Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 42: Pingsan


__ADS_3

Masuk kedalam ruangan, Vio bersama sahabatnya menaiki tangga menuju lantai dua, karena lantai dua adalah tempat dimana sidang itu akan dilakukan.


Sebelum dipanggil keruangan sidang, biasanya harus menunggu dahulu diluar sampai petugas memanggilnya untuk masuk.


Sampai ditangga terakhir. Vio dapat melihat Mars yang sedang mengobrol dengan seseorang yang sepertinya itu adalah sang pengacaranya. Ada rasa hati berdesir serta berdebar didalam hatinya saat kembali melihat wajah itu lagi. Namun wajah suaminya dengan versi yang lebih dewasa, rambut gondrong serta wajah yang dipenuhi dengan brewokan.


"Mia" Panggil Tama pelan dengan menepuk-nepuk tangan Mia yang sedang menggandeng tangan Vio.


Mia menatap kebelakang "Apa sih!" Timpal Mia yang merasa risih saat dirinya dipegang-pegang.


"Jauhan duduknya sama si Mars, gue takut Vio bakal drop" Ucap Tama pelan.


"Tau" Jawab Mia yang kemudian membawa Vio ketempat duduk paling jauh dengan Mars.


Sesampainya dibangku Vio duduk dengan tatapan matanya yang tak lepas dari suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan. "Ini beneran? Jadi sebentar lagi kita akan berpisah? J-jadi kita akan asing?" Gumam Vio yang merasa tidak menyangka dengan ini semua. Rasanya seperti sedang bermimpi buruk sekarang.


Sementara Mars, ia masing menggunakan kacamata hitam ditempat duduknya. Ia saat ini sedang bersama dengan pengacaranya yang akan menjadi sanksi nya nanti. Sesekali ia juga menatap Vio yang terus memandanginya, jujur Mars sangat tidak nyaman saat Vio menatapnya seperti itu, rasa marah itu masih ada sedikit walau sudah 1 bulan berlalu, bukan hanya marah namun juga kecewa. Untung Mars menggertakkan kacamata hitam, jadi orang tidak akan tau mata Mars memandang kemana saja. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata ia masih sangat merindukan sosok Vio dalam hatinya, ibaratkan susah move-on itulah yang cocok. Tapi karena rasa kecewa yang sangat mendalam ia tetap akan melanjutkan perceraian ini, mungkin inilah yang terbaik.


"Atas nama Mars Angkasa Chanwo dan Violet Clear" Panggil seorang petugas yang tiba-tiba membuka pintu ruangan sidang.


Semua yang ada diluar ruangan pun menatap sang petugas. Jantung Vio berdebar kencang saat dirinya dipanggil untuk masuk, terlebih jika nantinya ia akan mendengar hasil sidang lalu ketuk palu.

__ADS_1


Mia dan Widia mengelus punggung Vio untuk menenangkan Vio sebelum masuk kedalam ruangan sidang. "Semangat Vi!" Ucap Widia yang menyemangati Vio.


Diikuti oleh Mia, Tama dan juga Bagas yang memberikan semangat dengan acungan jempol.


Vio tersenyum melihatnya. Ia mengangguk "Thanks, gue masuk ya..." Vio kemudian berdiri dan mulai berjalan memasuki ruangan setelah melihat Mars yang sudah masuk terlebih dahulu bersama pengacaranya.


Mereka kini sudah sama-sama duduk dikursi yang sudah disediakan. Yaitu ditengah-tengah dan didepan para hakim. Sedangkan sang pengacara Mars duduk disebelah kanan Mars yang tak jauh.


Vio menautkan kedua tangannya saat tiba-tiba tubuhnya menjadi panas dingin. Ia gemetaran sekarang, karena sebentar lagi ia akan resmi menyandang status sebagai janda.


Ketua Hakim perempuan itu melihat penggugat dan tergugat secara bergantian. "Baiklah, semua sudah hadir disini. Yang pertama mau saja lakukan sebelum sidang ini kami putuskan adalah memberi tahu suatu hal"


Vio dan Mars sama-sama menatap kepala sidang itu untuk mendengarkan nya baik-baik.


Mars seketika menundukkan pandangannya. Entah kenapa ditanya seperti itu dia jadi susah untuk menjawab. Suaranya seakan tercekat ditenggorokan nya dan susah untuk dikeluarkan.


Vio tak berani menatap suaminya. Ia justru kembali meluruhkan seluruh air matanya hingga membanjiri pipinya. Ia yakin jika Mars akan menjawa 'iya'.


Dengan ragu-ragu Mars mengangguk pelan atas jawabannya.


Hakim melihatnya dengan penuh keraguan atas jawaban dari sang penggugat, hakim tersebut kini yakin bahwa sebenarnya penggugat masih memiliki rasa cinta pada sang istri. "Kalau begitu, saya beri waktu untuk kalian renungi. Pikirkan apa yang akan terjadi nantinya jika kalian bercerai, apakah menyesal atau percaya akan bahagia kedepannya? Maka dari itu, saya putuskan bahwa sidang akan diundur tiga hari kedepan"

__ADS_1


"Tok!....Tok!......Tok!....."


Setelah mengetuk palu, ketiga hakim tersebut segera pergi meninggalkan ruangan.


Kini diruangan itu hanya ada Vio, Mars dan juga sang pengacara. Sang pengacara tersebut pun keluar lebih dulu dari ruangan. Kini hanya tinggal mereka berdua saja.


Kemudian Mars pun segera berdiri dan berniat untuk segera pergi dari ruangan sidang itu. Ia kembali memakai kacamata nya setelah sebelumnya ia lepas saat memasuki ruangan sidang ini.


Vio pun juga sama, ia akan keluar dari ruangan itu. Namun, baru saja beberapa langkah berjalan, tiba-tiba kepalanya sangat terasa sakit dan pusing secara berbarengan. Satu tangannya Vio berpegangan pada kursi yang berjejer itu. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat cenut-cenut seperti akan pingsan. Pandangannya pun juga sudah mulai buram dan menghitam.


"Mars...." Panggil Vio pelan saat tubuhnya terasa lemas dan sudah mau ambruk.


Mars menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya saat akan membuka pintu. Ia kemudian berbalik saat dirinya merasa ada yang memanggil.


"Vio!" Mars dengan cepat berlari mendekati Vio yang akan pingsan itu. Beruntunglah ia tepat waktu hingga tubuh Vio kini sedang berada dipelukannya.


Mata Vio yang sebelumnya masih sedikit terbuka itu perlahan memejamkan matanya pingsan.


Dengan segera Mars pun mengangkat tubuh istrinya yang semakin enteng dan kurus itu. Ia berjalan cepat keluar ruangan. Menghiraukan para sahabat Vio yang sedang menatap penuh khawatir pada Vio yang pingsan.


"Vio!" Panggil Mia yang segera berdiri saat melihat sahabatnya pingsan dan berada digendongan sang suami. Mia pun berniat akan menyusul Vio, namun ditahan oleh Tama "Apaan sih! Vio pingsan"

__ADS_1


"Kita biarin, dia suaminya, kita enggak perlu ikut campur" Ucap Tama kemudian.


__ADS_2