
Di mansion Scherzinger tampak dua orang paruh baya menatap berkas laporan yang mereka terima.
Tuan Xander hanya bisa melempar berkas yang diberikan orang suruhannya itu.
"Suruh datang kemari anak sialan itu." Ucap tuan Xander.
Liana hanya bisa mengangguk untuk menuruti suaminya. Liana mengirim pesan pada putranya Nicole untuk pulang kerumah.
"Daddy mu menyuruhmu pulang, ada yang ingin dibicarakan."
Nicole yang membaca pesan Mommy-nya hanya bisa menghela napas, cepat atau lambat pasti apa yang dia lakukan akan sampai di telinga kedua orangtuanya.
Sedangkan Carolline tampak termenung di dalam kamar, wanita itu hanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
Celia yang menatap putrinya dari ambang pintu begitu prihatin, pasti Carolline merasa hancur.
"Carol." Celia masuk membuat Carolline menoleh dengan senyum yang di paksakan.
Wanita itu berjalan mendekati Mamanya dan duduk di atas ranjang.
"Papamu sudah membawa masalah ini kejalur hukum, mungkin sebentar lagi akan ada berita yang menghebohkan jagad raya, mengingat Nicole orang berpengaruh di negara ini." Ucap Celia memberikan kemungkinan apa yang akan terjadi.
"Mam, bolehkan aku pergi." Tanya Carolline, lebih tepatnya meminta ijin.
__ADS_1
Kedua mata Celia sudah berkaca-kaca, diusapnya wajah putrinya yang terlihat putus asa.
"Mama ijinkan jika kamu pergi untuk menenangkan diri. Biarkan semua papamu yang akan mengurus." Tutur Celia yang tidak tega melihat Carolline begitu menyedihkan.
Carolline menggangguk dengan senyum. Kehidupan yang dia jalani begitu berat, membuatnya merasa sangat tertekan. Bayangan kejadian yang menyakitkan selalu hadir, Carolline perlu ketengan agar tetap waras.
Keinginan Carolline untuk pergi mendapat ijin dari Dario papanya, dia juga tidak tega melihat putrinya terpuruk semakin dalam.
"Jika sampai sana kabari papa dan mama, salam juga untuk nenek mu." Ucap Dario saat mengantarkan Carolline ke bandara.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengaguk, "Papa dan Mama baik-baik, aku akan jaga diri baik-baik."
Mereka berpisah setelah pesawat yang akan Carolline tumpangi hendak berangkat, dan kini kedua orang tua Carolline akan menunggu kabar dari kuasa hukum yang di tunjuk Dario untuk kasus putrinya.
"Apa yang kau pikirkan, hingga bisa berbuat sekeji itu." Ucap tuan Xander dingin.
Tidak habis pikir dengan putranya, banyak wanita yang melemparkan tubuhnya untuk Nicole, tapi pria itu malah membeli wanita yang sudah beristri.
"Siapa wanita itu Nicole, kenapa kau sampai berbuat nekat seperti itu?" tanya Liana menatap putranya dengan tatapan ingin tahu.
"Wanita yang sudah membuat kepalaku bocor." Ucap Nicole santai dan dengan ekspresi datarnya.
Tuan Xander memicingkan matanya, sedangkan Liana membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
"Jadi dia sekretaris yang pernah mencelakai mu?" Tanya Liana dengan wajah terkejut.
Nicole hanya mengangguk. "Dia wanita yang aku inginkan."
Tuan Xander sampai membuang napas kasar mendengar ucapan Nicole yang terkesan memiliki obsesi.
"Kau terlalu terobsesi dengan wanita itu." Ucap tuan Xander.
Nicole menatap Daddy-nya dengan kening berkerut.
"Apa semua yang aku lakukan hanya semata-mata karena obsesi? aku rasa Daddy tahu mana cinta dan obsesi." Tukas Nicole.
Tuan Xander hanya terkekeh kecil, sedangkan Liana tampak masih tidak percaya.
"Daddy rasa orang tua gadis itu tidak akan diam, pasti dia sudah membawa kasus ini ke pihak berwajib, dan kamu siap-siap untuk kasus yang akan menjerat mu dalam hukum." Ucap tuan Xander pada Nicole yang terlihat santai.
Siapa yang akan diam saja melihat putrinya tersakiti dan paling di rugikan, binatang pun tidak akan diam saja melihat anaknya di perlakukan tidak adil. Apalagi wanita itu pihak yang paling dirugikan.
"Aku akan bertanggung jawab, anggap saja ini bukti cintaku, bukan obsesi semata."Tegas Nicole tanpa rasa ragu. "Aku tidak akan mengelak dari hukum."
Tuan Xander hanya bisa menganggu, sedangkan Liana hanya bisa memberikan dukungan pada putranya.
Sedangkan di tempat lain, Demas sedang berada di pusat belanja terkenal di kota, pria itu menemani kakak perempuan yang minta ini dan itu, mengetahui adiknya memiliki uang banyak Jane tidaklah berhenti merayu Demas untuk membelikan apa yang dia mau.
__ADS_1
Sedangkan Demas yang sedang banyak pikiran dan ingin melupakan masalah yang dia hadapi, Demas menuruti permintaan kakaknya itu, tanpa tahu jika sebentar lagi hidupnya mungkin saja akan berubah.