Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 7: Ke Butik


__ADS_3

Vio semakin terisak saat dirinya tiba-tiba teringat dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya itu. Dia sangat amat tidak pernah menyangka akan dijodohkan dan menikah dengan laki-laki itu.


"Hiks...Mama.... pria yang akan dijodohkan denganku juga masih kecil, bocah ingusan...Dia masih bocah ma, coba Mama bayangkan sekarang aku anakmu mau menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda 4 tahun..."


Pagi itu hingga menjelang siang, tidak henti-hentinya Vio menangis dimakan sang Mama, orang yang paling Vio sayangi untuk selamanya. Setelah dirasa cukup, Vio segera membereskan semuanya yang berserakan dipinggir makam mamanya. Sebelum pergi tidak lupa Vio mencium batu nisan dengan nama mamanya.


*Viana Binti Abu Mahmud*


Vio menarik nafasnya, dia melambaikan tangan saat akan berjalan menjauh dari rumah mamanya"See you Mam..." Ucap Vio sebelum benar-benar pergi.


*


*


Setengah jam kemudian dia telah sampai dirumahnya yang berlantai tiga itu. Vio menatap heran saat ada sebuah mobil yang lumayan mewah memasuki kawasan rumahnya. Dengan penasaran Vio segera melepas helmnya dan turun dari motor.


"Assalamualaikum" Ucap Vio yang seperti biasanya jika sehabis keluar rumah. Walaupun tidak ada orang dirumah Vio akan mengucapkan salam juga.


"Waalaikum salam" Jawab dua orang laki-laki dengan usia berbeda itu.


Langkah Vio berhenti diruang tamu. Sedikit terkejut saat tiba-tiba bicah ingusan itu ada disini, dengan menggunakan pakaian santai sehari-hari.

__ADS_1


"Vio, Mars kesini pengen ngajak kamu untuk kebutik, milik baju untuk ijab qobul nanti" Pinta Haris saat melihat anaknya sudah datang.


"Ke butik?" Tanya Vio kembali."Vio tidak bisa Pa, Vio capek habis ke makam Mama" Ucap Vio kemudian. Untuk apa pergi bersama pria yang tidak dikenalnya dan pria yang tidak ia sukai sama sekali. Terlebih tujuannya adalah memilih baju untuk ijab qobul.


"Vio, jangan berbicara seperti itu. Mars datang kemari dengan sopan, apa sangat melelahkan hingga memiliki baju pun tidak bisa" Ujar Haris yang merasa putrinya sangat tidak sopan. "Bagaimana jika sudah menikah nanti, sedangkan sikapmu tidak memiliki rasa menghargai. Ingat! Dia adalah calon imam kamu tiga hari lagi"


Vio menghela nafasnya kasar"Oke aku berangkat!" Sudahlah, dirinya malas berdebat sekarang. Dengan sangat terpaksa akhirnya Vio mengiyakan nya dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu untuk berganti baju.


Haris menggelengkan kepalanya melihat sikap putrinya itu. sudah berusaha 27 tahun namun masih saja bersikap seperti remaja.


"Nak Mars, maafkan atas sikap Vio yang kurang mengenakkan ya.." Ucap Haris yang merasa tidak enak. Ia takut calon menantunya itu tidak nyaman dan akan membatalkan perjodohannya, sebenarnya Haris juga keberatan dengan perjodohan yang dilakukan untuk putrinya, namun karena suatu amanah dari seseorang yang sangat dia cintai Haris harus melaksanakannya.


Mars menggeleng"Tidak masalah Om, biar saya tunggu dimobil saja ya..," Dengan segera Mars mencium tangan Om Haris sebelum keluar.


"Pasti Om,"


Sembari menunggu Tante Vio, Mars membuka handphone nya. Layar kunci dengan foto selvie dirinya dan. Juga Yasmine, perempuan yang disukai namun tidak bisa digapai itu.


Mars mengusap layar ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca "Yasmine, maafkan aku atas perkataan ku kemarin... sungguh tidak ada niatan untuk berkata dan menuduhmu. Aku mengatakan itu karena sudah terlanjur cinta padamu, tapi ternyata semua perkataan ku membuatmu sakit hati hingga kamu pergi. Hanya karena aku menyukaimu akhirnya kita menjadi asing, aku minta maas Yasmine Asilal, orang yang akan selalu ada dalam hatiku, perempuan yang tidak akan pernah aku lupakan, perempuan sederhana yang membuat seorang Mars jatuh cinta untuk pertama kalinya..."


Mars langsung buru-buru mematikan layar ponselnya saat tiba-tiba pintu mobilnya dibuka seseorang. Entah kenapa air mata yang sebelumnya akan menetes seketika hilang begitu saja, masuk kembali dalam kelopak matanya.

__ADS_1


"I'm sorry bocah, nunggu lama ya??? Iya, soalnya aku habis Vc bentar sama Arga"


Mars tidak menanggapi perkataan dari tante-tante yang duduk disampingnya. Ia justru menatap menampilkannya dari atas sampai bawah.


Vio yang sadar jika dirinya sedang diperhatikan pun seketika bertanya"Why? Keren banget ya sampe melongo?" Ucap Vio sembari menaik turunkan alisnya, lalu kemudian memejamkan matanya dan kepala bersender dikursi.


"Pakai seat belt nya dulu Tan"


"Males ah. Tidak akan terjadi apa-apa juga" Ucap Vio yang masih memejamkan matanya.


Karena jawaban dari Vio itu seakan tidak peduli, akhirnya dengan terpaksa Mars sendiri yang turun tangan. Dia segera mengambil sabuknya dan memasangkan seat belt itu agar terpasang.


Vio sedikit tersentak saat tiba-tiba pinggangnya terjepit sesuatu "Kamu...!" Geram Vio saat menurutnya apa yang bocah ingusan itu lakukan.


Mars hanya memasang wajah datarnya saja, sangat malas untuk berdebat dengan wanita tua tapi sikap masih seperti remaja SMP itu. Apalagi dengan penampilan yang seperti anak punk. Jaket levis dengan celana levis panjang yang robek dibagikan lutut dan paha, serta warna lipstik yang sedikit gelap.


Karena bocah itu hanya menunjukkan ekspresi datar saja, akhirnya Vio pun memiliki diam dan melanjutkan memejamkan kembali matanya yang sudah ngaber alias ngantuk berat.


Selama perjalanan menuju butik tidak ada percakapan diantara kedua insan berbeda jenis kelamin itu, karena selama perjalanan Vio tertidur tanpa bangun sama sekali.


Sesekali Mars melirik kesampingkannya, ia begitu heran, sebenarnya dia ini sedang mati atau tertidur, sedari tadi Vio tidak bergerak tetapi mengeluarkan suara dengkuran halus.

__ADS_1


"Jika tertidur begini terlihat sedikit cantik" Batin Mars saat melihat wajah polos seorang wanita yang jika terbangun mungkin akan membuatnya selalu kesal karena menyebutnya bocah ingusan.


__ADS_2