
Vio kali ini sudah siap dengan pakaian nya yang seperti biasanya jika pergi. Yaitu dengan menggunakan jaket dan celana levis yang bagian lututnya robek.
Sore ini sesuai janjinya pada Arga dan teman-teman, dimarkas mereka akan berkumpul untuk merayakan hari ke 11 tahun bersahabat dengan acara bakar-bakar ayam seperti tahun kemarin.
Vio pergi menggunakan motornya yang tadi pagi baru saja sampai setelah diantar oleh orang suruhan Papanya.
Sekitar satu jam perjalanan, karena berbeda kota itulah yang membuat perjalanan nya jadi lama. Akhirnya Vio pun sampai disebuah rumah pondok kayu yang biasanya para sahabatnya itu berkumpul. Disana sudah ada Mia, Aruni, Widia, Tama, dan Bagas yang menunggu.
Mia, Aruni dan juga Widia terpekik kegirangan saat Vio datang. Dengan segera mereka pun mendekati Vio yang baru saja sampai.
"Vio, masih inget ta sama kita-kita?" Teriak Widia setelah lebih dari satu minggu tidak bertemu dengan Vio.
"Iya Vi, Lo enggak amnesia?" Timpal Aruni menanggapi ucapan Widia.
Vio melepas helm nya dan turun dari motornya yang besar itu. Kemudian mendekati ketiga sahabatnya "Ya enggak lah. Gue inget kali sama kalian"
"Syukur Alhamdulillah kalo gitu Vi. Btw Lo udah punya nomer cowok Korea kemarin kan?" Tanya Mia dengan menaik turunkan alisnya. Satu minggu ini Mia masih belum bisa melupakan artis koreanya itu, walaupun pertemuan singkat namun sangat berarti bagi otak nan hati Mia.
"Orang Korea?" Timpal Tama yang sedari tadi sedang mengulek bumbu untuk ayam bakar nanti.
"Diem Lo Tam, gue enggak ngajak Lo ngomong!" Ucap Mia saat mendengar Tama yang ikut-ikutan. "Ulek lagi bumbunya sampe halus!" Ketus Mia pada Tama. Mereka memang sedari SMA selalu bertengkar seperti tom and jerry.
Tama yang mendengarnya pun hanya mencabik kesal pada Mia. Ia pun lalu menguleknya dengan cepat yang dimana menimbulkan suara yang cukup keras pada ulekan dan cobet batu itu.
__ADS_1
Memang di persahabatannya Vio ini seperti dunia terbalik. Yang perempuan malah malas jika melakukan yang namanya memasak, sedangkan yang laki-laki diharuskan memasak ini dan itu. Seperti seorang babu jika ada laki-laki yang mau masuk ke circle ini.
"Gak punya! Lagian udah satu minggu masih inget aja" Vio kemudian pergi menuju Tama dan juga Bagas yang sedang mengolah bumbu-bumbu cinta eh... maksutnya bumbu untuk ayam bakarnya nanti.
Mia, Aruni dan Widia pun mengikuti langkah kaki Vio. Mereka seperti seorang pelayan yang terus mengikuti sang majikan kemanapun pergi.
"Lagi apa Gas?" Tanya Vio yang baru saja duduk dilantai kayu itu.
"Lagi tidur neng" Jawab Bagas yang saat ini sedang mengupas bawang merah, hal itupun menyebabkan hingga matanya mengeluarkan banyak air mata. "Udah tau lagi ngupas bawang, masih tanya!" Tukas Bagas kemudian. Sudah mata lagi perih malah ditanya seperti itu.
Vio hanya nyengir kuda saja mendengar jawaban Bagas.
"Ada angin apa Vi Lo tanya Bagas begitu? Biasanya Lo asik ngobrol sama Arga kalo ada acara begini. Walaupun tahun lalu Lo sama Arga belum jadian, tapi pasti kalian selalu ngobrol berdua dan gak mau bantuin kita-kita" Ucap Tama yang masih stay dengan mengulek bumbunya walaupun sudah halus, tapi tetap Tama ulek karena gabut.
"Bacot Lo Tama!" Timpal Mia kemudian. "Bumbu udah alus masih diulek, buta ya Lo!"
"Auu..." Mia memegangi matanya yang sangat perih karena lemparan bumbu. Matanya sangat perih karena bumbu itu mengandung beberapa cabe rawit didalamnya.
Vio, Aruni dan juga Widia pun segera menolong Mia yang keperihan karena Tama.
"Mia, Lo gak papa?" Tanya Aruni saat melihat Mia yang masih berusaha mengusap matanya yang perih. Bulir-bulir air mata itu perlahan keluar dari kantong kata Mia.
"Perih" Jawab Mia.
"Tam, gara-gara Lo. Bukannya nolong malah diem!" Ucap Vio kemudian yang sangat jengkel dengan Tama yang justru hanya menonton dan diem-diem baek.
__ADS_1
"Iya nih. Enggak gentle banget!" Sambung Widia.
Tama yang memang sudah merasa bersalah sebelumnya pun segera meletakkan ulekannya dan mendekati Mia. "Mia, are you okey?" Tanya Tama dengan nada rendah.
"Ga usah sok Inggris" Sambung Widia pada Tama yang sok-sokan menggunakan bahasa Inggris.
Vio dan Aruni pun menampol wajah Windia hingga membuat Widia meringis.
"Ngerusak suasana romantis !" Ucap Vio dan Aruni berbarengan.
Mia hanya menggeleng pelan sembari menangis "Perih lah! Pake nanya!"
Tama yang mendengarnya pun segera memegangi kepala Mia untuk melihat mata Mia yang saat ini sedang ditutupi mengunakan tangan "Gue rasa harus dicuci, biar gue anterin"
Mia pun hanya mengangguk pelan menuruti usul dari Tama.
Dengan segera Tama pun memapah pundak Mia menuju kamar mandi yang ada dibelakang untuk membasuh wajah Mia agar mengurangi rasa pedas diarea matanya.
"Wahh...kayaknya Tama sama Mia ehem..ehem..nih" Ucap Widia saat Tama dan Mia sudah pergi. "Aruni, Vio kalian setuju kan kalo Tama sama Mia?"
Vio dan Aruni berpandangan, lalu kemudian saling mengangguk tanda setuju.
"Gas karbol, Lo setuju enggak?" Tanya Widia kemudian saat melihat Bagas yang masih fokus mengupas kullit bawang.
"Hiks...hiks..iya setuju" Jawab Bagas dengan terisak karena bawang merah telah membuatnya semakin parah menangis.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian. Mereka ber empat yang masih didepan pondok pun seketika mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba datang seorang laki-laki dan hanya satu-satunya orang yang belum datang di circle ini. Ya, itu adalah Arga, laki-laki tampan dengan wajah dingin itu datang dengan menggunakan Hoodie berwarna hitam.
Ia melepas helm nya dengan perlahan karena dikepalanya itu masih dibalut oleh perban bekas kecelakaan kemarin.