Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 23: Kenapa hatiku berubah?


__ADS_3

Vio yang melihat kedatangan Arga pun segera berdiri untuk mendekati Arga.


"Mulai deh bucin nya! Sumpah kita kaya apaan disini" Ucap Widia dengan kesal. Pasti deh kalau yayang Arga sudah datang, mereka akan diabaikan.


Sementara Aruni, dia hanya bisa tersenyum tipis melihat kedua pasangan itu yang sedang saling rindu dan bertemu. Aruni menarik nafasnya dalam-dalam melihat keromantisan antara Arga dan Vio, kemudian Aruni pun lebih memilih untuk membantu Bagas mengupas bawang. Sungguh, hatinya sangat sakit jika melihat keromantisan mereka, jadi Aruni lebih memilih untuk sibuk sendiri saja.


"Iya enggak Aruni? Eh..monyet, malah ditinggalin gue" Widia pun segera mengikuti Aruni yang saat ini mendekati Bagas.


*


Vio tersenyum saat sudah sampai dan melihat Arga yang baru saja melepas helm nya.


Begitupun dengan Arga yang ikut tersenyum. "Apa kabar? Sayang?" Tanya Arga kemudian.


"Kabar baik Tuan Arga" Jawab Vio dengan tersenyum lebar.


Arga yang gemas dengan ekspresi wajah Vio pun segera mengacak-acak rambutnya hingga kusut.


"iihh...! Kusut rambut aku Gaaa!!!" Pinta Vio dengan kesal saat Arga yang membuat rambutnya menjadi berantakan dan kusut.


"Maaf. Abisnya kamu gemesin tau gak"


"Masa sich"


Arga mengangguk. "Kita ngobrol dipohon gede itu yuk kaya biasanya" Ajak Arga pada sang pacar. Mereka memang biasanya mengobrol dibawah pohon besar yang ada didepan rumah pondok ini.


Vio pun mengangguk.


Mereka akhirnya berjalan bersama menuju pohon besar yang biasanya mereka bercerita.

__ADS_1


"Kepala kamu masih sakit Ga?" Tanya Vio setelah mereka sudah sama-sama duduk.


Arga menatap Vio yang ia pikir semakin hari rasanya Vio semakin cantik menurutnya. "Tadi masih sakit, tapi liat wajah kamu sakitnya jadi rindu" Jawab Arga kemudian dengan jujur. Matanya terus menatap Vio tanpa berkedip.


Vio seketika menjadi salah tingkah dibuatnya melihat Agra yang menatapnya seperti itu. "Jangan natap aku gitu Ga" Ucap Vio sembari terus menatap kedepan. Ia tidak berani jika menatap Arga juga.


"Kenapa? Kan pacar aku, jadi terserah aku lah"


"Eh..btw luka kamu kemarin cuman di kepala aja? yang lain enggak papa kan?" Tanya Vio yang mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa Vio jadi teringat pada Mars suaminya. Vio merasa sangat berdosa saat ini karena berduaan dengan laki-laki lain.


"Sama lutut sedikit lecet, tapi enggak parah kok" Jawab Arga kemudian.


Beberapa saat setelah pembicaraan itu, mereka sama-sama terdiam.


Tidak seperti biasanya, Vio yang selalu cerita ini dan itu pada Arga kini hanya diam saja. Entahlah kenapa sekarang ia memikirkan Mars.


"Vio, kok diem aja?"


Vio kemudian menatap Arga sejenak lalu kembali menatap kedepan. "Lagi pengen diem aja Ga"


Arga menghela nafasnya. Entah kenapa dia merasa Vio berubah padanya. Padahal biasanya seberat apapun masalah Vio, dia tidak akan diam dan melamun selama ini, biasanya juga Vio akan langsung bercerita padanya tentang yang terjadi satu minggu ini.


"Kamu enggak mau cerita tentang satu minggu terakhir ini?" Tanya Arga kemudian.


Vio menggeleng pelan "Enggak" Jawabnya singkat.


Lagi dan lagi, Arga dapat menemukan perubahan Vio. Biasanya Vio tidak akan menjawab sesingkat ini.


Dengan penuh keberanian, tangan Arga pun mulai bergerak dan berniat untuk menggenggam tangan milik Vio.

__ADS_1


Vio yang merasakan tangannya ada yang menggenggam pun segera menariknya dan memeluknya. "Eee...Ga, aku kayaknya mau bantu Bagas ngupas bawang deh, aku pergi duluan ya" Dengan segera Vio berdiri dan pergi meninggalkan Arga seorang diri dibawah pohon besar itu.


Sementara Arga, ia hanya menatap kepergian Vio yang mulai menjauh. Lalu kemudian tatapannya beralih pada tangannya sendiri, tangannya yang baru saja ditolak untuk digenggam oleh Vio. "Apa yang terjadi?" Gumam Arga pelan. Biasanya Vio tidak akan menolak jika hanya sekedar memegang tangan saja.


*


*


Sementara itu, dikamar mandi saat ini Tama sedang membantu Mia untuk membersihkan wajah yang terkena cipratan bumbu ikan tadi.


"Mi, kok mata Lo ada item-item nya" Tanya Tama saat sedang mengusap pelan bagian kelopak mata.


Mia yang mendengar pun segera mengusap matanya, kemudian melihat pada tangannya yang memang berwarna hitam. "OMG....! Maskara Gue...!!!!" Pekik Mia saat melihat maskara mahalnya itu luntur.


Tama menutup telinganya yang hampir tuli mendengar pekikan keras dari Mia. Bagaimana tidak hampir tuli? Ini adalah kamar mandi kedap suara, dan Vio berteriak sangat kencang didalam kamar mandi yang sebelumnya ditutup itu. "Berisik Miaaa!!!!" Teriak Tama yang tak kala kerasnya pada Mia.


Bukannya mendengar kan, Mia justru menangis histeris karena maskara plus eyeliner nya luntur. "Hhuuuuaaaaa....!!!!! Gara gara Lo Tama jelek!!!" Teriak Mia disertai tangisannya yang semakin kencang. Ia kemudian mengambil secibuk air dan menyiramkannya pada Tama.


Byurr!!!


Tama melototkan matanya saat melihat dirinya yang seperti sedang mandi. Kaos putih oblongnya serta celana Levis pendeknya itu sudah basah kuyup karena Mia. Kemudian laki-laki tinggi dengan wajah seperti orang barat itu menatap tajam Mia.


Mia yang masih menangis histeris itupun tidak puas melihat Tama yang sudah basah. Ia pun berniat untuk mengambil seciduk air lagi. "Huaaa .... Laki-laki bejat!!! Dandanan gue rusak tolol!!" Dengan segera Mia mencidukkan satu gayung air dan kembali menyiram Tama.


Byurr!!!


Siraman itu kini mengenai wajah tampan Tama.


"Mia sialan!" Geram Tama sembari mengusap kasar wajahnya yang basah.

__ADS_1


__ADS_2