan harga dirinya sebagai perempuan. Sudah cukup dirinya dituduh ini dan itu, bahkan tuduhan itu sampai membuatnya di perko sa oleh suaminya sendiri. Serendah itukan dia? Sampai-sampai Mars tidak percaya bahwa ini adalah anaknya.
"Aku bakal abor si anak ini kalau perlu!" Lanjut Vio kemudian sembari menunjuk perutnya.