Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 29: Bayi Berondong


__ADS_3

Vio terus saja mengomel sendiri selama perjalanan menuju ke dapur saking jengkelnya pada suami berondong nya.


"Dasar, sudah dibilang sarapan malah ditinggal!"


"Terlalu menyepelekan apa yang ku ucapkan"


Setelah sampai dapur, kini Vio menggaruk kepalanya gatal. Sok sokan mau membuatkan nasi bubur, padahal menyalakan kompor saja baru bisa tadi pagi, itupun karena keadaan gawat darurat.


"Minta bantuan tetangga boleh gak ya?" Gumam Vio yang tiba-tiba memiliki ide secara tiba-tiba. Namun, sedetiknya ia menggeleng. "Liat YouT ube lebih praktis dan mudah" Lanjutnya kemudian.


Dengan penuh bersemangat Vio pun mulai membuka aplikasi YouT ube dan melihat tutorial cara membuat bubur untuk orang sakit. Dari yang menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat Vio ikuti seperti apa yang ada divedeo. Untunglah semua bahan ada dan lengkap, jadi Vio gampang membuatnya.


Kurang lebih sekitar setengah jam-an ia selesai membuat bubur untuk suaminya itu. Sesaat ia mengusap dahinya yang mulai bercucuran oleh keringat. Semalam sebelum mengompres Mars, Vio menyempatkan mandi dan berganti baju terlebih dahulu, jadi tidak terlalu bau badannya.


Tok!


Tok!


Tok!


Vio meletakkan nampan yang berisi bubur ayam itu dimeja, kemudian segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapakah tamu yang datang pagi-pagi begini.


Ceklek...


"Selamat pagi nona" Ucap Rico dengan membungkukkan tubuhnya.


"Siapa?" Tanya Vio heran.


"Saya Rico. Asisten pribadi Tuan Mars" Jawab Rico.


Vio hanya mengangguk saja. Ia memang tidak tau jika laki-laki didepannya adalah sang asisten Mars, karena kemarin Vio tidak mengantar Mars sampai depan.


"Mars sedang sakit, masuk saja"

__ADS_1


Rico pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Vio.


"Namamu siapa tadi?" Tanya Vio kemudian saat sudah sampai diruang tamu. Ia tadi juga tidak terlalu mengingat nama sang sistem suaminya.


"Rico" Jawab Rico setelah duduk disofa.


"C nya pake K atau C? Bacanya Riko atau Rico?"


"Riko"


Vio mengangguk. Ia memang apa-apa harus jelas, takutnya salah sebut kan jadi malu hehe. "Oh iya, minum putih saja gak papa ya? Saya enggak bisa buat teh dan kopi"


"Tidak usah repot-repot nona. Setelah ini saya akan kekantor, tuan Mars tidak masuk kan berarti?"


"Ya kali sakit masuk kantor. Gak repot kok, sekalian saya suruh kamu coba bubur ayam yang baru saya buat" Titah Vio yang segera pergi meninggalkan Rico menuju dapur untuk mengambil sisa bubur tadi.


Sekitar kurang dari tiga menit, Vio sudah kembali keruang tamu dengan membawa nampan yang berbeda dengan isi yang sama, yaitu bubur ayam dan minum air putih. "Sekarang coba bubur yang saya buat" Perintah Vio pada sang asisten setelah meletakkan nampan dimeja.


Rico menatap makanan didepannya "Saya nona?"


Beberapa saat kemudian Rico masih bergeming menatap nampan berisi bubur dan air mineral.


Vio yang sedari tadi sudah berdiri dan menunggu agar Rico segera mencoba buburnya pun dibuat jengkel saat buburnya hanya ditatap saja. "Kenapa? Kamu meragukan saya?"


Dengan segera Rico menggeleng karena takut jika istri dari majikannya itu sakit hati dan marah. "Tidak nona. Baiklah, akan mencobanya"


Rico kemudian segera mengambilnya mangkok yang berisi bubur ayam itu. Tampilannya memang agak meragukan, karena blepotan, suiran ayamnya juga banyak dengan potongan lumayan gede-gede. Dengan penuh keterpaksaan, Rico menyendokkan satu sendok bubur itu kemulutnya.


Satu sendok saja sudah membuat seorang Rico tersenyum lebar dalam hatinya.


"Rasanya asinnnnn!!!!! Lebih asin dari ikan asin gepeng"


"Enak enggak?" Tanya Vio penasaran. Sepertinya enak karena yang ia lihat asisten pribadi itu tidak menunjukkan suatu ekspresi apapun. Hanya datar sembari menahan sesuatu didalam dirinya.

__ADS_1


Rico dengan wajah datarnya pun menganggukkan kepalanya "Sangat enak"


Vio yang mendengarnya pun tersenyum berbinar sembari menggenggam tangannya sendiri "Wahh, berarti bos mu bakalan suka kan dengan masakanku?"


Dengan penlan Rico mengangguk "Iya, Tuan Mars pasti sangat suka dengan masakan anda nona" Kemudian Rico segera meletakkan mangkoknya dinampan kembali, lalu meminum air putih itu hingga habis tak bersisa. "Kalau begitu saya pamit untuk kekantor"


"Eh, bubur ayam nya belum habis loh" Pinta Vio saat melihat buburnya masih utuh.


"Saya buru-buru takut telat"


"Kalau gitu saya bungkuskan, dibelakang masih ada"


Dengan segera Rico menggeleng "Tidak perlu. Saya pamit sekarang. Ucapkan semoga cepat sembuh pada tuan Mars dari saya"


Dengan terburu-buru, Rico pun segera berjalan keluar meninggalkan Vio seorang diri. Namun tidak lupa ia membungkukkan tubuhnya terlebih dahulu.


Vio yang sudah tau bahwa masaknya ternyata enak pun jadi lega hatinya. Sebelumnya mengapa ia tidak mau mencicipi masakannya sendiri ya karena takut jika nanti masakannya tidak enak, jadi biar orang lain saja yang Vio jadikan korban.


Vio pun lalu segera mengambil nampan berisi bubur yang tadi ia tinggalkan didapur untuk Mars.


*


*


"Makan buburnya" Ucap Vio setelah sampai dikamar Mars. Jujur ia masih ngambek pada suaminya.


Mars yang sebelumnya masih berbaring pun dengan sekuat tenaga ia paksakan untuk duduk.


Vio yang melihat itu segera meletakkan nampan nya dimeja samping tempat tidur dan segera menolong Mars terlebih dahulu untuk duduk.


"Makasih" Ucap Mars dengan lembut saat dirinya sudah berhasil duduk dengan punggungnya yang bersender dipunggung kasur.


"Sama-sama!"Jawab Vio dengan ketus. "Makan sekarang buburnya"

__ADS_1


"Suapin"


Ya ampun bayi berondong!


__ADS_2