Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 33: Amarah Mars (Part 1)


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Saat ini Mars telah pulang dari luar kota. Dia sengaja tidak memberitahu Vio sama sekali, karena rencana ingin membuat kejutan pada sang istri.


Selama satu bulan ini, Mars dan Vio tidak mengirim pesan ataupun bertelepon. Sinyal dikota sana sangat sulit untuk didapatkan. Hal itu menimbulkan rasa rindu pada istrinya selama 1 bulan ini.


Mars melihat buket bunga ditangannya yang akan ia berikan pada Vio nanti saat sampai dirumah.


Drrtttt!,


"Halo"


"Tuan Mars. Nona Vio saat ini sedang berada dirumah pondok bersama seorang laki-laki didalamnya"


"Hanya berdua?"


"Iya Tuan hanya berdua. Saya tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan, karena posisi saya jauh dari mereka, dan pintunya juga setengah dibuka"


"Kirim alamat nya!"


Mars segera mematikan panggilannya. Ia meremas ponselnya. Air matanya perlahan mulai luruh kebawah saat membayangkan apa yang istrinya lakukan didalam rumah kecil itu. Pikiran negatif kini terus menghantuinya.


"Rico, arahkan mobilnya ke alamat yang aku kirim"


Rico mengangguk "Baik Tuan"


Mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah pondok yang ada dikota sebelah.


Selama perjalanan, Mars hanya menatap jendela mobil sembari memikirkan sedang apa istrinya didalam rumah itu? Ia berharap agar itu semua hanya berita palsu saja, dan semoga saja istrinya tidak membuat dirinya kecewa.

__ADS_1


Sekitar menempuh perjalanan hampir 1 jam, mobil yang Mars tumpangi pun kini telah sampai disebuah desa yang dibilang sangat asri karena ada sebuah pegunungan tak jauh dari matanya. Tempat itu juga seperti tempat wisata bagi para keluarga yang ingin berlibur disini sangat di rekomendasikan.


Mars turun dari mobilnya, sebelum ia turun ia memberitahu Rico untuk pulang lebih dulu menggertakkan taxi online. Mars tidak ingin rumah masalah tangganya menyebar pada siapapun.


Rico pun menyetujuinya dan segera keluar dari mobil. Tidak lupa ia memberikan kunci mobilnya pada Tuan Mars. Lalu segera pergi setelah selesai memesan taxi.


Mars kini mulai berjalan mencari rumah pondok yang saat ini sedang ada istrinya itu. Karena memang ada beberapa rumah pondok lain yang jaraknya lumayan jauh-jauhan, jarak pondok satu dengan yang lainnya sekitar 100 Meteran.


Hatinya mulai berdetak cepat saat ia kini sudah mulai menemukan rumah pondok yang didalamnya ada istrinya itu. "Ya Allah, semoga semuanya hanya bohong, jangan buat aku kecewa ya Allah. Satu bulan disana aku habiskan malam ku dengan terus memohon padamu untuk membuka hati istriku...tolong jangan patahkan semua doa-doa ku hingga aku merasa menyesal nantinya"


Setiap satu langkah adalah satu tetes air mata yang Mars keluarkan. Hingga ia dapat melihat rumah pondok yang dimana pintunya setengah terbuka itu.


Dengan perlahan Mars kini semakin mendekati rumah pondoknya.


Sampai dititik dimana dia sudah ada didepan. Hatinya semakin berdetak cepat dari sebelumnya.


Deg..deg...deg...deg...deg...deg...deg...deg...deg...deg...


Kreeek!


Suara pintu itu saat terbuka lebar.


Dua insan yang sebelumnya ada didalam itu seketika terperanjat kaget menatap seseorang yang tiba-tiba membuka pintu.


"Lo siapa?" Tanya Arga bingung melihat tiba-tiba ada seseorang yang dengan lancang berdiri dirumah pondok miliknya dan juga sahabat yang lain.


Vio menatap orang tersebut dengan terkejut tanpa berkedip saat melihat siapa orangnya. "M-mars?" Panggil Vio dengan terbata.


"Apa yang kalian lakukan disini?!!" Teriak Mars dengan suara menggelegar diruangan yang hanya sepetak itu. Tangannya mengepal erat menahan amarah, kesedihan serta kecewa yang mendalam melihat apa yang mereka lakukan saat Mars baru membuka pintunya. Ia melihat mereka seperti sedang berci uman diatas kasur lantai, walaupun posisi laki-laki itu memunggunginya tapi Mars sangat yakin dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Arga pun seketika berdiri dari duduknya. "Siapa sih Lo?! Dateng-dateng langsung marah-marah! Salah rumah Lo!" Ucap Arga yang kini berjalan mendekat kearah Mars yang masih stay didepan pintu.


Sedangkan Vio hanya bisa mematung ditempat dengan tangisannya yang tidak bisa berhenti.


"Keluar Lo dari sini!" Bentak Arga dengan menunjuk kearah luar. Ia sangat tidak suka jika ada yang menggangu dirinya, terlebih orang yang tidak dikenalnya.


Mars menatap laki-laki didepannya dengan tatapan yang mengerikan. "Jadi kamu pacar Vio?" Tanya Mars dengan menekan kata-katanya sembari menatap Vio yang masih mematung ditempat.


"Bukan urusan Lo!"


Bugh!


Mars dengan cepat memukul wajah Arga hingga tersungkur kebelakang. Ia juga yang memang sejak tadi sudah ingin memukul laki-laki didepannya. Dia marah, dia kecewa, dia patah hati sekarang untuk yang kedua kalinya.


Dengan segera ia mendekati Vio yang masih duduk sembari menutup mulutnya karena shok dengan apa yang dilihatnya.


"M-ma-ars...ka..kam...mu..ma mau a apa?" Vio semakin memundurkan tubuhnya hingga mepet kepapan. Vio takut melihat wajah Mars yang sangat menyeramkan seperti seorang psikopat itu. "Hiks..hiks..hiks..."


Dengan kasar Mars segera menarik tangan Vio hingga Vio berdiri. Tanpa menunggu lama Mars segera menarik Vio keluar dari rumah pondok ini tanpa memperdulikan Vio yang sebelumnya belum begitu siap untuk berdiri seimbang.


Arga yang melihatnya segera berusaha bangkit, walaupun sudut yang sudah dipenuhi darah segar dan kepala yang kunang-kunang tapi ia pun berusaha untuk bangkit. "Lepasin Vio! Arghh..." Entahlah, kenapa Arga merasa laki-laki itu sangat kuat. Padahal hanya satu kali pukulan, tapi kenapa mampu membuat dirinya sampai selemah ini.


"Mars, sakit!" Ucap Vio yang berusaha menarik tangannya kembali. Tubuhnya juga tidak cukup seimbang dengan seretan Mars yang begitu kuat.


"Gue laporin Lo ke polisi sampe berani bawa pacar gue pergi!" Teriak Arga yang saat ini masih tengkurap karena tidak mampu berdiri.


Mars terhenti diambang pintu "Dia istriku! Seharusnya akulah yang akan melaporkan mu kepolisian karena telah merebut istriku!" Titah Mars yang tatapannya hanya lurus kedepan.


Degg!

__ADS_1


"Istri?" Tanya Arga yang seolah tak percaya dengan ucapan laki-laki itu. Ia pun kini berubah untuk bangun kembali, entah karena shok atau apapun, Arga sekarang sudah berdiri walaupun kepalanya rasanya ingin pingsan. "Vi..?"


Vio hanya bisa menangis tanpa melihat kebelakang. Ia tidak sanggup melihat ekspresi wajah Arga yang sangat kecewa padanya.


__ADS_2