
Udara pagi begitu sejuk dan hangat kala matahari sudah menunjukan sinarnya, kediaman nenek Caroline cukup sedikit riuh karena sang nenek terus saja berbicara dan tertawa.
Carolline yang melihat interaksi kedua orang yang berbeda generasi sangat jauh membuatnya hanya tersenyum. Tidak di sangka Nicole bisa mengambil hati neneknya dengan mudah.
Pagi sekali Nicole sudah kembali datang kediaman nenek, Carolline sampai tidak percaya jika Nicole sangat excited setelah mendapat jawaban tadi malam.
Ya, Carolline bersedia menikah dengan Nicole, wanita itu sudah memikirkan sejak lama sebelum Nicole bebas dan mendatanginya. Baginya Nicole adalah pria yang baik, hanya saja obsesi dan cintanya membuatnya melakukan kesalahan yang fatal.
"Aline." Nicole menyadarkan lamunan Caroline.
Pria itu berdiri di sisi Caroline menatapnya heran.
"Ada apa?" tanya Carolline yang merasa aneh.
"Kenapa melamun? sejak tadi nenek memanggilmu untuk meminta teh." Ucap Nicole yang memberi tahu. "Kamu memikirkan sesuatu?" Tanya Nicole dengan tatapan menyelidik.
Carolline menggeleng. "Maaf tadi aku sedikit melamun." Ucap Carolline.
Nicole menghela napas. "Nenek menunggumu." Ucapnya lagi.
Carolline membawa nampan berisikan teh hangat untuk nenek.
__ADS_1
Nicole mengikuti Carolline dari belakang. Pria itu seperti ekor yang selalu menempel pada pantat.
"Maaf nek, lama." Carolline memeberikan teh yang dia bawa.
"Kapan orang tua kalian datang?" Tanya nenek sambil menyesap teh hijau buatan Cucunya.
" Lusa nek, mereka datang lusa." Jawab Nicole.
Nenek hanya mengagguk saja. "Apa kalian keberatan jika menikah di sini?" Tanya si nenek dengan tatapan mata tuanya.
Carolline menatap Nicole begitu juga sebaliknya, mereka serempak menggeleng. "Tidak Nek, kami tidak keberatan. Justru Carol senang nenek bisa melihat Caroll menikah." Ucap wanita itu dengan bibir tersenyum.
Saat pernikahannya dengan Demas sang nenek memang tidak bisa hadir lantaran keadaan yang sudah tidak memungkinkan. Kini Carolline berniat untuk membahagiakan sang nenek yang sudah renta, dan semoga menjadi hari tuanya yang bahagia.
Nicole turun lebih dulu, dan membukakan pintu untuk calon istrinya, pria itu tersenyum saat Carolline mengucapkan terima kasih.
"Pulang tunggu aku, kunci mobil kamu saja yang bawa." Ucap Nicole sambil mengulurkan kunci mobilnya.
Entah kenapa Carolline tidak berpikiran sesuatu, wanita itu mengambil saja tanpa bertanya.
"Aku masuk dulu." Ucap Carolline.
__ADS_1
"Ya, hati-hati." Nicole menyentuh bahu Carolline dan memajukan kepalanya, kecupan sayang Nicole sematkan di kening wanitanya.
Carolline tampak menunduk malu, apalagi ada keryawan lain yang melihatnya.
"Bye.." Carolline melambaikan tangan dan segera masuk bersama karyawan lain. Nicole hanya tersenyum sambil menatap punggung Carolline yang perlahan menghilang.
Nicole menghubungi seseorang. "Saya sudah ada di lobby Kantor." Ucapnya pada seseorang diseberang sana yang terdengar terkejut.
"Baiklah, saya tunggu." Nicole mematikan sambungan telepon, dirinya meminta seseorang untuk mengantarkan apa yang dia butuhkan.
Sepuluh menit menunggu di lobby, orang yang Nicole tunggu tiba, begitu juga dengan direktur perusahaan.
"Sir maaf saya terlambat." Pria berusia 40 tahun itu tampak tidak enak hati, melihat pemilik perusahaan menunggunya.
"Tidak masalah, karena saya kebetulan ada urusan tadi." Jawab Nicole sambil memakai jas yang dibawakan orang suruhannya.
Pria yang sudah berkeringat itu menghela napas lega, dirinya benar-benar takut jika membuat atasanya marah.
Ketiganya berjalan memasuki lift menuju lantai CEO, karyawan yang berpapasan dengan pria yang menjabat sebagai direktur itu menunduk hormat. Tapi mereka tidak tahu dengan pria tampan yang berjalan beriringan. Karena Nicole memang baru pertama kali menginjakkan kakinya di perusahaan baru yang dirinya akuisisi hampir dua tahun ini.
Sampainya di lantai CEO, ketiga pria berjalan beriringan beberapa staf berdiri dan memberi hormat, termasuk sekretaris wanita yang cukup terkejut melihat Nicole berjalan dengan direktur perusahaan.
__ADS_1
"Carol, tolong buatkan minum untuk sir Nicole." Ucap direktur.
Nicole pun tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya membuat mata Carolline membulat sempurna.