
Sore itu juga Vio pergi kerumah sang Papa dengan menggunakan pakaian serba hitam, tidak lupa hijab yang melekat rapat diwajahnya. Ia bahkan tidak peduli dengan rasa sakit dibagian in tinya yang masih cenut-cenut. Vio melihat rumahnya yang sudah ramai orang didalamnya dan ada yang sedang membacakan surat yasin didepan almarhum Papanya.
Diambang pintu, Vio segera berlari untuk memeluk jasad sang Papa "Papa...kenapa tingalin Vio Pa hiks...kenapa Papa jahat sama Vio!" Isak tangis pilu wanita itu mampu membuat warga yang sedang membacakan surat yasin menatap penuh kasihan dan iba pada Vio.
Bibi Hanum sebagai adik kandung dari Haris itu seketika mendekati Vio dan memeluknya dari belakang untuk menenangkan keponakannya "Bibi tau kamu kuat sayang..." Bisik Bibi Hanum dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata sejak tadi.
Vio menangis terisak sembari terus memeluk tubuh sang Papa yang sudah terbaring dengan ditutupi kain "Aku sendiri Bi..." Ujar Vio dengan Isak tangisnya yang semakin tersedu-sedu. Bahkan matanya yang sebelumnya sudah bengkak kini semakin bengkak karena terus menangis sejak pagi.
"Ssuuttt, ngomong apa kamu sayang, ada Bibi disini, ada sepupu-sepupu kamu yang lainnya, banyak yang sayang Vio"
Vio menggeleng. Ia masih tidak percaya sang Papa akan pergi meninggalkan nya tanpa berkata apapun padanya. Terahir ia bertemu Papa satu minggu yang lalu, tapi disitu Papa hanya tersenyum bahagia dan hanya mengucapkan *semoga selalu bahagia*.
Disepanjang waktu Vio tidak pernah berpindah dari tempatnya. Ia tetap stay berada disamping sang almarhum Papa hingga tempat untuk pemandian Papa siap.
__ADS_1
"Vio, makan dulu sayang" Ucap Bibi Hanum yang sedari tadi melihat keponakannya itu hanya duduk disitu saja tanpa minum ataupun makan.
Vio tidak menjawabnya. Tatapannya hanya kosong dengan pandangan yang terus memandang jasad sang Papa.
Bibi Hanum menghela nafasnya. Ia kemudian ikut duduk dan menemani sang keponakan.
Selang beberapa menit kemudian, orang-orang yang akan memandikan Papa pun datang. Vio barulah berpindah dari tempatnya. Ia kembali menangis saat melihat Papa yang sudah diangkat menuju tempat pemandian.
Bibi Hanum kembali memeluk sang keponakan "Bibi yakin Vio kuat"
*
Vio kembali menangis saat semua orang sudah pulang. Hanya tinggal dirinya saja yang saat ini ada didepan makam sang Papa.
__ADS_1
Ia mengelus papan putih yang berdiri dikepala makam dengan bertuliskan nama Papa, tanggal lahir, tanggal wafat dan juga nama kakeknya.
"Papa kenapa ninggalin Vio..." Ujar Vio dengan mengelus pelan papan putih itu. Ia lalu melihat makam Mamanya yang berada tepat disamping sang Papa. Ya, Papa sudah menyiapkan tanah pemakaman disamping sang Mama agar sewaktu-waktu saat ia pergi dia kembali disamping Mama.
"Vio sendiri Pa..." Sungguh suara yang terdengar pilu dan sangat menyedihkan. Siapa saja yang mendengarnya pasti akan merinding dengan suara gemetar disertai tangisan dari Vio. "Dia enggak dateng untuk tenangin Vio Pa...Hiks..hiks...hiks.." Yang Vio maksud dia adalah Mars yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Tadi Vio sudah berusaha menghubungi Mars, namun sepertinya nomornya diblokir olehnya, bahkan Vio juga beberapa kali mengirim pesan dan memberitahukan bahwa Papanya meninggal, namun pesan itu hanya menunjukkan centang satu saja. Dengan mertuanya juga sama, Vio sudah beberapa kali menelepon dan mengirim pesan namun tidak aktif sama sekali, bahkan terakhir aktif sudah hampir satu bulan.
"Dia ceraikan Vio Pa...gimana Vio beritahu sama dia kalau Vio enggak vir gin karena kejadian sepeda itu? Harusnya Papa jangan pergi, harusnya Papa bantu Vio disini hiks..hiks..."
*
Vio mengusap pipinya. Ia sudah sangat lelah hari ini terus menangisi semua nasibnya. Hari juga sudah mulai petang dengan menunjukkan matahari yang sudah tak terlihat karena tenggelam.
__ADS_1
Vio berdiri. Ia akan pulang dan menangkan dirinya dirumah peninggalan Papa. Sekarang ia tidak tau harus bagaimana. Sandarannya sudah tidak punya lagi, dua laki-laki yang Vio cintai sudah pergi meninggalkan nya begitu saja. Vio tidak punya siapa-siapa lagi.