Dijodohkan Dengan Tante-Tante

Dijodohkan Dengan Tante-Tante
Episode 44: Tertidur


__ADS_3

"Aku pikir kamu laki-laki baik! Aku pikir kamu laki-laki bertanggungjawab yang akan selalu percaya sama perkataan aku! Huh... ternyata kamu tidak lebih dari seorang laki-laki brengsek kaya yang lainnya" Vio terlebih dahulu mengontrol emosi serta nafasnya yang sudah tidak beraturan dan terasa sesak.


Ia kemudian menatap laki-laki muda disampingnya. Sesaat kemudian Vio tertawa melihat suaminya "Hahaha....hiks...aku pikir kamu laki-laki yang...yang sudah dewasa yang mengerti tentang apakah aku sedang berbohong atau enggak. Oh iya aku lupa kalau kamu itu kan bocah ingusan...hahaha...iya aku dinikahi sama bocah ingusan hahaha..." Vio tertawa sembari menangis mengucapkan itu.


"Tapi, fiks...kamu tidak lebih dari seorang psikopat yang sedang menyamar menjadi manusia. Iya aku tau aku istri bodoh, aku enggak tau karakter kamu, aku enggak tau semua tentang kamu, yang kamu tau aku itu cuman cuman mencintai Arga doang kan?. Kalo kamu anggep anak ini anak Arga oke aku terima, tapi perceraian akan tetap dilakukan dan jangan pernah halangi aku buat bunuh anak ini!" Sarkas Vio yang tak main-main. Cukup sudah sampai disini saja. Selanjutnya dia akan meminta pada sang kuasa untuk menghapus kembali rasa cintanya pada Mars. Kalau bisa hapus juga hatinnya agar tidak menyukai serta mencintai siapapun lagi.


Mars hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia juga tidak tau kenapa begitu sulit untuk percaya bahwa itu adalah anak kandungnya. "A-aku..." Entahlah, rasanya seperti tercekat ditenggorokan suaranya hingga ia seperti orang yang bisu.


"Pergi Mars! Aku mohon pergi dari sini!!!" Tangis Vio sembari menunjuk pintu keluar. Dia tidak bisa melihat wajah Mars secara lama karena itu akan menambah lukanya.


Mars kemudian berjalan mendekati Vio kembali dan sedetiknya ia memeluk sang istri untuk menenangkan istrinya. Mars mengusap lembut kepala Vio dengan memejamkan matanya.


Sementara Vio, dia berusaha untuk memberontak dengan mendorong tubuh Mars agar menjauh. Ia benci, dia sangat benci pada Mars. "Lepas! Hiks...Aku mencintai kamu tapi kamu menyakiti aku hiks...!" Tangis Vio dengan sangat amat menyedihkan. Dia kemudian berhenti memberontak saat Mers semakin mengelus lembut kepalanya. Entah kenapa Vio tenang dengan elusan yang Mars berikan.

__ADS_1


Dia sangat mengantuk sekarang, padahal sebelumnya Vio sangat sulit sekali untuk tidur. Vio tidur hanya dua atau tiga jam saja setiap harinya.


Beberapa saat Vio pun mulai memejamkan matanya dan tertidur dipelukan Mars dengan sesekali mengeluarkan isak tangis yang masih ada.


Mars melepas pelukannya saat merasakan nafas Vio yang mulai beraturan sedang tertidur, namun tidak melepaskan kepala Vio yang sedang tidur dida danya.


Mars kemudian merongoh kantongnya untuk menelepon Rico. "Rico, tolong carikan Art sebanyak lima orang dan bodyguard yang berkualitas sebanyak tiga puluh orang sekarang. Aku tunggu selama 1 jam kedepan" Tanpa menunggu jawaban dari Rico, Mars segera mematikan sambungan teleponnya.


*


*


Namun sedetik kemudian Rico menghentikan tawanya karena takut kena karma. Dia pun segera berdiri dan menjalankan tugasnya yang diberikan oleh Mars.

__ADS_1


*


*


Mars pun kemudian mengangkat tubuh Vio dengan sangat berhati-hati agar Vio tidak terbangun. Ia sebelumnya sudah izin pada dokter agar Vio bisa dibawa pulang setelah menyelesaikan administrasi, dan dokter pun mengizinkan karena setelah diperiksa tidak ada kondisi yang cukup serius. Hanya saja butuh penambahan vitamin agar ibu serta bayi yang ada dalam kandungan sehat dan berkembang dengan baik didalam janin.


Kali ini Mars akan membawa Vio ke apartemen nya yang jaraknya tak jauh dari kantor. Salah satu apartemen mewah yang berada paling atas dengan harga fantastis tentunya. Biasanya sering disebut sebagai penthouse.


Sekitar satu jam perjalanan Mars kini telah sampai digedung Apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Mars pun kembali menggendong tubuh istrinya dengan pelan seraya berjalan memasuki gedung apartemen itu. Semua orang yang berpapasan dengan Mars pun menatap heran saat tiba Tuan muda memiliki perusahaan perabotan yang semakin berkembang pesan tengah menggendong seorang perempuan.


Namun Mars sama sekali tidak peduli. Sesampainya di lift, ia pun meminta tolong pada seseorang untuk memencet kan tombol lantai paling atas di apartemen ini. "Permisi nona, apakah boleh tolong pencetkan tombol angka paling atas? saya kesulitan karena sedang menggendongnya"


Perempuan cantik dengan pakaian kantor itupun segera mengangguk "Boleh Tuan, saya akan memencetnya" Dengan segera perempuan itu memencet tombolnya.

__ADS_1


Tidak lupa setelahnya Mars mengucapkan terimakasih pada perempuan itu.


Sesampainya di apartemen miliknya, Mars pun segera membuka pintunya menggunakan sidik jari. Pintu pun terbuka, dengan segera Mars berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, karena apartemen mewah ini hanya ada satu kamar saja. Mars memang sengaja membeli penthouse yang hanya memiliki satu kamar saja dan satu ruang kerja, ia lebih suka jika apartemen itu tidak memiliki banyak ruang namun pemandangan yang indah dan lega.


__ADS_2