
"Lo duluan yang ngikutin tai!" Ucap Tama yang tak kalah nyolotnya dengan Mia.
Mia yang tidak terima pun berdiri dan berjalan mendekati Tama, kemudian setelah sampai ia sedikit menunduk dan segera menarik kerah baju Tama dengan bar-bar. "Kok nyalot!"
"Eh..eh eh..Mia jangan kasar" Ucap Widia yang kasihan Tama terkena KDRT.
Tama pun dengan kasar menghempaskan tangan Mia yang telah menarik kerah bajunya "Jijyk gue disentuh sama Lo" Ketus Tama, kemudian ia lebih memilih untuk tidak memperdulikan kehadiran Mia. Sungguh, sekarang musuh terbesarnya adalah Mia, ia amat sangat membenci Mia sedari dulu, entahlah kenapa.
"Monyet Lo!" Sambung Mia dengan menendang paha Tama.
*
*
Saat waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 Wib, semua pun memutuskan untuk bubar dan pulang.
"Aruni, Lo belum dijemput?" Tanya Vio setelah melihat kepergian Widia yang baru saja dijemput oleh sang sopir pribadi.
Semuanya sudah pulang kecuali Vio, Arga dan Aruni saja. Tama dan Bagas pulang bersama menggertakkan motor, sedangkan Mia pulang sendiri menggertakkan motor nya juga.
Aruni menggeleng "Kayaknya gue naik taxi aja deh, pak Karmo lagi anterin bunda cek up kerumah sakit sekarang" Ucap Aruni kemudian.
"Sama Arga aja, bukannya kalian tetanggaan?" Vio lalu menatap Arga dan Aruni secara bergantian.
Aruni seketika menundukkan kepalanya.
"Biar dia naik taxi aja" Jawab Arga kemudian dengan ekspresi wajah dingin.
"Kok gitu si Ga? Sekalian lah, rumah kalian cuman beda dua meter doang" Ucap Vio yang merayu Arga agar mau mengantar Aruni pulang. Ia kemudian mengedip-kedipkan matanya lucu "Ya ya ya..anterin Aruni pulang...."
Arga yang melihat wajah menggemaskan dari Vio pun akhirnya tidak mampu lagi untuk menolak permintaan dari sang pacar. "Ya udah, oke aku bareng Aruni" Jawab Arga kemudian yang sudah benar-benar tidak berdaya melihat wajah menggemaskan dari Vio. "Tapi, kissing pipi aku dulu" Sambungnya lagi.
Vio pun seakan membeku mendengar ucapan Arga. Ia kemudian melirik Aruni yang masih menunjukkan kepalanya yang menunduk, dengan terburu-buru Vio pun mendekati Arga dan.
Cup!
Ia mengecup singkat pipi Arga.
__ADS_1
Arga tersenyum dibuatnya saat pipinya sudah dikecup singkat owlh Vio.
"Udah kan? Sana anterin Aruni!" Pinta Vio.
"Iya" Arga kemudian segera menaiki motor balapnya dan memberikan helm yang biasanya Vio pakai jika berbonceng dengannya.
Vio menyenggol lengan Aruni "Sana, Arga udah ngasih helm"
"Makasih ya" Ucap Aruni kemudian, lalu segera mengambil helm dan memakainya. Dengan tersenyum ke arah Vio, Aruni pun perlahan menaiki motor balap milik Arga.
"Hati-hati!" Teriak Vio saat melihat motor yang dinaiki oleh Arga dan Aruni mulai menjauh.
Kini hanya tinggal Vio sendiri yang belum pulang. Sebelum menyalakan mesin motornya, Vio lebih dulu membuka tas ransel yang sudah ia gendong dibelakang, ia lupa jika tadi ingin mengecek ponselnya.
Data seluler yang sebelumnya sudah dihidupkan kini memunculkan notifikasi sangat banyak dilayar kunci ponselnya. Sekitar ada 99+ pesan dan chat dari Mars. Dengan segera Vio pun membukanya.
Sayang, kapan pulang? Sholat isya bareng yuk!
Sayang
Sayang aku udah pulang dari kantor
kamu cuman sama dia aja sayang?
Sayang jangan ngapa-ngapain ya sama dia
Vio aku jemput
Vio kamu dimana lokasinya?
Vi, aku udah jalan mau cari kamu, jangan marah ya
Vio
P
P
__ADS_1
Assalamualaikum
Vio
Kamu udah pulang kerumah belum?
Vi kamu dimana?
............
Vio membacanya dengan air mata yang terus mengalir. Tidak hanya chat yang lebih dari 99+ itu, namun juga panggil tak terjawab yang lebih dari enam puluh kali.
Vio tidak mendengar nya karena sebelumnya ia bisukan notifikasi di ponselnya agar tidak menggangu aktivitas nya nanti.
Dengan wajah yang panik karena terakhir kali dilihat Mars adalah sekitar satu jam yang lalu, Vio pun segera menghubungi Mars.
Namun, sudah berulang kali Vio coba menelepon, panggilan selalu ada diluar jangkauan terus-menerus, ia sudah mencoba menghubungi lewat Wa dan telepon pribadi, namun nihil! Mars tidak bisa dihubungi sama sekali.
Kemudian dengan wajah yang dipenuhi keringat dan air mata, Vio pun segera menyalakan mesin motornya. Pertama yang harus ia lakukan adalah pulang kerumahnya dan melihat apakah Mars sudah pulang atau belum. Siapa tau sekarang Mars sudah pulang dan sedang tidur dikamar?
Dengan kecepatan tinggi Vio mulai menjalankan motor balapnya itu, untung malam ini jalanan sepi, jadi Vio bisa bebas dan sedikit rasa khawatir jika terjadi kecelakaan. Namun, Vio tetap memperhatikan benar-benar jalanan itu agar nantinya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
Sekitar satu jam perjalanan menuju rumah yang baru sehari ia tinggali itu, kini Vio sudah sampai.
Ia melihat lampu teras sudah dihidupkan namun kamar Mars masih terlihat gelap dari bawah. Gerbang juga masih ditutup rapat. Dengan cepat Vio meninggalkan motornya diluar gerbang dan mulai membuka gerbang yang sebelumnya tidak dikunci itu.
"Pintu juga tidak dikunci?" Gumam Vio saat sudah sampai dipintu depan.
Duarrrrr!!!
Vio sedikit terperanjat kaget. Ia kemudian berbalik dan melihat langit malam itu. Langit yang kini sedang mendung, bintang dan bulan pun kini sudah tidak terlihat lagi dipandangnya Vio. Kilat juga sudah mulai banyak dilihatnya.
Vio kemudian melihat garasi yang masih terbuka. ya, benar, Mars belum pulang sekarang, buktinya motor yang satunya tidak ada di garasi.
Beberapa saat kemudian, hujan deras pun mulai turun dari langit. Vio melihat kedepan, yang dimana hujannya begitu lebat, ditambah angin yang lumayan kencang malam ini. Dengan takut, Vio pun mulai memasuki rumah.
Air matanya mulai bercucuran sembari memeluk tubuhnya yang sedikit dingin karena angin tadi. "Mars...Kamu kemana?" Tanya Vio dengan bergemetar. Rasa bersalah itu kini mulai menghantui Vio.
__ADS_1
Pikiran buruk juga kini mulai menghantuinya. Dimana suaminya? Dimana Mars? Apakah dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apa kan?