
Vio pun kemudian seiring berjalannya waktu, dia terlelap juga dari tidurnya. Vio benar-benar tidak mengerti, padahal tadi sudah tidur selama lima jam, tapi sekarang dia mengantuk dan kembali tertidur lagi.
...*...
Laki-laki dengan rambut yang rambutnya yang hampir seleher itu termenung diruangan kerjanya. Dia kali ini tengah berfikir tentang perasaannya saat ini yang menggalau. Ya, itu adalah Mars.
Mars merasa sekarang telah menjadi laki-laki plin-plan dan terlalu jahat. Kepalanya menjadi pusing memikirkan ini dan ini setiap harinya. Harusnya dia percaya dengan semua penjelasan dari Vio, lalu damai, pasti hidupnya akan bahagia sekarang. Apalagi saat Mars yang masih mengingat ucapan Vio sewaktu dikamar mandi, apakah benar bahwa Vio mencintainya?
"Apa aku harus berdamai? Mungkin saja dengan ini Vio benar-benar berubah." Namun Mars kemudian menggelengkan lagi kepalanya. Belum, cari bukti dulu yang menunjukkan bahwa Vio berbohong atau enggak. Jika semua tuduhannya salah, maka Mars akan kembali memperjuangkan lagi agar Vio tetap mencintainya. Namun, jika semua itu ternyata benar sesuai tuduhannya, maka Mars juga tetap akan berjanji untuk mempertahankannya dan hidup bahagia bersama walaupun awalnya sakit. Yang terpenting sekarang adalah bukti yang jelas. Mars lebih memilih cinta sekarang dibandingkan dengan egonya.
Mars baru menyadari, ternyata setelah bertemu lagi dengan Vio, dan melihat wajah polos Vio saat tertidur pikirannya jadi bisa jernih dan kembali mempunyai hati. Perlu kalian tau, bahwa selama Vio tidak ada Mars benar-benar seperti menjadi mayat hidup. Setiap harinya Mars hanya bekerja dan bekerja tanpa memikirkan yang lainnya. Ia pikir dengan itu akan cepat membuat nya move-on, tapi nyatanya salah, semua itu tetap sama bahkan semakin besar rasa cintanya saat melihat Vio lagi dipengadilan agama.
Ya, perasaan Mars saat dipengadilan agama sebenarnya adalah rindu dan ingin memeluk tubuh Vio. Dia juga tidak mengerti kenapa bukannya benci malah rindu.
Mars jadi penasaran, sekarang sedang apa Vio dikamar. Ia pun menghidupkan komputernya dan melihat CCTV yang sengaja Mars pasang disetiap sudut ruangan untuk berjaga-jaga. Layar komputer itu kini telah berubah menjadi CCTV yang menunjukkan gambar ruangan kamarnya, dan juga Vio yang sedang tertidur ditepi ranjang dengan sangat nyenyak.
"Huamm...!" Mars menguap. Ia juga sekarang jadi mengantuk melihat Vio yang sudah tidur. Beberapa detik kemudian Mars pun mematikan komputernya dan berdiri meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar untuk ikut bergabung dalam mimpi Vio.
__ADS_1
*
Vio menggeliat saat merasakan ada sebuah sesuatu yang lumayan berat itu telah menimpa perutnya.
Vio sedikit terkejut melihat ada sebuah tangan yang melingkari pinggangnya.
Hembusan nafas hangat juga telah menerpa leher jenjang miliknya. Vio diam tak berani bergerak. Namun satu keajaiban yang membuatnya semakin bingung, saat dimana Vio tidak merasakan mual-mual dipagi hari lagi.
"Vio...kenapa kamu ngingkarin janji kita?"
"Hah?! Sud-" Vio yang sebelumnya ingin marah-marah pun mengurungkan niatnya saat mendengar dengkuran halus lagi. Mini Vio yakin bahwa Mars sedang bermimpi dan mengigau.
"Kalo cinta kenapa kamu enggak percaya?" Sambung Vio yang seolah-olah menanggapi ucapan Mars.
"Bahkan kamu berci uman didepan mataku" Igau Mars kembali. Tidak terasa ternyata igauan itu mengeluarkan cairan diujung mata Mars.
"Ciu man?" Tanya Vio bingung. Sejak kapan dia ciu man? Bukankah dia hanya melakukan itu terakhir dengan Mars sebelum pergi ke kota lain? Sebenarnya Mars ini awalnya bisa semarah ini apasih?! Pikirannya kini jadi semakin jauh mengingat masa lalu. Ya, Vio yakin Mars marah awalnya bukan karena dirinya tidak pera wan, melainkan suatu kejadian yang salah paham dan berakhir semakin salah paham.
__ADS_1
Vio kini mengingat-ingat kejadian saat dimana Mars dengan tiba-tiba saja marah dan mengamuk saat memasuki rumah pondok. Dimana itu membuatnya menjad ketakutan setengah mati. "Apa dia fikir aku lagi ngelakuin itu sama Arga?" Batin Vio.
Pantas saja Mars jadi menuduhnya yang tidak-tidak setelah itu. Padahal demi apapun didalam pondok itu Vio tidak melakukan apapun yang menunjukkan zina. Dia hanya sedang mencoba membantu untuk mengobati luka ditangan Arga yang baru saja terkena tanaman berduri.
*Flashback on
"Eugh...Sshhh" Arga berhenti berjalan saat tiba-tiba tangannya terkena tanaman berduri yang merambat diatas pohon kecil. Ia awalnya tidak tau bahwa ada tanaman berduri itu hingga membuat tangannya terluka dan ada beberapa duri yang menancap disitu.
Semua yang ada dibelakang Arga pun seketika berlari panik mendekati Arga.
"Arga Lo kenapa?" Tanya Mia khawatir. Ia menutup matanya saat melihat duri-duri yang menancap dipergelangan tangan milik Arga.
"Gue ketusuk duri" Jawab Arga sembari menatap Vio yang berdiri tak jauh darinya.
Arga dan Vio sebenarnya sudah putus tiga Minggu yang lalu. Dan yang memutuskan hubungan ini duluan adalah Vio. Arga benar-benar tidak tau alasan jelas mengapa Vio memutuskannya. Hanya saja Vio bilang bahwa dirinya ingin sendiri dulu, dan Papa nya melarang untuk berpacaran.
Tentu awalnya Arga menolak untuk diputuskan. Hubungan yang terjalin hampir satu tahun itu sulit untuk Arga bubarkan. Terlebih Arga mencintai Vio lebih dari Liam tahun lamanya.
__ADS_1
"Vio, gue minta tolong obatin" Ucap Arga menatap dalam wajah Vio.
Vio menatap yang lainnya. Dimana saat semuanya menatap dirinya tanpa berkedip. Ia sungguh keberatan dengan permintaan tolong dari Arga. Setiap kali dirinya berdekatan dengan Arga, pasti Vio selalu mengingat wajah Mars terus.