Dijual Suamiku

Dijual Suamiku
Uang dibawa kabur


__ADS_3

Hari dan bulan sudah dilewati, Carolline tinggal bersama sang nenek dan mencari pekerjaan di sana, kini statusnya sudah menjadi janda, dan tidak masalah.


Bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar membuat Carolline cukup sibuk. Wanita itu bekerja kembali sebagai sekertaris dari seorang pria yang sudah berumur 40 tahun.


Konon pria itu hanya mendapat jabatan yang penting itu, beliau hanya bekerja dan diberi kepercayaan dari pemilik perusahaan.


Carolline baru empat bulan bekerja setelah dirinya memutuskan untuk membuka lebaran dan kehidupan baru, bukan berarti wanita itu akan menerima orang baru untuk masuk. Meksipun tidak di pungkiri jika Carolline banyak menarik perhatian beberapa pria di kantor itu.


"Carol, ada jadwal apa lagi setelah ini." Tanya pria berusia 40 tahun yang sudah menjabat direktur diperusahaaan itu.


"Tidak ada sir, hanya saja besok ada meeting pagi dengan klien dari xxx." Terang Carolline.


"Hm, baiklah. Kalau begitu antar berkas penting yang harus saya tanda tangani, karena saya ada janji dengan istri saya." Ucap atasannya itu.


Carolline tersenyum. "Baik Sir."


Meksipun baru beberapa bulan, tapi cara kerja Carolline tidak di ragukan lagi, wanita itu cekatan dan juga memiliki otak yang cerdas, sehingga Carolline terkadang menghendaki rapat ataupun meeting lainya.


Di meja kerjanya Carolline menatap jam di tangannya, sebentar lagi waktu pulang. Dan Carolline akan menjemput kedua ornag tuanya di bandara.


Mereka mengunjungi putri sekaligus nenek Carolline, tak lain ibu dari sang ayah. karena rindu dan Carolline tidak pulang, maka mereka yang datang.


Jika kehidupan Carolline begitu baik, lain dengan Demas yang mendekam di penjara.


Pria itu seperti bukan lagi Demas. Wajah kusut dan tirus, tubuhnya yang semakin kurus dengan rambut yang panjang. Membuat Demas benar-benar berubah drastis. Baru enam bulan, tapi Demas sudah seperti tahanan bertahun-tahun.

__ADS_1


"Apa kalian tidak bisa membebaskan ku?" Tanya Demas dengan wajah memelas.


Betrik melirik suaminya tapi pria itu hanya bisa menghela napas.


"Nanti setelah hukuman mu berjalan satu tahun lebih, agar jaminannya tidak terlalu besar." Ucap Malik sambil menatap Demas.


Demas mendesahh kesal. "Apa menunggu aku mati, baru kalian akan mengeluarkan ku." Ucap Demas marah.


"Demas jaga ucapanmu!" Betrik membentak putranya.


"Uang di rekeningku masih ada, kalian gunakan saja uang itu untuk mengeluarkan ku dari sini." Demas menatap keduanya. "Aku rasa cukup untuk menebus ku." Lanjutnya lagi.


Betrik hanya menarik napas dalam, dirinya merasa kasihan dan juga ingin marah pada anaknya ini.


"Kamu memberikan kartumu pada Jane?" Tanya Betrik lebih dulu.


Betrik saling tatap dengan suaminya. Wanita itu tidak tega untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa Mah?" tanya Demas yang melihat wajah Betrik berbeda.


"Jane sudah dua bulan tidak pulang, tidak ada kabar apapun. Kami sudah mencari kemungkinan dia pergi tapi tidak juga menemukanya." Tutur Malik dengan pelan.


Demas membulatkan kedua matanya, tangannya mengepal dengan perasaan marah.


"Jadi kak Jane membawa kabur uang ku!" Kata Demas dengan nada tak santai.

__ADS_1


Kompak Malik dan Betrik menggangguk. "Kurang ajar kak Jene!" Maki Demas dengan dada yang sesak.


"Kami akan berusaha Demas, tapi kamu harus bersabar dulu." Ucap Betrik mencoba menenangkan putranya.


"Paling tidak satu tahun lagi, kami bisa membebaskan mu." Tambah Malik.


Demas tidak menjawab, dirinya cukup marah dan kecewa dengan kakak nya. Bisa-bisanya membawa kabur uang nya tanpa kabar. Andai saja Demas bisa pasti Jane sudah dia hajar.


Kenapa hidupnya seperti ini, uang yang dia miliki di bawa kabur kakak nya sendiri, dan sekarang harus kembali mendekam di dalam penjara lagi. Padahal Demas sudah membayangkan jika dirinya akan bebas dengan uangnya tapi semua itu hanya bayangan semata.


"Nicole Mommy bawakan ini untukmu." Liana memberikan paper bag pada Nicole. Keduanya duduk didepan ruang tahanan Nicole.


"Terima kasih Mom." Ucapnya dengan tulus.


Liana hanya tersenyum. "Kamu baik-baik saja." Tanyanya yang melihat putranya begitu santai, bahkan tubuh Nicole kini semakin terlihat bugar, itu karena Nicole menggunakan waktu luangnya untuk berolah raga meskipun hanya dengan samsak.


"Baik Mom, kenapa?" Nicole menatap wanita yang melahirkannya.


"Tidak apa-apa, Mom hanya bertanya." Jawab Liana sambil tersenyum.


"Mom dengar Carolline ada di New York?" Ucap Liana sambil memperhatikan reaksi putranya.


"Ya, bahkan dia sudah bekerja di sana." Ucap Nicole dengan senyum. "Dia tidak akan bisa pergi jauh dari ku Mom, Meskipun dia pergi tapi ujung-ujungnya kembali kepadaku."


Liana hanya mengangguk. "Mom senang jika kamu baik-baik saja." Liana menyentuh bahu putranya. "Kami menunggumu pulang." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Nicole hanya mengangguk pria itu juga ingin segera bebas, karena dirinya sudah tidak tahan untuk menemui Carolline, teganya wanita itu membiarkannya dirinya tidak di jenguk, mekipun Nicole tahu itu mustahil, tapi setidaknya Carolline datang untuk memakinya dan memarahi nya. Tapi lihatlah wanita itu malah pergi tanpa memberi hukuman lebih dulu padanya.


"Aku akan datang padamu Aline." Gumam Nicole.


__ADS_2