
Pagi-pagi kelurga Demas begitu panik saat menerima panggilan telepon dari kantor polisi. Demas di larikan ke rumah sakit lantaran ditemukan pingsan didalam sel.
Betrik begitu panik begitu juga dengan Malik. Masalah Jane yang membawa kabur uang Demas belum pulang, dan sekarang Demas harus di larikan ke rumah sakit tahanan.
Sampainya di rumah sakit Malik masih menunggu dokter memeriksa Demas, ada pegawai sipir yang juga berjaga di area rungan Demas.
"Pah, bagaimana jika Demas kenapa-kenapa, kasihan dia Pah." Ucap Betrik dengan wajah khawatir dan panik.
"Berdoa saja, agar Demas tidak kenapa-kenapa." Malik merangkul bahu istrinya.
Tak lama dokter keluar dari UGD.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Betrik langsung bertanya.
"Anak anda terkena mengalami dehidrasi dan penurunan daya tahan tubuh. Jadi harus dirawat untuk beberapa hari."
Malik dan Betrik masuk keruangan Demas setelah diijikan dokter. Keduanya mendekati ranjang pasien dimana Demas sedang berbaring.
__ADS_1
"Demas." Betrik mengusap kepala putranya.
"Pah apa tidak bisa membebaskan Demas." Ucap Betrik menatap suaminya.
Malik menghela napas. Dirinya juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi ini adalah bentuk tangung jawab yang harus Demas lalui, dirinya sudah cukup malu di depan keluarga Carolline. Apalagi Dario sudah sama sekali tidak mau bertemu dengannya.
Malik pernah mendatangi rumah Dario, Malik meminta Dario agar mencabut tuntutan untuk Demas. Melihat putranya seperti itu, tentu saja Malik tidak tega.
Tapi Dario bersikeras dan tidak mau mengabulkan permintaan, itulah tanda seorang ayah yang sudah sakit hati melihat putrinya menderita dan kesakitan, untung saja mental Carolline cukup kuat, sehingga tidak membuat wanita itu sampai depresi dan stress.
Tubuh Demas yang gagah dan tampan kini sudah tidak terlihat, pria itu terlihat kurus dan kusut, apalagi wajahnya terdapat jerawat. Sungguh Betrik merasa kasihan melihat hidup putranya untuk saat ini.
Tidak ada lagi Demas yang tampan dan gagah, kini hanya ada Demas yang berbaring lemah.
Perusahaan yang Nicole tinggalkan hampir setahun, masih berjalan stabil. Tidak ada yang tahu jika Nicole berada di penjara, yang mereka tahu Nicole sendang ada bisnis ke negara lain. Sehingga kepemimpinan di pengang oleh Xander sang ayah.
Mekipun Nicole juga andil di setiap pergerakan perusahaannya, tetap saja mereka tahunnya Nicole berada di negara lain.
__ADS_1
Sedangkan untuk Carolline, wanita itu cukup bahagia melihat kedua orangtuanya yang datang mengunjunginya dan juga sang nenek. Carolline tidak menyangkal jika sang papa akan membela dirinya.
"Selama kasus berjalan, semua di tangani oleh kuasa hukum papa." Ucap Dario ketika mereka sedang duduk di ruang keluarga.
"Papa hanya ingin memberikan keadilan untuk mu, meksipun semua yang mereka terima tidak sebanding dengan apa yang kamu alami, tapi setidaknya mereka mendapat hukuman sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan." Ucap Dario lagi.
Carolline hanya bisa diam, melihat orang tuanya membelanya itu sudah cukup baginya.
"Terima kasih Pah." Ucap Carolline dengan tatapan terharu.
"Sekarang kamu harus lebih hati-hati jika ingin kembali membuka lembaran baru." Ucap Liana sang Mama. "Mama yakin kamu pasti akan menemukan pria yang menerima kekurangan mu." Tambahnya lagi.
Carolline hanya tersenyum. "Mungkin bicara lebih gampang Mah, tapi Carol tidak yakin dengan adanya pria seperti itu." Ucapnya dengan lirih.
Dario dan Liana saling pandang, apakah yang ada dipikiran mereka yang akan menjadi pilihan putrinya.
"Mungkin aku akan memberi kesempatan kedua, karena aku tidak ingin mengulangi hal yang menyakitkan itu lagi."
__ADS_1