Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 11: Tutup Mata!


__ADS_3

Vio yang tangannya sudah diudara dan akan memegang gagang pintu pun berhenti. Entahlah, dia yang tadinya sangat berani berbicara seperti tadi sekarang seolah hilang nyali untuk berbicara apapun. Tubuhnya membeku dan dengan susah payah Vio menelan air liurnya.


"Jangan berani pergi dimalam pertama pernikahan kita! Masuk kamar mandi dan bersihkan tubuhmu!" Perintah Mars yang kemudian segera berjalan menuju tempat kopernya yang sebelumnya ia letakkan disamping tempat tidur.


Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja Vio pun menurutinya. Mungkin saja Vio takut dengan ancaman dari suaminya yang akan menghancurkan Arga. Vio pun tidak jadi keluar dari kamar dan memilih berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Bodoh! Sial banget! Kenapa harus takut sama anceman bocah ingusan itu!" Runtuk Vio saat sudah memasuki kamar mandi dan sudah melepas seluruh pakaiannya. Ia baru menyadari hal tersebut setalah beberapa saat kepalanya diguyur dengan air dingin.


"Seharusnya aku enggak usah takut sama anceman omong kosong bocah ingusan itu" Ucap Vio kembali sembari tangannya mengusek-usek rambutnya yang sudah berbusa dengan sampo. Setelah selesai lalu Vio pun kembali menyalakan shower yang kemudian membasahi seluruh tubuhnya.


Selesai mandi. Kini Vio dibuat kebingungan. Seperti drama dan cerita di novel, Vio kini lupa membawa handuk dan ganti baju saking pikirannya hanya ke Arga saja. ia pun dibuat kliyengan dan pusing memikirkan cara untuk keluar dari kamar mandi tanpa bocah itu melihatnya.


"Bisa ucap Alhamdulillah tu bocah kalo aku keluar telanjang" Gumam Vio dengan berdecak pinggang sembari terus memikirkan caranya. Pertama Vio mungkin harus mengecek apakah bocah itu masih ada dikamarnya atau tidak.


Vio perlahan membuka pintu kamar mandi, namun hanya sedikit saja untuk mengintip apakah Mars sudah pergi atau belum.


Ceklek

__ADS_1


Suara pintu kamar mandi itu terdengar walaupun Vio sudah berusaha semaksimal mungkin dan sepelan mungkin agar tidak berisik. Namun tetap saja suaranya keras.


Mars menatap pintu kamar mandi yang hanya dibuka sedikit oleh istrinya. ia saat ini sedang termenung dan berbaring diatas ranjang milik Vio.


Vio segera kembali menutup pintu kamar mandi saat tiba-tiba matanya bertatapan dengan bocah itu. "Sial, seharusnya dia meminta izin padaku saat ingin tidur diranjangku!" Umpat Vio yang merasa sangat kesal dengan suami tidak diinginkan itu, dia telah berani menempati tempat tidurnya yang dimana setiap harinya Vio selalu berhayal suatu saat nanti laki-laki pertama yang menempati tempat tidurnya adalah Arga.


Sesaat kemudian Vio menatap tubuhnya sendiri. Dua buah gunungnya itu sudah teriak minta ditutupi karena dingin. Bulu kuduknya juga perlahan sudah mulai berdiri. Badannya juga sudah mulai menggigil kedinginan.


Dengan berat hati dan terpaksa akhirnya Vio pun berteriak dari dalam kamar mandi. "Bocah ingusan! Bisa keluar dulu enggak dari kamarku?!!" Teriak Vio dengan sekencang-kencangnya.


"Aku males Tan! Ngantuk!" Jawab Mars yang memang sedang malas bergerak kemanapun. Ia dengan keadaan yang berbaring, kemudian menutup matanya tanpa peduli mau sampai kapan Vio akan keluar.


Vio mendengus kesal dari dalam kamar mandi. Ia menendang sisa-sisa air yang berkubang dilantai itu. Tidak hilang akal, Vio pun akhirnya menjelaskannya "Bocah ingusan. Please, aku enggak bawa handuk, kamu keluar dulu lah..." Ucap Vio dengan memohon.


Mars hanya membuka matanya sebentar lalu kembali memejamkan ya kembali. "Tinggal keluar aja Tan kalo mau. Aku enggak akan tergoda"


Vio semakin kesal dengan jawaban dari bocah ingusan itu. Tentu saja dia tidak akan percaya kata-kata busuk yang terlontar dari Mars bahwa dia tidak akan bernafsu padanya. "Ish...kalau kamu tidak mau keluar, aku hanya ingin kamu menutup mata dan jangan mengintip!" Ucap Vio kemudian.

__ADS_1


Mars yang sudah sangat capek pun hanya mengiyakan saja. "Iya, aku enggak akan ngintip Tan" Mars kemudian bangun dari tidurnya dan memejamkan matanya agar Vio percaya bahwa dia tidak akan mengintip. "Bukalah, aku sudah menutup mataku"


Vio akhirnya pun membuka secara perlahan pintu kamar mandinya itu. Sebelum benar-benar keluar dengan tubuh yang telanjang, Vio menyembulkan wajahnya untuk mengecek keadaan apakah bocah ingusan itu benar-benar jujur. Setelah dipastikan iya bahwa Mars sudah menutup mata Vio pun keluar dari kamar mandi.


Ia keluar dengan hati-hati dan kalau bisa tanpa mengeluarkan suaranya. Ia berjalan menuju Mars dengan takut-takut jika bocah itu akan mengintip "Awas sampe ngintip bocah ingusan!" Ucap Vio dengan mengancam sebelum benar-benar akan sampai dan melewati Mars.


Mars hanya menutup matanya dan diam. Tidak berniat menjawab apapun yang Vio lontarkan padanya. Tentu ia tau saat Vio akan berjalan melewatinya, ia dapat menghirup aroma wangi yang sangat tajam di indra penciumannya.


Sebelum melewati Mars. Lebih dulu Vio berhenti. Ia melihat wajah bocah itu yang masih memejamkan matanya, memperhatikan apakah benar tidak mengintip. "Kamu tidak ngintip kan?" Tanya Vio yang masih tidak percaya. Ia bahkan menutupi kedua gunung kembarnya dengan tangannya karena takut.


Mars yang sudah benar-benar capek dengan pertanyaan itu pun segera menjawab "Aku buka sekarang jika Tante masih-"


"Aa...iya iya iya...jangan dibuka, ini mau ambil baju dilemari" Potong Vio yang benar-benar takut jika bocah itu membuka matanya.


Dengan terburu-buru Vio pun berlari, namun karena tidak hati-hati dan kakinya juga masih basah, Vio pun tidak sengaja terpeleset dilantai.


"Aakkkhhhhh!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2