Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 34: Amarah Mars (Part 2)


__ADS_3

Tidak ingin berlama-lama ditempat yang menurut Mars sangat menjijykan ia segera menarik Vio dengan kasar.


"Mars, ini sakit hiks..hiks..!" Titah Vio yang memang kadang kakinya terseret karena tarikan Mars yang brutal.


Mia, Aruni dan Widia yang baru saja datang dengan membawa beberapa ranting pohon itu seketika menjatuhkan rantingnya kebawah. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.


"Vio....?" Mia menatap kepergian Vio yang saat ini telah melewatinya. Mia tidak menyangka bahwa Vio telah menikah dengan laki-laki yang waktu itu bertemu direstoran.


Mia lalu beralih pada Arga sepupunya yang saat itu sedang terduduk sembari menangis terisak. Dengan cepat Mia mendekati Arga.


"Ga, bangun!" Mia berjongkok dan memegangi pundak sepupunya itu untuk bangkit.


Laki-laki itu menggeleng. Tangisannya semakin terisak dan terasa sesak didadanya. Arga memukul dadanya dengan keras saat nafasnya semakin sesak karena tidak terima dengan kenyataan yang terjadi. "Sakit Mi..." Ucap Arga pelan.


Mia yang melihatnya pun menjadi iba dan ikut menangis melihat sepupunya yang begitu runtuh itu. Ia kemudian memeluk Arga dan mengelus punggung nya guna menenangkan Arga "Gue tau, gue tau ini sakit banget, plise Ga... Tapi ini bukan akhir dari segalanya,"


Arga memang adalah seorang yang bisa dibilang tidak pernah menangis sekalipun dalam hidupnya, kecuali saat ia masih kecil. Tapi, kali ini ia benar-benar menangis dengan sangat sakit sekali. Perempuan yang ia cintai sedari dulu itu telah menjadi milik orang lain. Ia bertanya kepada hatinya, sejak kapan Vio menikah? Sejak kapan Vio menghianati nya? Sejak kapan perempuan munafik itu membohongi nya?


Arga mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan urat-urat dikepalanya sudah mulai keluar, ia lalu mendorong Mia dengan pelan untuk menyingkir.


"Ga, Lo mau kemana?" Tanya Mia panik saat Arga yang sudah bangun dan pergi.

__ADS_1


"Cabut!" Jawab Arga singkat. Tangisannya kini sudah reda. Dengan cepat ia segera menunggangi motor balapnya dan pergi meninggalkan rumah pondok itu.


Aruni melihat kepergian Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedikit ia tersenyum tipis pada kejadian ini.


*


"Mars, tolong pelan-pelan" Ucap Vio yang saat ini merasa takut karena Mars menyetir dengan kecepatan penuh dijalan raya yang banyak tikungan tajam


Mars tidak memperdulikan ucapan apapun yang dilontarkan oleh Vio. Hatinya sudah benar-benar sakit dengan apa yang dilihatnya tadi. "Diam atau saya akan jatuhkan mobil ini kejurang?!!"


Vio yang ada disamping Mars pun menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Saya? Panggilan seperti apa itu? "Mars, kenapa tiba-tiba kamu kaya gini sih! Aku enggak ngerti"


Mars mengerem mobilnya secara mendadak ditengah jalan yang sepi yang banyak pepohonan.


Brak!


Ia lalu memukul stir mobilnya dengan cukup keras hingga membuat Vio ketakutan setengah mati.


Mars lalu menatap Vio dengan tatapan seperti seorang iblis. Wajahnya memerah menahan amarah yang semakin memuncak "BICARA SEKALI LAGI DENGAN APA YANG KAMU KATAKAN BARUSAN!" Bentak Mars hingga air liurnya keluar karena begitu sangat emosi mendengar ucapan yang terlontar dari istrinya.


Vio memejamkan matanya takut saat Mars yang membentaknya dengan sangat menyeramkan. Demi apapun ini adalah yang pertama kalinya ia dibentak dan diperlakukan begitu kasar pada seseorang. Terlebih dia adalah laki-laki yang dia cintai saat ini.

__ADS_1


Dadanya bergemuruh naik turun dengan suara Isak tangis yang mulai mengisi mobil yang mereka tumpangi.


"Hiks...hiks..hiks.." Vio menangis dengan sesugukan karena takut dengan laki-laki disampingnya. Ia menggenggam seat belt yang melingkari tubuhnya.


"Coba bicara, apa aja yang udah kalian lakuin selama satu bulan ini tanpa ada saya?!" Tanya Mars dengan suara kerasnya kembali tanpa merasa kasihan pada Vio yang sedang menangis ketakutan.


Vio menggeleng "A-aku enggak lakui-"


"Bullsyit bang sat!" Arga yang benar-benar dipenuhi amarah pun berniat untuk mencekik leher Vio. Namun tertahan saat tiba-tiba Vio berteriak dengan histeris.


"Mamaaa!!!! Papaaa!!! Hiks.." Teriak Vio dengan histeris ketakutan saat tangan Mars yang sudah akan mengenai lehernya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Arrghhh...!!!!"


Brak!


Mars kembali memukul setir mobil itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan amarahnya. Kadang juga laki-laki berwajah Korea itu mengeluarkan air matanya tanpa disadari.


Mars lalu segera kembali menjalankan mobil dengan kecepatan yang sama seperti tadi.


Vio yang masih ketakutan, selama perjalanan hanya bisa menangis sembari menutupi seluruh wajahnya, ia bahkan tidak berani menatap wajah Mars yang sudah seperti psikopat baginya. "Mama, Papa tolong Vio..." Batin Vio.

__ADS_1


__ADS_2