
Sampai pada kamarnya, Mars segera meletakkan Vio diranjang king size miliknya. Ia menatap wajah pucat istrinya serta mata sembab karena menangis tadi. Mars juga sedikit aneh, padahal sedari tadi dia sudah menggendong dan mengangkat tapi tidak bangun sama sekali. Apakah se-senyak itu tidurnya?
"Apa aku harus percaya kalo anak dalam kandunganmu adalah anakku? Kalo bukan gimana? Aku rasa jalan satu-satunya adalah tes DNA saat usia kandungannya sudah 3 bulan" Gumam Mars yang mengusulkan sendiri. Rasanya sangat sulit untuk percaya pada Vio sebelum ada bukti nyata.
Mars kemudian menjauh dari Vio dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti baju santai.
*
*
Vio mengerjapkan matanya saat dia sudah menghabiskan waktu tidurnya selama hampir 5 jam lebih. Ini adalah tidur paling lama setelah satu setengah bulan terakhir ini.
Matanya yang masih belum sepenuhnya sadar itu ia alihkan pada pandangan disekitarnya. Sangat asing baginya tempat ini. Vio berfikir ini adalah sebuah apartemen, tapi punya siapa? Siapa yang membawanya kemari? Apa Mars?
Vio kemudian duduk sembari matanya terus saja menatap sekitar kamar tanpa henti. Kini ia sangat yakin bahwa sekarang dirinya sedang berada di apartemen milik Mars. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Sesaat Vio bergeming dan merasakan sesuatu diperutnya. Vio dengan cepat menuruni ranjang dan berlari menuju kamar mandi untuk kembali memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. "Huekk...Huekk..."
Sementara Mars yang sedari tadi dirumah kerja dengan disampingnya terdapat komputer yang menunjukkan CCTV kamarnya pun segera berdiri saat melihat Vio yang sepertinya sedang mual dan ingin muntah. Mars pun berlari menuju kamarnya yang bersebelahan dengan ruangan kerjanya.
Ia begitu khawatir akan kondisi tubuh Vio.
__ADS_1
Vio segera mencuci tangan dan mulutnya setelah selesai memuntahkan semua isi didalam perutnya. Ia heran, padahal yang keluar hanyalah sebuah air, tapi kenapa rasanya begitu mual sekali. Apakah seperti ini rasanya mual saat hami? Ah... jika bisa diputar, ia seharusnya segera meminum obat pil KB untuk mencegah kehamilan walaupun melakukan hanya sekali. Vio pikir membuat anak perlu melakukannya berkali-kali agar bisa jadi, nyatanya baru sekali sudah hoki.
"Vio, apa baik-baik saja?" Tanya Mars yang kini memasuki kamar mandi.
Vio hanya diam tak menjawab. Ia masih sangat marah pada Mars karena tidak perca6bahwa anak yang ada dalam kandungannya adalah anaknya sendiri, darah dagingnya.
"Pulangin aku! Kita tetap berpisah 3 hari lagi!" Ucap Vio pada Mars.
"Kan saya bilang, tunggu sampe bayi ini lahir baru kita lanjutkan perceraiannya. Seharusnya kamu bersyukur karena saya masih mau bertanggung jawab atas semuanya -"
"Memang ini adalah tanggung jawab kamu Mars! Udah aku jelasin sebelumnya bahwa aku enggak pernah lakuin apapun sama Arga, kenapa enggak percaya?! Kamu cuman liat dari mata kamu aja kalo aku sama Arga lagi kaya gitu, padahal yang sebenarnya terjadi belum tentu dengan apa yang kamu liat!" Tukas Vio yang memotong ucapan Mars.
Mars menatap sang istri tanpa berhenti. "Lalu darah per-"
Mars yang ditatap seperti itu pada Vio pun menundukkan pandangannya. Ia bimbang antara percaya atau tidaknya dengan penjelasan Vio. "Saya butuh buktinya. Kalo benar semuanya, maka perceraian itu bisa dibatalkan"
Vio tersenyum miring mendengarnya. Miris, ternyata penjelasannya masih tidak dipercayai oleh Mars. Ia jadi penasaran, apakah Mars juga mencintainya atau malah mencintai perempuan yang pernah Mars igaukan waktu sakit?
"Kamu butuh penjelasan? Tanya didepan makam Papa. Kecewa berat sama kamu! Sakit hati!" Setelahnya Vio segera pergi berjalan melewati Mars dan meninggalkannya dikamar mandi ini. Namun sesaat Vio terhenti diambang pintu "Minta maaf juga sama Papa karena waktu pemakaman enggak hadir" Ucapnya kemudian lalu benar-benar pergi dari kamar mandi.
Vio kemudian mengambil tasnya yang berada diranjang serta jaket rajutnya. Ia akan pulang kerumah sekarang dan tidak mau tinggal lama-lama ditempat ini. Walaupun tempatnya sangat nyaman namun tetap saja perasannya selalu kesal tidak kali melihat wajah lelaki itu. Vio capek untuk menjelaskan apapun pada Mars, karena rasanya hanya percuma dan hanya mendapatkan lelahnya saja
__ADS_1
Dengan cepat Vio pun mulai berjalan keluar kamar. Ia menuruni tangga satu persatu hingga sampai pada lantai dasar apartemen itu. Ia menatap dinding kaca dengan pemandangan luar yang luar biasa. Vio sekarang tau bahwa dirinya sedang berada di penthouse, yaitu apartemen yang letaknya paling tinggi diantara lainnya.
Namun ia tak peduli seberapa indah apartemen ini, Vio lebih memilih untuk keluar. Ya, walaupun ada sedikit rasa pengen dan tertarik untuk tinggal disini, tapi hanya 15 persen saja.
Ia kemudian berjalan kearah pintu untuk segera keluar dari sini. Namun, sialnya pintu itu menggertakkan password dan sidik jari untuk keluar. Vio semakin dibuat kesal melihatnya. Vio pun kini mencoba untuk membuka password pintu dengan otak dan pikirannya. Namun semua angka password yang ia pencet salah.
"Nona"
Vio sedikit terperanjat kaget saat tiba-tiba ada suara dibelakang punggung nya. Ia pun berbalik.
Seorang Art dengan nama Sutri itu memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya. "Maaf non Vio, Tuan Mars sudah menunggu dimeja makan untuk makan malam"
"Saya enggak mau! Maunya keluar dari sini" Jawab Vio yang kini kembali berbalik dan mencoba memasukkan angka-angka lagi, siapa tau hoki.
"Non, Tuan bisa marah nanti"
"Saya enggak peduli!"
"Tuan bilang nanti pintunya akan dibuka" Titah Sutri kemudian.
"Benarkah?" Tanya Vio dengan gembira.
__ADS_1
"Setelah anak dalam kandungan non lahir tapi"