Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 40: Surat panggilan terakhir


__ADS_3

Setelah memasuki ruangan yang dimana dulunya adalah ruangan orang yang paling dia sayangi, Papa yang paling Vio rindu, dan Papa yang selalu bisa memanjakan dirinya.


Vio melihat ruangan dengan nuansa abu-abu putih yang terlihat sangat elegan itu. Karena memang sedari dulu Papa sangat suka warna yang elegan. Vio kini telah sampai dimeja kebesaran almarhum Papanya. Tangannya kemudian mengambil bingkai foto yang dimana itu adalah fotonya saat wisuda kuliah beberapa tahun yang lalu.


Vio kembali meneteskan air matanya saat melihat foto sang Papa yang tertawa bangga padanya saat wisuda itu. Ia kemudian memeluk bingkai fotonya dan Papa. "Pa...Vio kangen hiks..hiks..."


Tok!


Tok!


Tok!


Vio segera meletakkan bingkai gambar itu kembali dan mengusap pipinya untuk menghapus air matanya. "Masuk..!"


Wanita dengan menggunakan jas hitam dan celana cargo panjang itu segera masuk kedalam ruangan itu. Dia adalah Anya sekretaris pribadi dari Tuan Haris dengan postur tubuh tinggi seperti seorang atlet. Kalau di ibaratkan Visualnya seperti Anya Geraldine. "Nyonya memanggil saya?"


Vio mengangguk. Ia melihat penampilan Anya dari atas sampai bawah. Menurutnya sangat keren, Papanya sangat good dalam memilih sekretaris. Vio jadi minder melihat Anya, apalagi melihat tubuh tinggi berotot seperti Anya. "Ada yang pengen saya bicarakan sama kamu. Kita duduk disofa situ aja ya.." Ucap Vio kemudian lalu berjalan mendekati sofa yang ada diruangan ini.


Anya mengangguk dan segera duduk juga setelah melihat Nyonya Vio duduk.


"Ee...eemm..begini, kamu tau saya kan?"


Anya tentu saja mengangguk. Ia juga sering melihat anak almarhum bos nya yang selalu datang kekantor, namun mungkin saja Vio tidak terlalu memperhatikannya. "Tentu saya tau. Anda adalah anak dari Tuan Haris, boss saya"


Vio menarik nafasnya. Ia menautkan kedua tangannya. Sungguh sangat grogi ingin mengucapkannya pada Anya.


"Katakan saja Nyonya, tidak perlu sungkan. Saya akan memperlakukan nyonya sama seperti saya menghormati Tuan Haris. Apalagi nyonya adalah pewaris selanjutnya untuk memimpin perusahaan ini" Jelas Anya yang sedari tadi melihat Nyonya Vio yang sedang grogi.

__ADS_1


Vio menatap Anya. Perempuan yang menjadi sekretaris Papa nya itu, perempuan yang terlihat ganteng cool dan mempesona. Ia bingung, kenapa ia terpana dengan wajah Anya yang seperti seorang laki-laki? Astaga, apa dia tidak normal? Kenapa Vio ingin sekali mencium pipi milik Anya.


"Em, terimakasih Anya. Saya sebenarnya belum berpengalaman dalam bidang ini, kamu bisa kan bantu saya belajar tentang perusahaan? Em...saya percaya padamu karena kamu adalah sekretaris Papa saya, sudah berapa tahun kamu bekerja?"


"Kurang lebih 8 tahun nyonya"


Vio mengangguk "Sudah lama. Berarti Papa sangat percaya sama kamu"


"Dengan senang hati saya akan mengajarkan anda tentang perusahaan ini. Jangan sungkan dengan saya, bicarakan apa yang anda mau, tidak perlu malu, karena saya adalah bawahan anda. Saya berharap anda menjadi seorang pemimpin yang sukses dan disegani banyak orang" Titah Anya panjang lebar dengan matanya terus menatap Nyonya Vio.


Vio kembali mengangguk. "Amin,"


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan?"


Vio menggeleng.


"Iya. Saya akan belajar bes- Huek...Huek..." Vio segera berlari kekamar mandi yang menyatu dengan ruangan itu saat tiba-tiba ia merasa mual dan ingin memuntahkan makanan yang ada didalam perutnya.


Anya yang melihat itu tentu saja khawatir. Ia segera menyusul nyonya Vio.


Vio memuntahkan semua isi didalam perutnya di wastafel kamar mandi. Anya yang melihat itu segera memijat pelan tengkuk leher Vio hingga sampai Vio berhenti muntah.


Selang beberapa menit berlalu, Vio pun selesai.


"Nyonya baik-baik saja? Kalau perlu kita kerumah sakit saja" Usul Anya.


Vio menggeleng "Enggak usah. Memang akhir-akhir ini saya sedang tidak enak badan, jadi mual-mual, tapi saya baik-baik saja"

__ADS_1


............


Satu bulan kemudian, kini Vio jalani hari-hari dengan kesibukan dan kepadatannya dalam bekerja dikantor. Memang Vio lebih memilih untuk menyibukkan diri daripada harus terus merenung dan menyendiri. Ia baru menyadari, ternyata bekerja dikantor sangat menyenangkan sekali. Saat dimana otak kita harus terus fokus pada laptop dan memeriksa berkas-berkas sehingga semua masalah didunia nyatanya terlupakan sejenak.


Vio juga sudah mulai handal dalam melakukan segala pekerjaan yang berhubungan dengan Klien, tentang presentasi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Itu semua berkat sang sekretaris pribadinya yaitu Anya.


Tok!


Tok!


Tok!


Vio menghentikan aktivitasnya dan menutup laptopnya. "Masuk" Ucap Vio dengan sedikit keras.


Salah satu pegawai bernama Yuni itupun memasuki ruangan setelah mendengar jawaban dari Nyonya Vio.


"Yuni? Ada apa?" Tanya Vio saat melihat Yuni.


"Ada seseorang yang mengirimkan surat untuk nyonya" Jawab Yuni yang kemudian segera menyerahkan surat itu diatas meja kebesaran Vio.


Vio melihat amplop putih dengan bercorak hijau dan ada logonya. Ini adalah yang ketiga kalinya Vio mendapatkan nya. "Baiklah. Kamu boleh pergi"


Yuni mengangguk lalu permisi dan segera pergi meninggalkan ruangan.


Vio menatap amplop yang saat ini sedang didepan matanya. Ia tentu tau apa isi amplop yang bertulis *Pengadilan Agama* itu. Karena Ini adalah yang ketiga kalinya surat itu datang.


Ya, dua hari setelah Vio pergi kekantor milik Mars namun ditolak oleh Mars, Vio mendapatkan surat panggilan pertama dari pengadilan Agama. Tentu saja Vio teramat menyayat jiwa dan hatinya membaca satu persatu isi surat nya. Dipanggilan pertama Vio tidak datang karena ia sakit setelahnya, dan dipanggilan kedua Vio juga tidak datang karena ia tidak sanggup jika bertemu dengan Mars disana. Dan ini adalah panggilan ketiga, yang artinya Vio diwajibkan datang untuk sidang terakhir perceraian nya.

__ADS_1


Vio perlahan membuka amplopnya dan surat pengadilan itu. "Besok..." Gumam Vio saat membaca surat pengadilan itu. Tidak menyadari bahwa air matanya sudah luruh kebawah menganak sungai. "Kali ini aku ikutin kemauan kamu, aku akan Dateng besok Mars. Mungkin memang sampai sini takdir kita, takdir kita memang tidak diperbolehkan oleh tuhan untuk berlayar. Hem..Belum juga kapalnya berlayar, eh udah tenggelam dengan kesalahpahaman dan berakhir perceraian" Pinta Vio yang menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan nasibnya sendiri. "Emang salahku yang menyia-nyiakan dan yang terlambat untuk mengucapkan kata cinta. Mana ada suami yang ridho melihat istrinya jalan bersama pacarnya. Iya, ini semua memang aku yang salah huhu...Vio bodoh!"


__ADS_2