Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 39: Penolakan


__ADS_3

Keesokan harinya, dengan penampilan Vio yang sangat amat sederhana, Vio seperti ucapannya kemarin yang akan menemui Mars dikantornya. Siapa tau dengan itu dia bisa bertemu dan menjelaskan kembali apa yang memang terjadi sebenarnya. Vio berharap semoga saja Mars sedang ada dikantor dan tidak sedang melaksanakan meeting.


Kini mata panda nya juga sudah tidak terlihat lagi setelah sebelumnya diolesi dengan krim yang berwarna seperti warna kulit itu.


Lama perjalanan sekitar setengah jam ia sudah sampai didepan kantor suaminya yang sangat besar dengan beberapa lantai yang menjulan tinggi. Vio mengendarai mobil itu sendirian tanpa ditemani oleh sopir yang ada dirumahnya.


Sebelum benar-benar masuk kedalam kantor milik Arga itu, lebih dulu Vio menarik nafasnya dalam-dalam untuk merilekskan pikiran dan perasaan nya. Lalu baru setelahnya Vio berjalan dengan anggun memasuki lobi perusahaan menuju resepsionis.


"Selamat pagi nona, ada yang bisa kami bantu" Ucap sang resepsionis saat melihat Vio yang mendekatinya.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Mars" Jawab Vio.


"Maaf nona siapa? Apa sebelumnya sudah ada janji dengan Tuan Mars? Jika sudah, tolong berikan buktinya"


Vio menggeleng "Belum, saya tidak ada janji dengan beliau. Saya adalah Violet Clear istri dari tuan Mars" Jelas Vio kemudian.

__ADS_1


Resepsionis yang mendengar nya pun seketika tertawa "Ha ha ha ha.. jangan bercanda dong nona. Iya, memang Tuan Mars adalah impian dan tipe suami idaman para wanita. Saya juga bermimpi supaya menjadi istrinya. Kalau begitu biar saya telepon dulu tuan Mars"


Vio hanya mengangguk tak menanggapi ucapan resepsionis tersebut. Ia pun berdiri menunggu.


"Halo Tuan Mars, ada yang ingin bertemu dengan anda, atas nama Violet Clear. Saat ini beliau sedang menunggu Tuan. Baik kalau begitu" Resepsionis tersebut pun segera meletakkan teleponnya setelah selesai berbicara. "Nona maaf, Tuan Mars menolak untuk bertemu dengan anda, sebaiknya anda membuat perjanjian terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan tuan Mars" Lanjut resepsionis kepada Vio.


Vio menundukkan wajahnya, menyembunyikan kesedihannya didalam hati. Ia baru saja mendapatkan penolakan dari suaminya. Mars, apakah kesalahan ku begitu besar? Padahal aku sudah berkata jujur padamu. Vio lalu mengangguk tersenyum pada sang resepsionis. "Baik, kalau begitu terima kasih" Ucap Vio lalu segera pergi.


Namun baru berjalan beberapa langkah, entah kenapa tiba-tiba kepala Vio merasa pusing dan mual. Vio berhenti sejenak dengan memegangi kepalanya "Sshhhh..." Desis Vio saat merasakan kepala yang semakin sakit, tapi tiba-tiba "Huek" Vio juga merasakan mual namun tidak ingin muntah.


Vio menggeleng lemah. "Saya enggak papa huek.."


"Biar saya antar kerumah sakit ya? Tidak jauh dari sini kok" Tawar resepsionis tersebut karena melihat Vio yang kasihan.


"Saya enggak apa-apa. Saya bawa mobil didepan, ini mungkin hanya masuk angin aja, makasih ya atas keperdulian nya"

__ADS_1


Ya, Vio memang entah kenapa selama kurang lebih 1 minggu sering merasakan mual dan pusing, apalagi jika setiap bangun tidur. Vio berfikir mungkin karena akhir-akhir ini dia sedang banyak pikiran mangkanya jadi kurang enak badan. Tapi, yang Vio anehkan kenapa dia juga sering meminta yang aneh-aneh, seperti makan buah manggis yang isinya harus ada empat dan lainnya.


Vio kemudian secara perlahan berjalan kemobilnya yang ada diparkiran. Sebelum memasuki mobil, Vio lebih dulu menatap gedung kaca yang menjulang tinggi itu. Banyak rasa kecewa yang ada dalam hatinya ketika Mars menolak untuk bertemu. Apa mungkin Vio harus pasrah sampai disini? Apa dia menyerah saja dan lebih memilih pernikahan ini berakhir dengan keadaan yang saling salah paham? Sekarang kenapa disaat hatinya sudah benar-benar terukir nama Mars Angkasa justru cobaan menimpanya?.


Segera Vio memasuki mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya menjauh dari kantor Mars, kini ia akan pergi kekantor yang akan menjadi milik Vio selamanya. Ya, Vio akan belajar tentang kantor untuk menjadi pemimpin perusahaan selanjutnya milik Papa, dia akan menjalankan wasiat dari Papa untuk menjaga, membangun dan membuat perusahaan itu berkembang luas.


Sekitar setengah jam, kini mobil yang ditumpangi Vio sudah sampai dikantornya. Tentu gedung ini lebih tinggi dan besar dibandingkan milik Mars, karena ini bukanlah kantor cabang.


"Selamat datang Nyonya Vio" Sapa resepsionis saat melihat anak dari almarhum Tuan Haris dengan penampilan sangat sederhana.


Vio tersenyum tipis. "Pagi, saya pengen bertemu dengan sekretaris pribadi Papa bisa?"


Resepsionis dengan cepat mengangguk "Bisa Nona, namanya adalah Nona Anya, saya akan menginformasikan untuk datang keruangan anda"


Vio mengangguk "Oke, saya tunggu diruangan" Vio lalu segera berjalan menuju lift untuk menuju lantai atas dimana dulu adalah ruangan sang Papa.

__ADS_1


__ADS_2