
Sekitar 1 jam perjalanan menuju kota sebelah akhirnya mobil yang ditumpangi sepasang suami istri itu telah sampai disuatu pekarangan rumah yang sudah termasuk mewah, karena ini gang semuanya golongan kelas atas.
Namun, Vio tidak terpana sama sekali dengan rumah dua lantai itu. Pikirannya saat ini sedang melayang pada Arga, ia masih saja khawatir. Semalam Vio sudah menanyakan kabar Arga, dan Arga menjawab bahwa kepalanya sampai harus diperban karena terkena benturan aspal yang cukup keras.
Mobil itupun berhenti didepan gerbang yang masih tertutup rapat.
"Tan, buka gerbangnya" Ucap Mars sembari melirik Vio.
"Ogah, nyuruh-nyuruh orang, buka sendiri lah" Jawab Vio dengan malas, ia pun kemudian lebih memilih untuk membuka ponselnya.
Namun belum sempat Vio buka sudah diambil lebih dulu oleh Mars.
"Nurut kata suami, inget pesan Papa kan? Kamu mau dosa" Mars lalu mengantongi ponsel milik Vio didalam celana hitamnya.
Vio mendengus kesal saat ponsel miliknya diambil "Kan kalo ada Papa, lagian aku lebih tua dari kamu, justru yang dosa kamu karena suruh orang yang lebih tua"
Mars menunjukkan mata tajamnya pada Vio, seolah ingin memakan Vio hidup-hidup.
__ADS_1
Dengan penuh kekesalan akhirnya Vio pun terpaksa turun dari mobil untuk membuka gerbangnya. Akhirnya dia kalah lagi dengan pria yang usianya jauh dibawahnya itu.
"Tan, kuncinya" Ucap Mars saat Vio sudah berada didepan gerbang.
Vio pun semakin dibuat kesal karena harus bolak-balik mengambil kunci "Ngeselin banget! Kenapa enggak bilang dari tadi!" Dengan menahan kesal Vio pun mengambil kunci gerbangnya secara kasar, lalu segera membuka gerbang tersebut.
Setelah dibuka, barulah Mars kembali menjalankan mobilnya untuk memasuki halaman rumahnya. Mars langsung saja meletakkan mobilnya digarasi mobil.
Sementara Vio, ia lebih memilih untuk menunggu didepan pintu utama.
Beberapa saat kemudian Mars muncul dengan membawa dua koper besar. Yang satu miliknya dan yang satu lagi milik Vio.
Mars pun segera mengeluarkan kunci rumahnya dan perlahan membuka pintu rumah.
Cetek!
Suara kunci itu saat diputar.
__ADS_1
Lalu kemudian segera memutar gagang pintunya.
"Kita pisah kamar kan?" Tanya Vio setelah memasuki rumah berlantai dua yang akan ia tempati. Rumahnya sudah bersih dan rapi, sepertinya sebelum dirinya dan Mars akan menempati, rumah ini lebih dulu dibersihkan.
"Ya terserah. Kalo aku maunya si satu kamar" Ucap Mars sembari menyembunyikan ekspresi wajah nakalnya. Jika sekamar tentu saja Mars akan mengucap Alhamdulillah karena artinya setiap malam ia bisa meminum nutrisi dan zat besi untuk menyenyakkan tidurnya.
"Ih ... Ya gak mau lah. Kita tetap tidur terpisah!" Ujar Vio dengan tegas. bisa berabe dia jika tidur sekamar lagi dengan bocah mesum. "Aku bisa milih kamar sendiri kan yang aku suka?"
"Iya, terserah Tante mau tidur dimana"
Dengan wajah bahagia Vio pun segera menaiki tangga menuju lantai dua. Sejak masuk kehalaman rumah ini pandangannya terus tertuju pada balkon yang ada didepan, dan Vio tertarik untuk menempati kamar itu.
Setelah sampai didepan pintu kamar yang ia sukai, dengan perlahan Vio pun membukanya. Ia tersenyum saat kamarnya begitu luas dengan nuansa hitam putih yang menambah ke-eleganan kamar ini. Ahh... sepertinya Vio akan terus berada dikamar jika seperti ini.
Baru saja Vio satu langkah memasuki kamar, tiba-tiba adalah seseorang juga yang memasuki kamarnya dengan wajah dingin. Siapa lagi kalau bukan Mars, orang yang kadang marah, dingin, datar dan tidak jelas.
"Kenapa kamu memasuki kamarku?"
__ADS_1
Mars meletakkan kopernya disamping kasur, kemudian berbalik menghadap Vio "Tante telah memasuki kamar yang tepat. Karena ini adalah kamarku, lihatlah disana ada foto waktu aku kecil" Mars menunjuk tangannya pada foto yang ada dimeja belajar. Waktu dulu sebenarnya ia pernah tinggal di Indonesia saat usianya 12 tahun, tapi hanya 1 tahun saja ia tinggal, dan ini adalah rumah yang ia tempati dulu.
"Kalau begitu aku cari yang lain" Walaupun kesal karena kamar impiannya tidak jadi ditempati karena ternyata ini kamar milik Mars, Vio pun lebih memilih untuk berganti kekamar yang lain daripada satu kamar dengan bocah dewasa itu.